sumberfoto: pixabay.com

I’tikaf, secara harfiah, berdasarkan beberapa definisi para ulama itu berarti menetap pada sesuatu [‘akafa alaih]. Sementara dalam pengertian syar’i, i’tikaf adalah menetap di masjid dan tinggal di dalamnya dengan niat mendekatkan diri [taqarrub] kepada Allah swt.

Maka, tak aneh bila bulan Ramadan menjadi bulan i’tikaf. Masjid-masjid meriah, sesak oleh umat Islam yang hendak taqarrub ilallah. Terutama sekali di 10 akhir  hari Ramadan yang memang ittiba’ (mengikuti) perilaku Rasulullah.

Sayyidah A’isyah ra. berkata: “Adalah Nabi Muhammad saw. senantiasa beri’tikaf pada 10 akhir Ramadan, [hal itu beliau tetapkan] hingga ia wafat dan kemudian para istrinya mewarisi i’tikaf itu.” [HR. Bukhari-Muslim].

Dalam beberapa literatur ilmu fiqih, i’tikaf memiliki kaifiyat [tata cara] sendiri. Sebagai sarana ibadah, selain bulan Ramadhan pun i’tikaf ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Untuk itulah, agar ibadah ini menjadi kebiasaan di dalam hidup kita, berikut sekelumit panduannya:

 

Hukum I’tikaf

I’tikaf menjadi wajib hukumnya bila seseorang bernazar [bersumpah] hendak melakukanya. Ia beralih menjadi sunnah selama 10 akhir Ramadan karena Rasulullah saw sendiri memang menganjurkannya. Dan menjadi mandub [disunnahkan] pula bila i’tikaf ini dilakukan di luar dua kategori di atas. Demikianlah yang disepakati ulama.

 

Waktu I’tikaf

Ulama mazhab Hanafi, Syafi’i,  dan Hambali berpendapat bahwa i’tikaf itu minimal dilakukan sebentar saja. Ketika seseorang lewat di dalam masjid, lalu ia berniat i’tikaf –atau ia masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat fardhu atau sunnah kemudian niat i’tikaf bersama shalat– maka dalam jangka waktu yang relatif singkat tersebut ia sudah termasuk mendapatkan pahala beri’tikaf.

Menurut tiga ulama mazhab ini, tidak ada batas maksimal untuk beri’tikaf. Dalam pada itu, menurut Imam Malik, batas i’tikaf itu minimal sehari semalam dan maksimal selama sebulan.

 

Rukun I’tikaf

Rukun i’tikaf hanya ada dua: pertama, berdiam diri di masjid walaupun hanya sebentar, dan kedua,  niat. Lafaz niatnya: “Nawaitu an a’takifa fi hazal masjidi sunnatan lillahi ta’ala” (aku niat i’tikaf di masjid ini sunnah karena Allah taala).

 

Syarat I’tikaf

Orang beri’tikaf harus Islam dan mumayyiz [sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk]. Maka tidak sah beri’tikaf bagi mereka yang kafir dan anak kecil yang belum mumayyiz.

Suci dari hadas besar, seperti junub, haid dan nifas. Bila seseorang mengalami salah satu di antara hadas besar tersebut, maka i’tikafnya batal. Ia wajib keluar dari masjid. Kalau tidak, hukumnya pun berubah menjadi haram.

Ketika sedang melakukan i’tikaf wajib, seseorang tidak boleh melakukan hubungan badan dengan istrinya, walaupun itu dilakukan di luar masjid. Jika hal itu dilakukan, maka batal i’tikafnya.

Imam Malik membolehkan i’tikaf di setiap masjid. Sedangkan Imam Hanbali membatasi hanya di masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah atau shalat Jumat saja. Alasannya, agar orang yang beri’tikaf bisa selalu shalat berjamaah dan tidak perlu meninggalkan tempat i’tikaf menuju masjid lain untuk shalat berjamaah atau shalat Jumat. Pendapat ini diperkuat oleh ulama Syafi’iyah. Alasannya, Rasulullah saw. beri’tikaf di masjid jami’. Bahkan kalau kita punya rezeki, kita dianjurkan melakukannya di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau di Masjidil Aqsa.

 

I’tikaf Bagi Muslimah

I’tikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas. Yaitu:  pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua. Apabila izin telah dikeluarkan, tidak boleh ditarik lagi. Kedua, tempat dan pelaksanaan i’tikaf wanita sesuai dengan tujuan syari’ah.

 

Aktivitas Selama I’tikaf

Ketika Anda i’tikaf, ada hal-hal sunnah yang bisa Anda laksanakan. Perbanyaklah ibadah shalat sunnah, tilawah Qur’an, bertasbih, tahmid, dan tahlil, perbanyak istighfar, perbanyak shalawat kepada Rasulullah saw., dan berdoa. Meski begitu, orang yang beri’tikaf bukan berarti tidak boleh melakukan aktivitas keduniaan. Rasulullah saw. pernah keluar dari tempat i’tikaf demi mengantar istrinya, Shafiyah, ke suatu tempat. Orang yang beri’tikaf juga boleh keluar masjid untuk suatu keperluan seperti buang hajat, makan, minum, dan semua kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Tapi setelah selesai hajat itu, segera kembalilah ke masjid. Orang yang beri’tikaf juga boleh menyisir, bercukur, memotong kuku, membersihkan diri dari kotoran dan bau serta boleh membersihkan masjid. I’tikaf dikatakan batal jika orang yang beri’tikaf meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Sebab, ia telah mengabaikan satu rukun, yaitu berdiam di masjid. [Muaz/berbagai sumber/foto: pixabay.com]

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of