Nama lengkapnya adalah Ali Syibromalisi bin Guru Mughni bin Sanusi bin Qois bin Ayub, lahir di Kuningan, Jakarta,  25 Desember 1921. Ayahnya Guru Mughni Kuningan adalah satu dari enam guru terkemuka di Betawi. Ibunya bernama H. Masmawin yang berasal dari Kampung Baru atau dikenal juga dengan Buncit.

Sekitar tahun 1933, saat usia beliau masih sangat muda, sekitar 12 atau 13 tahun, ia dikirim ke Makkah oleh Guru Mughni untuk belajar memperdalam ilmu-ilmu Islam. Kembali ke Tanah Air karena alasan politik dan kondisi perang dunia II yang mengharuskan pelajar-pelajar Indonesia di Makkah kembali ke tanah airnya. Guru yang ia sering sebut yang terbesar adalah Syaikh Yasin Padang. Kedekatan murid dan guru ini tidak diragukan, bahkan ketika Syaikh Yasin diundang Presiden Suharto ke Indonesia, Syaikh Yasin sempat mampir di rumah KH. Ali Syibromalisi. Kembali ke tanah air ia terus berjuang, melalui 3 media, Formal dan Non Formal (pendidikan, majelis ta`lim, organisasi masyarakat dan politik). Perjuangan itu terus ia lakukan sampai akhir hayat. Di tanah air, teman seperjuangannya yang banyak bersama melangkah memperjuangkan misi yang sama adalah: KH. Abd Razak Ma’mun (keponakan), KH Abd Syakur Chairi (teman), KH Ahmad Hajjarmalisi (kakak).

KH Ali Syibromalisi memiliki 2 istri, Istri pertama bernama: Syaikhoh yang merupakan putri dari Guru Marzuqi CipinangMuara. Istri kedua: Tihana, yang berasal dari Pela Bangka, salah seorang muridnya. Dari kedua istrinya ini, dia memiliki 22 anak, masing masing istri melahirkan 11 orang anak. Anak-anaknya yang mendalami agama ada tiga orang, yaitu KH Marzuki Ali,  DR. Faizah Ali, dan Mustafa.

KH Ali Syibromalisi tercatat mengajar di lebih dari 10 tempat perminggunya. Beberapa Masjid yang beliau sempat mengajar, yaitu: Masjid Baitul Mughni; Masjid Istiqlal; Masjid Istikmal; Masjid Darussalam, Kuningan Barat; Masjid Blok S; dan beberapa masjid di Kemang, Cipete dan lain-lain. Selain ahli mengajar, ia juga ahli dalam ceramah. Ia sering menyampaikan Khutbah Jum’at dan  Ied, ceramah di kesempatan hari-hari besar Islam, dan menghadiri pertemuan-pertemuan tingkat provinsi dan Nasional. Selain itu, ia  aktif dalam organisasi masa Islam. Di NU, jabatannya yang tertinggi adalah menjadi salah satu Ketua di  PB NU; aktif di Dewan Masjid, walau hanya di  tingkat wilayah; aktif di MUI Pusat; tercatat sebagai anggota/pengurus Ittihad al-Muballighin pimpinan KH A. Syaihu; dan menjadi ketua atau pengurus di beberapa Yayasan, kepengurusan masjid. Antara lain: Yayasan Darussa’adah, Yayasan KH. Abdul Mughni Kuningan, Masjid al-Taysir, Masjid Darussalam.

Untuk melanjutkan misi dakwahnya, KH Ali mempersiapkan penerusnya dari murid maupun anak yang kemudian ia kirim atau usahakan untuk mendapatkan beasisawa ke timur tengah. Ua mengirim putranya: Marzuki Ali ke Makkah, lalu ke Mesir.  KH Marzuki Ali dikenal sebagai jago baca kitab di kalangan mukimin Makkah dan Cairo. Ia juga mengirim putrinya: Faizah Ali ke Al-Azhar Cairo, putrinya ini berhasil sampai mendapat gelar doktor. Ia juga mengusahkan beasiswa untuk keponakannya, yaitu Nasruddin Syahrowardi yang belajar ke Madinah, selesai Lc. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mesir. Ahmad Luthfi Fathullah belajar ke Syria, selesai Lc. lalu melanjutkan sampai selesai doktor.

Salah satu kelebihan KH Ali Syibromalisi yang jarang dimiliki kebanyakan kiyai adalah sisi ekonomi. Ia mewariskan jiwa dagang dari orangtuanya, Guru Mughni yang dikenal sebagai kiyai yang alim, kaya, jago dan banyak istri. KH Ali menggeluti usaha kontrak bangun. Membangun rumah-rumah mewah untuk disewakan kepada orang-orang asing. Usaha inilah yang banyak membantu ekonominya. Selian itu, usaha yang tetap dipertahankan sampai akhir hayat adalah memelihara sapi perah, yang menjadi usaha kebanyakan orang kuningan, kampung asalnya. Namun, menurut Dr. KH. Ahmad Luthfi Fathullah Mughni, MA, dengan segala sepak terjang beliau yang patut ditiru, beliau tetap punya sisi kekurangan. Yaitu, tidak menulis. Padahal, orangtuanya, Guru Mughni, sudah menunjukkan contoh yang baik dengan menulis dan mencetak buku sendiri, minimal 2 karya yang sudah diterbitkan. Tidak diketahui bahwa KH Ali sempat menuliskan sebuah buku yang diwariskan untuk generasi anak cucu’nya. KH. Ali Syibromalisi Wafat pada  tangal  3 Juli 1996. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)