Menjelang hari Natal, banyak mall dan tempat-tempat usaha ritel lainnya mulai dihiasi atribut-atribut Natal. Namun yang menjadi persoalan adalah jika karyawan atau karyawati yang beragama Islam dan bekerja di tempat-tempat tersebut diwajibkan memakai atribut Natal, seperti topi Santa.

Ketua Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta, Dr. K.H. Ahmad Lutfi Fathullah, M.A menyatakan, saat diwawancara oleh Redaksi muidkijakarta.or.id,  bahwa haram hukumnya karyawan atau karyawati yang beragama Islam memakai atribut-atribut Natal karena termasuk bagian dari acara keagamaan.

Sejalan dengan itu, Fahira Idris, S.E, M.H, Anggota DPD RI, Senator dari DKI Jakarta, secara resmi juga menyurati Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang surat tersebut merupakan  himbauan kepada seluruh pengusaha pusat perbelanjaan, ritel, dsb. untuk bersikap toleran dan menghargai karyawan/karyawatinya yang beragama Islam dengan tidak mewajibkan karyawan/karyawatinya memakai atribut topi Santa/yang sejenisnya karena sangat bertentangan dengan Pasal 29 Ayat 2, yaitu untuk memberikan kebebasan setiap rakyat Indonesia untuk menjalankan agama yang dianutnya. *** (RZK)