Dalam kitab berjudul Mukasyafah al-Qulub, Imam Ghazali menuliskan sebuah cerita berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw  begini:

Syahdan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw.  berkisah kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki Bani Israil bernama Syam’un yang suka berperang melawan orang-orang kafir selama seribu bulan tanpa henti. Kekuatan dan keberaniannya di medan perang sering membuat musuh-musuhnya ketakutan bukan kepalang.

Pada suatu hari, utusan orang-orang kafir datang mengunjungi istrinya. Mereka  mengiming-imingi istrinya dengan hadiah perhiasan emas bila istrinya dapat mengikat suaminya. Menurut perkiraan mereka, Syam’un dapat dengan mudah ditangkap bila dalam keadaan terikat. Rayuan itu pun diterima istri Syam’un.

Ketika Syam’un sedang tertidur, sang istri diam-diam mengikat badanya dengan tali. Namun, tatkala Syam’un bangun, ia dengan mudahnya memutuskan tali-tali yang mengikat tubuhnya.

“Apa maksudmu berbuat demikian kepadaku?” tanya Syam’un, heran dan tidak mengerti kepada istrinya.

“Aku hanya ingin menguji kekuatanmu,” jawab istrinya, pura-pura.

Istrinya kemudian memberitahu orang-orang kafir perihal kegagalannya. Lalu, mereka memberi rantai kepada istri Syam’un dan memerintahkanya kembali agar mengikat suaminya dengan rantai itu. Istri Syam’un segera menunaikannya. Akan tetapi, sebagaimana peristiwa sebelumnya, Syam’un, lagi-lagi, dengan mudah memutuskan rantai besi yang mengikat tubuhnya.

Dalam kondisi inilah, Iblis mendatangi kaum kafir. Sang iblis berkata kepada mereka agar memerintahkan istri Syam’un untuk bertanya kepada suaminya di mana letak kelemahannya. Setelah dibujuk, Syam’un mengatakan kepada  istrinya bahwa kelemahannya ada pada delapan jambul di kepalanya.

Tatkala Syam’un tidur, istrinya memotong delapan jambul suaminya itu, lalu mengikatkannya pada tubuhnya. Empat jambul digunakan untuk mengikat tangan dan empat jambul yang lain untuk mengikat kakinya. Setelah itu, Syam’un tidak mampu melepaskan dirinya dari ikatan tersebut karena itulah memang kelemahanya.

Akhirnya, orang-orang kafir dapat menangkap Syam’un. Lalu, mereka menyiksanya. Telinga dan bibir Syam’un dipotong dan badannya  digantung di suatu tiang yang sangat tinggi. Syam’un tidak henti-henti berdoa kepada Allah swt. agar diberi kekuatan untuk melepaskan diri dari penyiksaan musuh-musuhnya.

Allah mengabulkan do’a Syam’un, hingga ia dapat melepaskan diri dari tali-tali yang menjerat dirinya dan menghancurkan  tiang yang dipakai untuk menggantungnya. Semua kaum kafir pun mati tertimpa tiang tersebut.

Para sahabat Rasulullah saw. sangat kagum mendengar cerita itu. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, dapatkah kami meraih pahala sebagaimana yang diperoleh Syam’un?” “Aku sendiri tidak tahu,” jawab Rasulullah saw.

Kemudian beliau berdoa, “Tuhanku, Eng­kau telah menjadikan umatku orang-orang yang pendek usia dan sedikit dalam beramal.” Dan Allah pun mengabulkan doanya  dengan memberi malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang dipakai Syam’un untuk berjihad di jalan-Nya. Pemberian keutamaan Lailatul Qadar itu,  kemu­dian terabadikan dalam wahyu Allah, surah al-Qadr, ayat 2-5.

Lailatul Qadar. Ka­ta ini begitu populer di bulan Ramadhan. Setiap orang yang berpuasa pasti sangat mendambakan Lailatul Qadar. Para hamba Allah sangat berharap bahwa dialah salah satu hamba-Nya yang yang layak mereguk malam mulian ini bulan Ramadhan. Masing-masing berlomba agar meraih  satu malam penuh mustajabah  ini, yakni malam dimana doa-doa dan segala permintaan langsung dikabulkan Ilahi. Inilah malam yang menjadi misteri Allah Azza wa Jalla. Terlebih-lebih, Dia sendiri yang menjanjikannya.

Secara harfiah (ba­ha­sa), kata lailatul qadar terdiri dari dua kata, lailah dan al-qadar. Kata lailah berarti malam, sementara al-qadar makna aslinya adalah ukuran. Namun, para ulama banyak menerjemahkan kata al-qadar menjadi mulia. Jadi, lailatul qadar itu berarti malam yang penuh kemuliaan.

