Panduan Shalat Jumat Selama Covid-19 (Dok: MUI DKI)

Jakarta – Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta menggelar rapat pada Selasa (2/6/2020) membahas tentang Hukum dan Panduan Shalat Jum’at lebih dari satu kali pada saat Pandemi Covid-19.

Rapat yang dipimpin Ketua Bidang Fatwa KH Zulfa Mustofa MY itu memutuskan hukum dan panduan Ta’addud Al-Jumuah selain di Masjid selama Pandemi Covid-19.

Pertama, Ketentuan Umum ta’addud al-jumuah adalah pelaksanaan shalat Jumat lebih dari satu kali, baik dilakukan dalam satu masjid atau banyak masjid. Kemudian yang dimaksud tempat selain masjid adalah tempat yang dianggap layak untuk menyelenggarakan shalat jumat seperti mushalla, aula, lapangan, dan tempat lain.

Kedua, Ketentuan Hukum yaitu menyelenggarakan shalat Jum’at tidak dilakukan di masjid jami’, misalnya di mushalla, aula atau tempat lain yang suci dan layak, hukumnya boleh dan sah, dengan ketentuan dilaksanakan di waktu dzuhur, didahului dua (2) khutbah jum’at yang memenuhi ketentuan dan jumlah jama’ah shalat Jumat minimal 40 orang laki-laki dewasa

Selanjutnya, menyelenggarakan shalat Jumat dalam situasi pandemi covid-19 di mana kapasitas masjid hanya boleh diisi 40% jama’ah yang menyebabkan masjid tidak cukup menampung jama’ah, maka shalat jum’at boleh dilakukan dengan ketentuan Ta’addud al-jumuah lebih dari satu masjid dalam satu kawasan, Shalat jum’at boleh dilakukan dua shift dalam satu masjid dengan imam dan khotib berbeda, Apabila klausul a tidak bisa dilakukan, maka pelaksanaan shalat jum’at pindah menerapkan klausul, Apabila klausul a dan b tidak bisa dilaksanakan, maka shalat jum’at diganti dengan shalat dzuhur.

Rekomendasi yang dihasilkan pada rapat itu:

1. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berperan aktif menciptakan suasana kondusif dalam pelaksanaan kegiatan ibadah pada masa New Normal Life;
2. Pengurus masjid dan majelis taklim hendaknya menerapkan protokol kesehatan Covid-19;
3. Para ustadz/ustadzah, mubaligh, dai, dan khotib berpatisipasi untuk mengedukasi masyarakat agar bertindak bijak menghadapi New Normal Life sesuai protokol kesehatan;
4. Umat Islam DKI Jakarta tetap berusaha menjaga kesehatan dan kebersihan, serta berkoordinasi dengan pihak terkait dalam kegiatan ibadah dan majelis taklim.

Berikut isi lengkap Fatwa MUI DKI Jakarta Nomor: 05 Tahun 2020:

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA PROVINSI

DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Nomor: 05 Tahun 2020

Tentang

HUKUM DAN PANDUAN SHALAT JUM’AT LEBIH DARI SATU KALI PADA SAAT PANDEMI COVID-19

Bismillahirrahmanirrahim

Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta dalam rapatnya yang berlangsung pada hari Selasa, 10 Syawal 1441 H/02 Juni 2020 M yang membahas tentang Hukum dan Panduan Shalat Jum’at lebih dari satu kali pada saat Pandemi Covid-19, setelah:

MEMBACA      : Surat dari Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 469/-0.856 perihal

Permohonan Panduan Pelaksanaan Peribadatan dan Kegiatan Keagamaan

MENIMBANG:

  1. Virus corona tipe 2 (SARS-CoV-2) penyebab COVID-19 di DKI Jakarta menjadi ancaman serius bagi kehidupan warganya;
  2. Belum ditemukan obat dan vaksin yang benar-benar efektif mengobati covid-19;
  3. Kebijakan Pengendalian Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang dipatuhi warga berhasil mengendalikan dan menurunkan penyebaran covid-19;
  4. Rencana kebijakan tatanan kehidupan baru (New Normal Life) dari Pemerintah dengan mengeluarkan aturan terkait tata cara ibadah di masjid, musholla, majelis taklim dan lainnya dengan syarat memenuhi protokol kesehatan covid-19.
  5. Kebijakan protokol kesehatan akan berakibat masjid-masjid di DKI Jakarta tidak mampu menampung keseluruhan jamaah shalat Jumat;
  6. Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta memandang perlu menetapkan Fatwa Hukum dan Pedoman tentang Hukum dan Panduan Shalat Jum’at Lebih dari Satu Kali Pada Saat Pandemi Covid-19.

