Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta (Istimewa)

Jakarta – Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta menggelar rapat pada Selasa (2/6/2020) membahas soal panduan Shalat Berjamaah, Kegiatan Majelis Taklim, Madrasah Diniyah atau Taman Pengajian Quran dalam situasi Pandemi Covid-19 ini.

Rapat itu memutuskan panduan shalat berjamaah dan kegiatan majelis taklim dalam situasi pendemi COVID-19. Aktifitas ini hendaknya mengikuti protokol kesehatan seperti Jamaah hendaknya telah berwudhu di rumah masing-masing membawa sajadah dan Al Quran masing-masing.

Berikut Protokol kesehatan panduan shalat berjamaah dan majelis taklim dalam situasi Covid-19:

a. Telah berwudhu di rumah masing-masing
b. Membawa sajadah dan al-Quran masing-masing
c. Mengatur jarak antar makmun atau jama’ah minimal 1 meter
d. Menggunakan masker selama berada di masjid dan menghadiri majelis taklim
e. Membiasakan cuci tangan dengan sabun ketika masuk dan keluar masjid/ majelis taklim
f. Setelah shalat berjamaah tidak dilanjutkan dengan bersalam-salaman
g. Tidak datang ke masjid, majelis taklim atau kerumunan lainnya saat sakit atau kurang sehat
h. Pengurus masjid atau majelis taklim melakukan pengecekan suhu tubuh jama’ah dan menyediakan sabun atau hand sanitizer.

Berikut Panduan lengkap Shalat Berjamaah, Kegiatan Majelis Taklim, Madrasah Diniyah atau Taman Pengajian Quran dalam situasi Pandemi Covid-19 yang diterbitkan oleh Bidang Fatwa MUI DKI Jakarta:

PANDUAN

SHALAT BERJAMAAH, KEGIATAN MAJELIS TAKLIM, DAN MADRASAH DINIYAH/TPQ DALAM SITUASI PANDEMI COVID-19

 MAJELIS ULAMA INDONESIA

PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

TAHUN 2020

  1. Shalat berjamaah dan menghadiri majelis ilmu adalah amalan utama dalam syariat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda:
  • نْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، وَخَطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ، ذَاهِبًا وَرَاجِعًا
Baca Berita Lainnya :   MUI DKI Jakarta Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

”Barangsiapa yang berangkat menuju masjid untuk shalat berjamaah, maka satu langkah akan menghapus dosa dan langkah berikutnya dicatat sebagai kebaikan, baik pada saat berangkat maupun kembali.” (HR. Ahmad).”

  • إِذَا تَطَهَّرَ الرَّجُلُ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ يَرْعَى الصَّلَاةَ، كَتَبَ لَهُ كَاتِبَاهُ أَوْ كَاتِبُهُ، بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَالْقَاعِدُ يَرْعَى الصَّلَاةَ كَالْقَانِتِ، وَيُكْتَبُ مِنَ الْمُصَلِّينَ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِ

”Jika seseorang bersuci kemudian pergi ke masjid untuk memelihara shalatnya, maka dicatat baginya sebanyak sepuluh kebaikan untuk setiap langkahnya ke masjid. Dan orang yang duduk (menunggu shalat) untuk memelihara shalatnya, dia seperti orang yang melaksanakan ketaatan dan dicatat sebagai orang yang mengerjakan shalat ketika keluar dari rumahnya sampai kembali lagi.“ (HR. Ahmad).”

  • مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi).”

  • مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)”.

  1. Meluruskan dan merapatkan barisan (shaf) dalam shalat berjamaah dan majelis ilmu adalah sunah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
  • سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ

 “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan shalat” (HR. al-Bukhari).”

  • أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا ؛ فَإنِّي أرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

Lurus dan rapatkan shaf-shaf kalian, karena aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku. (HR. al-Bukhari) 

Praktik kesunahan merapatkan barisan dalam shalat jama’ah menurut Ibnu Hajar sebagai berikut:

  • وَيُسْتَحَبُّ تَسْوِيَةُ الصُّفُوْفِ وَالأَمْرُ بِذَلِكَ لِكُلِّ أَحَدٍ وَهُوَ مِنَ الإِمَامِ بِنَفْسِهِ أَوْ مَأْذُوْنُهُ آكِدٌ لِلْاِتِّبَاعِ، مَعَ الوَعِيْدِ عَلَى تَرْكِهَا. وَالـمُرَادُ بِهَا إِتْمَامُ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ، وَسَدُّ الفَرَجِ وَتَحاذِيْ القَائِمِيْنَ فِيْهَا إلى أن قال فَأِنْ خُوْلِفَ فِيْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ كُرِهَ.
Baca Berita Lainnya :   Fatwa Seputar KKN dan Cara Memberantasnya

Disunnahkan untuk merapikan shaf shalat bagi setiap orang dan hendaknya imam atau yang mewakili imam selalu memerintahkan untuk merapihkan shaf . Perintah ini lebih ditekankan dilakukan imam atau orang yang diberi izin untuk itu  (merapatkan shaf), disertai peringatan bagi orang yang meninggalkannya. Yang dimaksud merapatkan di sini adalah menyempurnakan shaf pertama dan shaf seterusnya, menutup celah, dan meluruskan posisi berdiri dalam shaf. Jika dilanggar hukumnya makruh”. (Minhajul Qawim: 164).

