Dalam konsep baru, tidak ada lapisan langit. Jadi, yang dimaksud dengan “Langit bertingkat-tingkat” di dalam Q.S. Nuh ayat 15 diatas, harus dimaknai dengan jarak benda-benda langit yang berbeda-beda. Sedangkan posisi awal langit, dimulai dari atmosfer di atas kita. Kemudian, langit mencakup wilayah orbit satelit dan orbit bulan kemudian tata surya dan seterusnya dan seterusnya.

Mengenai Isra Mi`raj, menurutnya nukan penerbangan biasa, antar negara dan luar angkasa. Tetapi, perjalanan keluar dimensi ruang waktu (x,y,z,t) dimana perjalanan dari Mekkah ke Palestina hanya sekejap atau tidak tidak terikat lagi pada ruang dan perjumpaan dengan para Nabi dan gambaran sungai di surga pada peristiwa Mi`raj tidak lagi terikat pada waktu.

Ia menjelaskan perjalanan keluar dimensi yang dialami oleh Rasulullah SAW dalam Isra dan Mi`rajnya ini dengan sebuah analogi perjalanan dua demensi dalam lingkaran huruf U atau tapal kuda. Dalam perjalanan biasa, seseorang akan berjalan dari ujung X ke ujung Y melalui alur huruf U tersebut, begitu pula ketika kembali dari ujung Y ke ujung X. Tetapi dalam peristiwa Isra Mi`raj, Rasulullah SAW. tidak diperjalankan seperti itu, tapi langsung menyebrang dari ujung X ke ujung Y tanpa harus mengikuti alur huruf U atau perjalanan keluar dari dimensi dua.

Di akhir makalahnya, sebagai kesimpulan dari pembahasannya, ia menyatakan beberapa hal, yaitu: Pertama, bahwa pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ Mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam; Kedua, sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah; Ketiga, Isra’ dan Mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam; Keempat, kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat; Kelima, upaya menuju titik temu kriteria astronomi penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ Mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah swt. dan Rasulullah SAW terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah swt., tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan; Keenam, kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah); dan Ketujuh, Isra’ Mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu. ***

(RZK, sumber: http://islamic-center.or.id/)