MENGINGAT

  1. Firman Allah SWT, antara lain:
  2. Al-Jumu’ah [62]: 9

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُواْ الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

  1. Al-Baqarah [2]: 195

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

  1. Al-Hajj [22]: 78

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”

  1. An-Nisa` [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ …

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.

  1. Hadits Nabi SAW, antara lain:
  2. Hadits Riwayat Imam Abu Dawud

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ  إِلاَّ أَرْبَعَةٍ عَبْدِ مَمْلُوكٍ ، أْوِ امْرَأَةٍ ، أَوْ صَبِىٍّ ، أَوْ مَرِيضٍ

”Shalat Jumat itu hak yang wajib bagi setiap muslim secara berjamaah kecuali empat orang yaitu budak yang dimiliki, perempuan, anak kecil, dan orang sakit”

  1. Hadits Riwayat Ahmad

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

  1. Hadits Riwayat al-Baihaqi

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كُنْتُ قَائِدَ أَبِى حِينَ كُفَّ بَصَرُهُ فَإِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الأَذَانَ بِهَا اسْتَغْفَرَ لأَبِى أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ. فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ فَقُلْتُ : إِنَّ عَجْزًا أَنْ لاَ أَسْأَلَهُ عَنْ هَذَا فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ فَلَمَّا سَمِعَ الأَذَانَ بِالْجُمُعَةِ اسْتَغْفَرَ لَهُ فَقُلْتُ : يَا أَبَتَاهُ أَرَأَيْتَ اسْتِغْفَارَكَ لأَسَعْدَ بْنِ زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ الأَذَانَ بِالْجُمُعَةِ قَالَ : أَىْ بُنَىَّ كَانَ أَسْعَدُ أَوَّلَ مَنْ جَمَّعَ بِنَا بِالْمَدِينَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ الْخَضَمَاتُ قُلْتُ : وَكَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ : أَرْبَعُونَ رَجُلاً

“Dari Abdurrahman Bin Ka’b Bin Malik ia berkata; ‘Aku adalah penuntun jalan ayahku pada saat beliau menjadi buta. Apabila aku keluar bersama beliau untuk untuk menunaikan shalat  Jum’at lalu beliau mendengar Adzan maka beliau memintakan ampun untuk Abu Umamah As’ad bin Zurarah. Maka selama beberapa saat aku mendengar hal itu dari beliau, kemudian aku bergumam; Sesungguhnya sebuah kelemahan jika  aku tidak menanyakan hal ini kepada beliau. Maka aku keluar bersama beliau sebagaimana biasanya. Tatkala beliau mendengar Adzan Jum’at beliau memintakan ampun untuknya. Maka aku bertanya; Wahai ayah, kenapa engkau beristighfar untuk As’ad  bin Zurarah setiap kali engkau mendengar Adzan Jum’at? Beliau menjawab; wahai putraku, As’ad adalah orang yang pertama kali menyelenggarakan Shalat  Jum’at bersama kami di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah SAW  bertempat di sebuah tanah rendah dari tanah tak berpasir milik Bani Bayadhoh di kawasan tempat berair yang bernama  Al- Khodhomat. Aku pun lantas bertanya; berapa jumlah kalian waktu itu? Ayahku menjawab; empat puluh lelaki’”.

  1. Kaidah Fikih
Baca Berita Lainnya :   Tasyakuran dan Peresmian Sekretariat LPPOM MUI DKI Jakarta

 دَرْأُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mafsadah didahulukan dari pada mencari kemaslahatan”

اَلضَّرَرُ يُزَالُ

“Bahaya harus dihilangkan”

اَلضَّرُورَةُ تُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا

“Ketentuan kedaruratan harus disesuaikan dengan sekedarnya”

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

MEMPERHATIKAN

Pendapat para ulama, antara lain:

  1. Pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Al-Syafii, dan mayoritas ulama sebagaimana dijelaskan di dalam kitab ‘Aun al-Ma’bud Syarhu Sunan Abi Dawud sebagai berikut;

وَذَهَبَ البَعْضُ إِلَى اشْتِرَاطِ الْمَسْجِدِ قَالَ لِأَنَّهَا لَمْ تُقَمْ إِلَّا فِيهِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَسَائِرُ العُلَمَاءِ إِنَّهُ غَيْرُ شَرْطٍ وَهُوَ قَوِيٌّ

“Sebagian ulama mempersyaratkan masjid sebagai tempat pelaksanaan shalat Jumat. Sebab, menurut mereka shalat Jumat tidak didirikan kecuali di masjid. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, Imam Al-Al-Syafi’i dan mayoritas ulama bahwa masjid bukan syarat bagi pelakasanaan shalat Jumat. Ini adalah pendapat yang kuat.” (Muhammad Syamsul Haq Abadi, ’Aun al-Ma’’ud Syarhu Sunani Abi Dawud, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet ke-2, 1415 H, juz, III, h. 281).”