  1. Untuk menghindari penularan penyakit, tidak merapatkan barisan (shaf) dalam shalat berjamaah dan majelis ilmu, tidak mengurangi pahala shalat berjama’ah dan keutamaan mencari ilmu.

Menurut Imam Ramli dalam kondisi normal (tidak ada pandemi Covid-19), tidak merapikan shaf shalat berjamaah hukumnya makruh, tetapi masih mendapatkan keutamaan berjamaah. Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami tidak mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah.

  • فَإِنْ خَالَفَ فِيْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ كُرِهَ، وَفَاتَتْهُ فَضِيْلَةُ الجَمَاعَةِ عِنْدَ حج (ابن حجر). وَعِنْدَ الشِّهَابِ الرَّمْلِيِّ: كُلُّ مَكْرُوْهٍ مِنْ حَيْثُ الجَمَاعَةُ مُفَوِّتٌ لِفَضِيْلَتِهَا إِلَّا تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ

Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami apabila menyalahi ketentuan shalat berjamaah diatas, maka hukumnya makruh dan tidak mendapatkan keutamaan berjama’ah. Sedangkan menurut Imam as-Syihab ar-Ramli, semua kemakruhkan dalam berjama’ah bisa menghilangkan fadlilah jama’ah, kecuali meluruskan shaf” (Busyra al-Karim, 379).”

Dalam kondisi tidak normal, tidak merapatkan  barisan dalam shalat berjama’ah, dan menggunakan masker hukumnya tidak makruh dan tetap mendapatkan pahala keutamaan berjama’ah.

  • إِنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ عَنْ سَدِّ الفَرَجَةِ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الحَرِّ بِالـمَسْجِدِ الحَرَامِ لَـمْ يُكْرَهْ لِعَدَمِ التَّقْصِيْرِ فَلَا تَفُوْتُهُمُ الفَضِيْلَةُ
Baca Berita Lainnya :   Prof. Dr. Yahya M. Michot Akan Hadir di Konferensi Internasional MUI DKI

Jika mereka tidak mengisi shaf yang kosong karena ada uzur seperti cuaca panas di Masjidil Haram, maka tidak makruh karena tidak ada unsur kelalaian. Selain itu  mereka tidak kehilangan keutamaan shalat berjama’ah (Nihayatuz Zain,119).

Hukum menjaga jarak dalam shalat berjamaah bisa menjadi wajib dengan alasan untuk menghindari bahaya bagi diri sendiri atau orang lain. Rasulullah Shollallahu alaihi wasallama bersabda:

  • لا ضرر ولا ضرار

Jangan membuat bahaya kepada diri sendiri dan orang lain (HR. Ahmad)”.

  1. Dengan memperhatikan penjelasan diatas, maka pelaksanaan shalat berjamaah dan kegiatan majelis taklim dalam situasi pendemi COVID-19 hendaknya mengikuti protokol kesehatan diantaranya sebagai berikut:
  2. Telah berwudhu di rumah masing-masing
  3. Membawa sajadah dan al-Quran masing-masing
  4. Mengatur jarak antar makmun atau jama’ah minimal 1 meter
  5. Menggunakan masker selama berada di masjid dan menghadiri majelis taklim
  6. Membiasakan cuci tangan dengan sabun ketika masuk dan keluar masjid/ majelis taklim
  7. Setelah shalat berjamaah tidak dilanjutkan dengan bersalam-salaman
  8. Tidak datang ke masjid, majelis taklim atau kerumunan lainnya saat sakit atau kurang sehat
  9. Pengurus masjid atau majelis taklim melakukan pengecekan suhu tubuh jama’ah dan menyediakan sabun atau hand sanitizer.

Panduan ini ditetapkan di Jakarta, 10 Syawal 1441 H yang ditandatangani oleh Ketua Bidang Fatwa KH Zulfa Mustofa MY dan Sekretaris DR KH Fuad Thohari MA.

 

 

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Fahmi Eldiab
Fahmi Eldiab
04/06/2020 5:55 pm

Masjid kami di Jakarta Timur mendapatkan amaran panduan ini. Namun dalam bentuk fotokopi.
Apakah boleh kami mendapatkan file softcopy nya? Kami hendak mencetak amaran ini dalam bentuk standing banner.
Jika diperkenankan kami mendapat softcopynya, kiranya mohon di kirimkan ke email: fahmieldiab@gmail.com.

Terima kasih, Jazakumullahu khairan katsiiran.

_20200604_175404.JPG