Ada beberapa alasan kenapa malam ini menjadi begitu istimewa? Pertama, sebab  pada malam lalilatul qadar bertepatan dengan diturunkannya al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. Sebagimana Allah swt. sendiri telah nyatakan dalam satu firman: “Sesunguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar).” (QS. Al-Qadr: 1)

Kedua, Anas bin Malik, salah seorang sahabat Rasulullah menyatakan bahwa nilai utama lailatul qadar— sebagimana tertuang dalam ayat ke-3 surah al-Qadr —adalah amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, zikir dan bersedekah yang dikerjakan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal perbuatan selama seribu bulan (83 tahun le­bih 4 bulan) pada malam-malam yang lain. Atau bayangkan perbandinganya antara pahala Syam’un dengan pahala lailatul qadar.

Ketiga, pada malam lailatul qadar, para malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al-lail (bangun di tengah malam untuk beribadah) dan melakukan zikir, mulai dari malaikat Jibril hingga malaikat-malaikat lainnya. Demikian yang tertulis dalam ayat 4, surah al-Qadr. Saat itu, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah dikatakan, ketika para malaikat turun ke bumi, pintu-pintu langit yang terbuka memancarkan cahaya. Bagi orang yang terbuka hijabnya, ia dapat melihat malaikat yang sedang berdiri, rukuk, dan sujud kepada Allah swt. sambil berzikir. Di antara mereka ada yang dapat melihat surga dan neraka dengan segala isinya. Wallahu’alam bilshawab.

Ya, inilah malam ketika Allah swt. mengabulkan segala permohonan para hamba-Nya dan menerima taubat mereka yang bertaubat.  Nabi sendiri bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qadr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridhaan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang lebih menarik, tanda-tanda kedatangan malam lailatul qadar itu sendiri kadang-kadang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya. Sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Pada saat terjadinya lailatul qadar itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya, matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan.”

Lalu, pertanyaanya: siapakah yang mampu melihat tanda-tanda itu? Siapakah yang berhak mendapatkan malam seribu bulan ini? Dapatkah kita  mengenali kehadiran lailtaul qadar? Kapankah lailatul qadar itu datang?

Berdasarkan sabda yang disampaikan Rasulullah saw., ada beberapa versi tentang saat-saat lailatul qadar mengunjungi hamba Allah yang terpilih. Diantaranya; pertama, Lailatul qadar terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya al-Qur’an. Hal ini sebagaimana pernah disampaikan oleh Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Zubair ra. (HR Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhari).

Kedua, lailatul qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah saw, “Carilah lailatul  qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Baihaqi)

Ketiga, Lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhari dan Muslim.

Keempat, Lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

 Kelima, Lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al-Khaththab, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailatul al qadar terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.

Keenam, menurut Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, terjadinya lailatul qadar mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Berdasarkan riwayat-riwayat hadits di atas, banyak umat Nabi Muhammad saw. berlomba-lomba dalam beribadah. Pada waktu-waktu itu, mereka berharap nikmat lailatul qadar ada di pangkuannya. Memang, tidak bisa bisa dipungkiri, kalau saat-saat tertentu itu, lailatul qadar begitu ditunggu-tunggu. Karena, toh, memang hadits-hadits Nabi banyak menyokongnya. Selain itu,  adalah hal yang wajar dan lumrah bila di antara kita selalu menghubung-hubungkan malam lailatul qadar dengan adanya pelipatan barakah dan nikmat yang tiada terhitung. Karena, memang manusia lebih senang, bila beberapa kepentingannya dapat dikabulkan Yang Maha Kuasa.  Namun, pada titik ini, menurut hemat penulis, makna lailatul qadar menjadi sempit dan tidak menyentuh hakekat sejatinya.

Bahkan, bila bersandarkan —semata-mata— mengejar kelebihan-kelebihan yang ada pada satu malam lailatul qadar sangat rentan menjebak seseorang ke dalam amal ibadah puasa yang permukaan. Ia bukan lagi beribadah karena niat mengejar ridha Allah, namun tergiur dengan keutamaan-keutamaan lailatul qadar. Terlebih-lebih, Allah sendiri tidak pernah menyinggung secara gamblang perihal ketepatan datangnya lailatul qadar. Dan Dia pun tidak membicarakan tanda-tanda alam ketika lailatul qadar itu datang. Kenapa? Karena lailatul qadar adalah sebuah teka-teki yang hanya diketahui Allah swt. Tidak aneh bila ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa seluruh bulan Ramadhan adalah waktu untuk mendapatkan lailatul qadar.

Oleh karena itu, kaum muslim hendaknya beribadah setulus mungkin sepanjang bulan suci Ramadhan dengan tidak membedakan satu malam dengan malam lainnya. Dengan cara seperti inilah, setiap hari pada bulan puasa memiliki arti yang tidak boleh diabaikan satu hari pun. Sehingga, pengertian lailatul qadar menjadi luas dan bermakna. Ia dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah swt. dimana pun dan kapan pun kita berada, tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu yang selama ini dipahami. Bukankah dengan begitu, setiap muslim menjadi pribadi yang saleh bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, tapi juga pada bulan-bulan mendatang. Amin. Wallahu’alam bil shawab. (Muaz/dari berbagai sumber).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.