I do my things and styles, and you do your things and styles. I am not in this world to live up to your dreams and expectations, and you are not in this world to live up to mine. You are you and yours, so I am I and mine. And if by chance we find each other, it is beautiful.

Kumainkan peran dan gayaku sendiri, dan kalian mainkan peran dan gaya kalian sendiri. Aku tidak terlahir ke dunia ini tidak untuk penuhi mimpi dan angan kalian; dan kalian pun berperan tidak hanya untuk penuhi mimpi dan anganku. Akulah aku dan segala yang kumiliki, dan kalianlah kalian dengan semua yang kalian miliki. Namun, bila ada kesamaan di antara kita, betapa indahnya”

Rangkaian kalimat puitis di atas ditulis oleh seorang ulama sufi Betawi terkemuka, KH. Abdurrahim Radjiun bin Mualim Radjiun Pekojan. Kalimat-kalimat puitis tersebut lahir dari kegelisahannya tentang kondisi umat Islam yang layaknya seperti buih di lautan: jumlahnya banyak, tapi tidak memliki kekuatan. Banyak, tapi tidak bersatu, terpecah belah, berkelompok-kelompok Masing-masing kelompok memiliki agenda, peran dan gayanya sendiri. Baginya, kondisi ini bukan harus diratapi, tetapi harus diambil hikmahnya dengan menjadikan banyaknya paham dan kelompok dalam tubuh umat Islam sebagai sebuah mozaik yang berwarna warni dan indah dipandang: how colourful the rainbow of Islam!

Sumber warna warni yang membuat indah ini, yang merekatkan perbedaan, menurutnya,  tidak lain adalah Al-Qur`an. Semua tentu sepakat Al-Qur`an sebagai sumber utama ajaran Islam, menjadi imam yang harus diikuti. Namun pada kenyataannya sebagian alim ulama dan para pemimpin umat, tanpa disadari, menjauhakan umat dari imamnya, dari Al-Quran. Lihatlah umat agama lain: dari pemimipin agamanya sampai jamaahnya membawa kitab sucinya yang sama di saat melakukan pembinaan agama. Tetapi, sebagaian alim ulama dan pemimpin umat Islam ketika memberikan pengajian, tidak Al-Qur`an dulu yang dibacakan, dikaji, diperdalam dan dipahami; tetapi langsung kepada kitab-kitab dan buku-buku yang umat tidak memilkinya dan belum mampu membacanya dalam bahasa Arab.

Alim ulama dan para pemimpin umat Islam seharusnya menjadi pihak pertama yang paling meyakini dan membuktikan Al-Quran sebagai imam yang harus diikuti karena merupakan petunjuk, penjelas dan obat atau solusi utama bagi penyakit dan persoalan-persoalan umat manusia. Keyakinan dan pembuktian ini yang sekarang kurang dirasakan oleh umat sehingga sebagian umat Islam menjadi ragu untuk menjadikan Al-Quran sebagai imam, petunjuk, penjelas dan obat atau solusi utama.

Akibat dari jauhnya umat dari kepemimpinan Al-Qur`an, khususnya di Indonesia, maka timbul tiga krisis, yaitu: pertama, krisis kepemimpinan yang Qurani. Krisis ini telah memberi saham besar bagi keterpurukan kaum muslimin pada polikultural di berbagai lini, nyaris belum terdengar lagi suara hati seorang pemimpin yang berani, jujur dan sekaligus teduh, untuk sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan umat. Di tanah air, sederet panjang keluh umat mengenai torehan dan manuver sebagian para pemimpin yang repot merajut kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri, telah menjadikan ukhuwah Islamiah sebagai barang langka yang sulit ditemukan Perbedaan pendapat internal, yang oleh Rasulullah SAW dijadikan formula untuk mengundang rahmat Allah SWT, kini telah menjadi condition sine quanon, syarat mutlak yang tidak dapat dielakkan untuk mencapai tujuan, meskipun harus menghadapi risiko perpecahan dan terpecahnya persatuan. Namun kita masih patut bersyukur karena  masih ada alim ulama dan  orang-orang shalih yang  menyimpan nurani jernih untuk selamatan umat walau jumlah dan keberadaan mereka hanya bagai selembar benang hitam pada hamparan karpet merah.

Kedua, krisis uswah, keteladanan. Krisis ini merupakan dampak langsung dari krisis pertama,  sehingga umat tidak dapat memilih dengan baik dan benar, siapa sesungguhnya yang dapat dijadikan cetak biru keteladanan Rasulullah SAW. Sementara dinamika dan kompleksitas persoalan yang dihadapi ummat bergerak inci demi inci dan semakin mengkhawatirkan. Kita sudah tidak mampu membendung amuk pornografi, pornoaksi dan persoalan-persoalan kultural yang terus menyerang umat di berbagai lini, dengan daya rusak yang teramat hebat, mencekik semua usia.

Ketiga, krisis silah, persenjataan. Dalam pandangan Islam, senjata paling tangguh, bukanlah jenis persenjataan dengan amunisi yang dapat mematikan, tapi senjata yang paling hebat adalah doa, dengan muatan amunisi yang dapat menjadikan hidup lebih hidup; terutama doa-doa yang terdapat di dalam Al-Quran. Kita  pun sudah terlalu lama terlena oleh pengertian berdoa hanya dengan mengangkat tangan ke atas, dengan isak tangis dan terluncur rayuan cantik dari lidah tak bertulang ini, sehingga terbersit kesan bahwa doa-doa kita hanyalah permainan retorika agar raih belas kasih Allah SWT. Sebaliknya, kita tidak berani artikan doa dengan membalikkan tangan ke bawah untuk angkat umat, utamanya kaum marginal, dengan melihat kenyataan bahwa mereka terhuyung bahkan sebagian besar telah menggelepar, menghadapi kehidupan sehari-hari yang semakin menakutkan:  harga sembako terus naik, sementara harga diri terus merosot.

Ahir kalam, mari kita memasuki wilayah quraniyah secara total, yakinlah bahwa Al-Quran adalah imam kita, dan kita pun tunduk secara total di bawah kepemimpinan Al-Quran. Jangan takut miskin, susah, terpinggirkan, menderita bahkan terbunuh karena kita menjadikan Al-Quran sebagai imam. Bukankah Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 111:” Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah (surga) untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah ; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Rakhmad Zailani Kiki)

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of