  1. Pendapat Madzhab Al-Al-Syafi’i sebagaimana dikemukakan Muhammad al-Khathib asy-Syarbini di dalam Mughni al-Muhtaj sebagai berikut;

( الثَّالِثُ ) مِنْ الشُّرُوطِ ( أَنْ لَا يَسْبِقَهَا وَلَا يُقَارِنَهَا جُمُعَةٌ فِي بَلْدَتِهَا ) وَلَوْ عَظُمَتْ كَمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءَ الرَّاشِدِينَ لَمْ يُقِيمُوا سِوَى جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ ، وَلِأَنَّ الِاقْتِصَارَ عَلَى وَاحِدَةٍ أَفْضَى إلَى الْمَقْصُودِ مِنْ إظْهَارِ شِعَارِ الِاجْتِمَاعِ وَاتِّفَاقِ الْكَلِمَةِ . قَالَ الشَّافِعِيُّ : وَلِأَنَّهُ لَوْ جَازَ فِعْلُهَا فِي مَسْجِدَيْنِ لَجَازَ فِي مَسَاجِدِ الْعَشَائِرِ ، وَلَايَجُوزُ إجْمَاعًا ( إلَّا إذَا كَبُرَتْ ) أَيْ الْبَلْدَةُ ( وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَان ) بِأَنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَحَلِّ الْجُمُعَةِ مَوْضِعٌ يَسَعُهُمْ بِلَا مَشَقَّةٍ وَلَوْ غَيْرَ مَسْجِدٍ فَيَجُوزُ التَّعَدُّدُ لِلْحَاجَةِ بِحَسَبِهَا ، لِأَنَّ الْإِمَامَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ دَخَلَ بَغْدَادَ وَأَهْلُهَا يُقِيمُونَ بِهَا جُمُعَتَيْنِ ، وَقِيلَ : ثَلَاثًا فَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ فَحَمَلَهُ الْأَكْثَرُونَ عَلَى عُسْرِ الِاجْتِمَاعِ

“Yang ketiga dari syarat sahnya pelaksanaan shalat Jumat adalah tidak didahului dan berbarengan dengan shalat Jumat lain dalam satu kawasan (baldah) meskipun kawasan tersebut luas sebagaimana pendapat Imam Al-Al-Syafi’i. Sebab, Nabi SAW dan khulafaur rasyidin tidak pernah mengadakan shalat Jumat melebihi satu kali dalam satu kawasan. Hal ini selaras dengan tujuan shalat Jumat itu sendiri yaitu memperlihatkan syi’ar persatuan umat Islam. Menurut Imam Al-Syafi’i, apabila boleh mengadakan shalat Jumat di dua masjid (dalam satu kawasan, pent) maka boleh juga mengadakan di masjid-masjid kabilah. Padahal menurut ijmak (konsesnsus ulama) hal tersebut tidak boleh kecuali kawasan tersebut luas dan sulit mengumpulkan jamaah shalat Jumat pada satu tempat. Seperti tidak tersedianya tempat yang memadai untuk menampung shalat Jumat dengan tanpa adanya kesulitan walaupun bukan masjid sehingga boleh melaksanakan jumatan lebih dari satu dalam satu kawasan karena adanya kebutuhan (hajat). Imam Al-Syafi’i pernah mengunjungi kota Baghdad dan melihat penduduknya mengadakan dua shalat Jumat (dalam satu kawasan, pent), dan diriwayatkan dalam pendapat lain tiga shalat Jumat, namun beliau tidak mengingkari hal tesebut. Sikap Imam Al-Syafi’i yang demikian itu, dipahami mayoritas ulama madzhab Al-Syafi’i dalam konteks adanya kesulitan mengumpulkan jamaah shalat Jumat dalam satu tempat.” (Muhammad asy-Syarbini al-Khathib, Mughi al-Muhtaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, I, h. 281).”

  1. Pendapat Abdul Wahhab asy-Sya’rani tentang alasan pelarangan dan kebolehan ta’addud al-jumuah yang dikemukakan dalam kitab al-Mizan al-Kubra sebagai berikut:

وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَعَدُّدُ الْجُمُعَةِ فِي بَلَدٍ إِلَّا إِذَا كَثَرُوا وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ … وَوَجْهُ الْأَوَّلِ أَنَّ إِمَامَةَ الْجُمُعَةِ مِنْ مَنْصَبِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ، فَكَانَ الصَّحَابَةُ لَا يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ إِلَّا خَلْفَهُ. وَتَبَعَهُمُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ عَلَى ذَلِكَ. فَكَانَ كُلُّ مَنْ جَمَعَ بِقَوْمٍ فِي مَسْجِدٍ آخَرَ خِلَافَ الْمَسْجِدِ الَّذِي فِيهِ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ يُلَوِّثُ النَّاسُ بِهِ وَيَقُولُونَ: إنَّ فُلَانًا يُنَازِعُ فِي الْإِمَامَةِ. فَكَانَ يَتَوَلَّدُ مِنْ ذَلِكَ فِتَنٌ كَثِيرَةٌ، فَسَدَّ الْأَئِمَّةُ هَذَا الْبَابَ إِلَّا لِعُذْرٍ يَرْضَى بِهِ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ، كَضَيْقِ مَسْجِدِهِ عَنِ جَمِيعِ أَهْلِ الْبَلَدِ. فَهَذَا سَبَبُ قَوْلِ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَعَدُّدُ الْجُمُعَةِ فِي الْبَلَدِ الْوَاحِدِ إِلَّا إِذَا عَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ. فَبُطْلَانُ الْجُمُعَةِ الثَّانِيَةِ لَيْسَ لِذَاتِ الصَّلَاةِ وَإِنَّمَا ذَلِكَ لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ … فَلَمَّا ذَهَبَ هَذَا الْمَعْنَى الَّذِى هُوَ خَوْفُ الْفِتْنَةِ مِنْ تَعَدُّدِ الْجُمُعَةِ جَازَ التَّعَدُّدُ عَلَى الْأَصْلِ فِي إِقَامَةِ الْجَمَاعَةِ وَلَعَلَّ ذَلِكَ مُرَادُ دَاوُدَ بِقَوْلِهِ إِنَّ الْجُمُعَةَ كَسَائِرِ الصَّلَواتِ وَيُؤَيِّدُهُ عَمَلُ النَّاسِ بِالتَّعَدُّدِ فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ مِنْ غَيْرِ مُبَالَغَةٍ فِي التَّفْتِيشِ عَنْ سَبَبِ ذَلِكَ وَلَعَلَّهُ مُرَادُ الشَّارِعِ وَلَوْ كَانَ التَّعَدُّدُ مَنْهِيًّا عَنْهُ لَا يَجُوزُ فِعْلُهُ بِحَالٍ لِوُرُودِ ذَلِكَ وَلَوْ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ فَلِهَذَا نَفَذَتْ هِمَّةُ الشَّارِعُ فِي التَّسْهِيلِ عَلَى أُمَّتِهِ فِي جَوَازِ التَّعَدُّدِ فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ حَيْثُ كَانَ أَسْهَلَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْجَمْعِ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ

“Di antara pendapat yang diperselisihkan adalah pendapat Imam Empat yang menyatakan bahwa tidak boleh mengadakan shalat jumat lebih dari satu kali (ta’addud al-jumu’ah) dalam satu kawasan kecuali ketika jumlah penduduknya banyak dan sulit berkumpul dalam satu tempat… Alasan pendapat pertama adalah bahwa imam shalat Jumat termasuk kewenangan al-Imam al-A’zham (kepala tertinggi pemerintahan), maka para sahabat tidak pernah melaksanakan shalat Jumat kecuali di belakangnya. Al-khulafa’ ar-rasyidun pun mengikuti mereka dalam praktek tersebut. Sebab itu, setiap orang yang mengimami suatu kaum dalam pelaksanaan shalat Jumat di masjid lain selain masjid yang digunakan al-imam al-a’zham pasti mendapat perhatian yang besar dari masyarakat dan mereka berkata: “Dia melawan pemerintahan yang sah”. Dari sinilah kemudian muncul berbagai fitnah dan para ulama membatasi kebolehan boleh ta’addud al-Jumu’ah kecuali karena uzur yang diperbolehkan oleh al-imam al-a’zham. Inilah sebab pendapat para ulama yang melarang boleh ta’addud al-Jumu’ah dalam satu kawasan kecuali ketika mereka sulit berkumpul dalam satu tempat. Maka batalnya shalat Jumat yang kedua bukan karena shalatnya itu sendiri dzat ash-shalat), akan tetapi karena kekhawatiran terjadinya fitnah.

Maka ketika substansi pelarangan mengadakan jumatan lebih dari satu tempat (ta’addud al-jumu’ah) ini hilang, yaitu kekhawatiran fitnah, maka boleh mengadakannya sesuai dengan hukum asal pendirian shalat jamaah. Yang demikian ini barang kali yang dimaksudkan oleh Imam Dawud dalam statemennya; ‘Sesungguhnya shalat Jumat seperti shalat-shalat lainnya’. Kesimpulan ini dikuatkan dengan fakta bahwa terjadi pelaksanaan jumatan lebih dari satu tempat di berbagai kawasan tanpa berlebihan dalam meneliti penyebabnya. Barangkali ini yang dikehendaki syari’at. Andaikan pelaksanaan shalat jumat lebih dari satu tempat dalam satu kawasan dilarang, niscaya tidak diperkenankan sama sekali dan ada hadits yang melarangnya, meski hanya satu hadits. Oleh karena itu maka semangat (himmah) Rasulullah saw sebagai pembawa syariat senantiasa berlaku untuk memudahkan umat Islam dalam kebolehan ta’addud al-jumu’ah di berbagai kawasan sekiranya hal tersebut lebih memudahkan mereka dibandingkan dengan berkumpul dalam satu tempat Jumat.” (Abdul Wahhab asy-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah, tt, juz, I, h. 209-210).”

  1. Penjelasan Syaikh Al-Nawawi al-Bantani dalam kitab Suluku al-Jaddah fi Bayani al-Jumu’ah atas pendapat Imam Syafii mengenai jumalah jamaah sebagai keabasahan shalat Jumat sebagai berikut:
Baca Berita Lainnya :   Saat Ulama 16 Negara Berbincang Seputar Dakwah Ibukota

فَأَقُولُ: اَلْحَاصِلُ مِمَّا تَقَدَّمَ) أَيْ مِنْ تِلْكَ الْأَجْوِبَةِ: (أَنَّ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْعَدَدِ الَّذِي تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمُعَةُ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ. قَوْلٌ مُعْتَمَدٌ وَهُوَ الْجَدِيدُ، وَهُوَ كَوْنُهُمْ أَرْبَعِينَ بِالشُّرُوطِ الْمَذْكُورَةُ) أَيْ فِي كُتُبِ الشَّافِعِيَّةِ، (وَثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ فِي اْلَمْذهَبِ الْقَدِيمِ ضَعِيفَةٌ. أَحَدُهَا: أَرْبَعَةٌ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ)، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِأَبِي حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيِّ وَاللَّيْثِ. (وَالثَّانِي: ثَلَاثَةٌ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ)، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِأَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ وَالْأَوْزَعِيُّ وَأَبِي ثُورٍ. (وَالثَّالِثُ: اثْنَا عَشَرَ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ) وَهَذَا مُوَافِقٌ لِرَبِيعَةَ وَالزُّهْرِيِّ وَالْأَوْزَعِيِّ وَمُحَمَّدٍ … (إِذَا عُلِمَ ذَلِكَ) أَيِ الْمَذْكُورُ مِنِ انْعِقَادُ الْجُمُعَةِ بِأَحَدِ هَذِهِ الْأَقْوَالِ الْأَرْبَعَةِ، (فَعَلَى الْعَاقِلِ الطَّالِبِ مَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى) مِنْ ثَوَابِهِ وَرِضَاهُ (أَنْ لَا يَتْرُكَ الْجُمُعَةِ) بِالْكُلِّيَّةِ (مَا تَأَتَّى) أَيْ أَمْكَنَ (فِعْلُهَا عَلَى وَاحِدٍ مِنَ الْأَقْوَالِ) أَيِ الْأَرْبَعَةِ. فَمَا مَصْدَرِيَّةٌ ظَرْفِيَّةٌ، أَيْ مُدَّةَ سُهُولَةِ فِعْلُهَا عَلَى ذَلِكَ.

“Aku-Syekh Salim al-Khudhari-menyatakan: ‘Kesimpulan dari berbagai jawaban tersebut adalah, bahwa Imam Al-Syafi’i mempunyai empat pendapat berkaitan dengan syarat jumlah minimal jamaah Jumat. Yaitu satu pendapat mu’tamad yang merupakan qaul jadid yang menyatakan minimal 40 orang dengan syarat-syarat yang dijelaskan dalam kitab-kitab madzhab Al-Syafi’i, dan tiga pendapat dalam qaul qadim-nya yang lemah. Pertama, 4 orang yang salah satunya menjadi imam. Ini sejalan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam at-Tsaur dan Imam al-Laits. Kedua, 3 orang yang salah satunya menjadi Imam. Ini selarasa dengan pendapat Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad dan Imam Abu Tsur. Ketiga, 12 orang yang salah satunya menjadi Imam. Ini sesuai sejalan dengan pendapat Rabi’ah, az-Zuhri, al-Auza’i dan Muhammad. … Setelah diketahui keabsahan shalat Jumat berdasarkan salah satu dari 4 pendapat Imam Al-Syafi’i ini, yaitu qaul jadid yang mensyaratkan 40 orang, dan tiga qaul qadim: 3, 4 atau 12 orang yang salah satunya jadi imam, maka bagi orang berakal yang mencari pahala dan ridha di sisi Allah SWT hendaknya tidak meninggalkan shalat Jumat secara total selama ia mampu menjalankannya berdasarkan salah satu dari 4 pendapat tersebut. Huruf ‘ma’ dalam kalimat ma taatta adalah ma mashdariyyah dharfiyyah, artinya tidak secara total meninggalkan shalat Jumat selama mudah melakukannya sesuai salah satu pendapat tersebut. (Syaikh Nawawi al-Bantani, Suluk al-Jaddah fi Bayan al-Jumu’ah, Makkah-Mathba’ah Wahabiyyah, 1300 H/1882 M, h. 22)

  1. Perbedaan pendapat di kalangan madzhab Al-Syafi’i mengenai keabsahan pelaksanaan shalat Jumat dengan kehadiran orang yang muqim sebagaimana dikemukakan Abu Ishaq asy-Syirazi di dalam kitab al-Muhadzdzab sebagai berikut:

وَهَلْ تَنْعَقِدُ بِمُقِيمِينَ غَيْرِ مُسْتَوطِنِينَ فِيهِ وَجْهَانِ قَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ تَنْعَقِدُ بِهِمْ لِاَنَّهُ تَلْزَمُهُمُ الْجُمُعَةُ فَانْعَقَدَتْ بِهِمْ كَالْمُسْتَوْطِنِينَ وَقَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لَا تَنْعَقِدُ بِهْمْ لِاَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى عَرَفَات وَكَانَ مَعَهُ أَهْلُ مَكَّةَ وَهُمْ فيِ ذَلِكَ الْمَوْضِعِ مُقِيمُونَ غَيْرُ مُسْتَوْطِنِينَ فَلَوِ انْعَقَدَتْ بِهِم الجُمُعَةُ لَأَقَامَهَا

“Apakah keabsahan pelaksanaan shalat Jumat dapat terpenuhi dengan orang-orang berstatus muqim (orang bertujuan menetap di suatu daerah mininmal empat hari empat malam atau bertahun-tahun tetapi ada niat untuk kembali ke tanah kelahirannya, pent) yang bukan mustawthin (orang yang menetap di tanah kelahirannya atau bisa juga pindah ke tempat lain tetapi tidak ada keinginan untuk kembali, pent)? Dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, menurut Abu Ali bin Abi Hurairah, keabsahan pelaksnaan shalat Jumat dapat terpenuhi dengan mereka yang berstatus sebagai muqim. Sebab, mereka berkewajiban melaksanakan Jum’at sehingga keabsahannya dapat terpenuhi oleh mereka sebagaimana halnya penduduk asli. Pendapat kedua, menurut Abu Ishaq, bahwa keabasahan pelaksanaan shalat Jumat tidak bisa terpenuhi oleh mereka. Karena Nabi SAW keluar ke Arafah bersama penduduk Makkah di mana mereka (pada saat di Arafah) statusnya adalah muqim yang tidak mustawthin. Seandainya keabsaha shalat Jumat dapat terpenuhi dengan mereka niscaya Nabi akan mendirikan Jumat.” (Abu Ishaq asy-Syirazi, al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr, juz, I, h. 110)

  1. Pandangan Imam Nawawi atas apa yang dikemukakan penulis kitab al-Muhadzdzab di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab sebagai berikut:

(السَّادِسُ) مَنْ تَلْزَمُهُ وَتَصِحُّ مِنْهُ وَفِي انْعِقَادِهَا بِهِ خِلَافٌ. وَهُوَ الْمُقِيْمُ غَيْرُ الْمُسْتَوْطِنِ. فَفِيْهِ الْوَجْهَانِ الْمَذْكُوْرَانِ فِي الْكِتَابِ، (أَصَحُّهُمَا) لَا تَنْعَقِدُ بِهِ. ثُمَّ أَطْلَقَ جَمَاعَةٌ الْوَجْهَيْنِ فِيْ كُلِّ مُقِيْمٍ لَا يَتَرَخَّصُ. وَصَرَّحَ جَمَاعَةٌ بِأَنَّ الْوَجْهَيْنِ جَارِيَانِ فِي الْمُسَافِرِ الَّذِيْ نَوَى إِقَامَةَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ، وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ وَغَيْرِهِ. قَالَ الرَّافِعِيُّ هُمَا جَارِيَانِ فِيْمَنْ نَوَى إِقَامَةً يَخْرُجُ بِهَا عَنْ كَوْنِهِ مُسَافِرًا قَصِيْرَةً كَانَتْ أَوْ طَوِيْلَةً. وَشَذَّ الْبَغَوِيُّ فَقَالَ: الْوَجْهَانِ فِيْمَنْ طَالَ مَقَامُهُ وَفِيْ عَزْمِهِ الرُّجُوْعُ إِلَى وَطَنِهِ كَالْمُتَفَقِّهِ وَالتَّاجِرِ، قَالَ: فَإِنْ نَوَى إِقَامَةَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ يَعْنِيْ وَنَحْوِهَا مِنَ الْإِقَامَةِ الْقَلِيْلَةِ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ وَجْهًا وَاحِدًا. وَالْمَشْهُوْرُ طَرْدُ الْخِلَافِ فِي الْجَمِيْعِ.

Baca Berita Lainnya :   Fatwa MUI Terkait Jual Beli dengan Hadiah

Kriteria jamaah shalat Jumat yang keenam adalah orang yang wajib dan sah mendirikan shalat Jumat, namun terkait apakah kehadirannya dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat diperselisihkah ulama, yaitu orang muqim yang tidak mustauthin. Dalam hal ini ada dua pendapat yang disebutkan dalam kitab al-Muhadzdzab. Pendapat al-asshah menyatakan kehadirannya tidak dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat. Kemudian ada segolongan ulama yang memutlakkan dua pendapat tersebut bagi setiap orang muqim yang tidak mendapatkan rukhshah (karena bepergian), dan segolongan ulama lain jelas-jelas menyatakan bahwa dua pendapat tersebut berlaku bagi musafir yang berniat tinggal/menginap 4 hari (4 malam). Inilah maksud dari lahiriah pernyataan as-Syirazi dan ulama lainnya. Ar-Rafi’i berkata: ‘Kedua pendapat tersebut berlaku bagi orang yang berniat tinggal/menginap di situ yang dengannya ia keluar dari status musafir, baik tinggal/menginapnya sebentar atau lama.’ Sedangkan Al-Baghawi memiliki pendapat lain (syadd), ia berkata: ‘Dua pendapat tersebut hanya berlaku bagi orang yang tinggal/menginapnya lama dan masih punya keinginan untuk kembali ke daerah asal tempat tinggalnya, seperti pelajar dan pedagang. Ia berkata: “Maka bila ia niat tinggal/menginap selama 4 hari (4 malam), maksudnya dan jangka waktu tinggal yang sebentar semisalnya, maka hanya ada satu pendapat, yaitu ia tidak dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat.’ Namun demikian pendapat yang masyhur memberlakukan dua pendapat di atas pada seluruh orang yang berniat muqim (baik sebentar atau lama selama memenuhi batas minimal 4 hari 4 malam).” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Kairo-Dar al-Hadits, 1431 H/2010 M, juz, V, h. 573-574).

  1. Sholeh bin Abdul Aziz al-Ghaliqah, dalam Tikrar Sholatil Jumu’ah fi al-Masjid al-Wahid li dhiiq al-Makaan, (Riyadh: Markaz at-Tamayuz al-Bahtsy fii Fiqh al-Qadhaya al-Muashirah, 2014), h. 60-61.

أن إنشاء جمعتين في مسجد واحد جائز إذا دعت الحاجة لذلك. بهذا أفتت دار الإفتاء المصرية و المجلس الأوروبي للإفتاء والبحوث. و هو الرأي الثاني (الجديد) للجنة مركز الفتوى في موقع إسلام ويب حيث قالوا والذي يظهر لنا أنه لا فرق بين إقامتها في مكان أخر أو في نفس المكان ما دامت الحاجة  للتعدد قائمة و استدلوا بدليلين: الدليل الأول:  أن في المنع من إنشاء جمعتين في مسجد واحد-عند قيام الحاجة لذلك- مفسدة إذ يحرم كثير من المسلمين من أدا هذه الفريضة التي تعد من الشعائر العظيمة في الإسلام. ولها مقاصد حاجية كاجتماع المسلمين وتأليف قلوبهم، وحصول التعارف بينهم مع ما يتحقق فيها من التوجيه والوعظ والتعليم.

“Mendirikan dua sholat Jum’at di satu masjid boleh, apabila hal itu memang dibutuhkan. Ini yang difatwakan oleh Majlis Ifta Mesir, Majelis Fatwa dan Kajian Eropa, dan merupakan pendapat baru Komisi Pusat  Fatwa di Situs Islam Web. Mereka berkata” “Kami memandang bahwa tidak ada perbedaan antara mendirikan dua Jum’at di tempat yang berbeda atau di tempat yang sama, selama kebutuhan untuk pelaksanaan multi Jum’at itu ada. Mereka berargumen dengan dua dalil, yang pertama: Larangan mendirikan dua Jumat di satu masjid- ketika kondisi membutuhkannya- merupakan mafsadah (kerusakan) karena banyak orang Islam dilarang untuk melaksanakan kewajiban Jumat yang dianggap sebagai salah satu syiar utama dalam Islam. Mengingat dalam sholat Jumat terdapat tujuan-tujuan sekunder, seperti berkumpulnya umat Islam, mempersatukan hati mereka, saling mengenal antara mereka, di samping dalam ibadah Jumat terdapat aspek pengarahan, nasehat, dan pendidikan.”

Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2001 tentang Fatwa Hukum Shalat Jum’at Dua Shift;

  1. Pendapat, saran dan masukan yang berkembang pada Rapat Bidang Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 02 Juni 2020.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : HUKUM DAN PANDUAN TA’ADDUD AL-JUMUAH SELAIN DI MASJID PADA SAAT PANDEMI COVID-19

Pertama          : Ketentuan Umum

  1. Bahwa yang dimaksud dengan ta’addud al-jumuah adalah pelaksanaan shalat Jumat lebih dari satu kali, baik dilakukan dalam satu masjid atau banyak masjid;
  2. Bahwa yang dimaksud tempat selain masjid adalah tempat yang dianggap layak untuk menyelenggarakan shalat jumat seperti mushalla, aula, lapangan, dan tempat lain.

Kedua              : Ketentuan Hukum

  1. Menyelenggarakan shalat Jum’at tidak dilakukan di masjid jami’, misalnya di mushalla, aula atau tempat lain yang suci dan layak, hukumnya boleh dan sah, dengan ketentuan:
    1. Dilaksanakan di waktu dzuhur
    2. Didahului dua (2) khutbah jum’at yang memenuhi ketentuan
    3. Jumlah jama’ah shalat Jumat minimal 40 orang laki-laki dewasa
  2. Menyelenggarakan shalat Jumat dalam situasi pandemi covid-19 di mana kapasitas masjid hanya boleh diisi 40% jama’ah yang menyebabkan masjid tidak cukup menampung jama’ah, maka shalat jum’at boleh dilakukan dengan ketentuan:
  3. Ta’addud al-jumuah lebih dari satu masjid dalam satu kawasan;
  4. Shalat jum’at boleh dilakukan dua shift dalam satu masjid dengan imam dan khotib berbeda;
  5. Apabila klausul a tidak bisa dilakukan, maka pelaksanaan shalat jum’at pindah menerapkan klausul b;
  6. Apabila klausul a dan b tidak bisa dilaksanakan, maka shalat jum’at diganti dengan shalat dzuhur.

Ketiga              : Rekomendasi

  1. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berperan aktif menciptakan suasana kondusif dalam pelaksanaan kegiatan ibadah pada masa New Normal Life;
  2. Pengurus masjid dan majelis taklim hendaknya menerapkan protokol kesehatan Covid-19;
  3. Para ustadz/ustadzah, mubaligh, dai,  dan khotib  berpatisipasi untuk mengedukasi  masyarakat agar bertindak bijak menghadapi New Normal Life sesuai protokol kesehatan;
  4. Umat Islam DKI Jakarta tetap berusaha menjaga kesehatan dan kebersihan, serta berkoordinasi dengan pihak terkait dalam kegiatan ibadah dan majelis taklim.

Keempat          : Penutup

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata membutuhkan penyempurnaan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta, 10 Syawal 1441 Hijriyah yang ditandatangani Ketua Bidang Fatwa KH Zukfa Mustofa MY dan Sekretaris DR KH Fuad Thohari MA.

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Dyan Ratnanto
Dyan Ratnanto
03/06/2020 12:25 pm

Assalamualaikum,
Apakah ada file pdf dari fatwa yang dikeluarkan MUI DKI? Sehingga kami bisa mendownloadnya dan bisa membaca detail saat waktu senggang.

Bagaimana menyikapi fatwa ini, sementara ada fatwa dari MUI pusat tentang tidak sah shalat jumat 2 putaran walaupun ada udzur syar’i. Fatwa tersebut dikeluarkan tahun 2000.

Terima kasih atas perhatiannya
Wassalamu ‘alaikum,