Nama Lengkapnya KH. Hasbiyallah bin H. Mu`allim Ghayar bin H. Abdurrahim bin Ali Basa bin Jamaluddin. Mengenai tanggal kelahirannya, tidak ada keterangan yang pasti. Begitu pula dengan tahun kelahirannya, Ada data yang menyatakan tahun 1913 namun ada pula data yang menyatakan tahun 1914. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dari pasangan Mu`allim Ghayar (KH. Anwar) dan Hj. Mamnin binti Ja`man bin Supariman. Ia wafat pada tanggal 24 Rabiul Tsani 1403 H, bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1982M pada usia sekitar 78 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang berada tepat di depan masjid Al-Makmur, Klender, Jakarta Timur.

Untuk pendidikan di masa kecil, ia didik oleh bapaknya sendiri. Namun karena kesibukan bapaknya, ia kemudian diserahkan kepada Guru Marzuqi Cipinang Muara untuk meneruskan pendidikannya, memperdalam kitab-kitab kuning sampai Guru Marzuqi wafat pada tahun 1934.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Buntet, Cirebon yang diasuh ulama kharismatik, KH. Abbas. Kepada KH. Abbas, ia mempelajari qiraat sab`ah. Selain itu, ia juga mengaji kepada Guru Muhammad Thohir Cipinang Muara (menantu Guru Marzuki), Guru Khalid Gondangdia, Guru Madjid Pekojan, dan Guru Barah. Kemudian, ia menyusul kakaknya KH. Hasbullah untuk meneruskan pendidikannya ke Makkah.

Di Makkah, ia mengaji kepada ulama terkemuka di antaranya adalah Syekh Ali Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Muhammad Habibullah As-Sanqithi, Syekh Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, Syekh Hasan Al-Masysyath, Syekh Ali Al-Yamani, Syekh Zakariya Bila, Syekh Ahmad Fathoni, dan Syekh Umar At-Turki.

Ia bukan saja sosok ulama yang hanya berkutat pada kitab, tetapi sosok yang peduli kepada persoalan masyarakat dan bangsanya. Saat terjadi agresi militer Belanda Kedua, bersama dengan dua rekannya yang lain, H. Darip dan KH. Achmad Mursyidi, ia turut berjuang di front terdepan dan dikenal sebagai  “tiga serangkai” dari Klender. Ia juga dikenal sebagai ulama yang teguh pada pendapat dan pendiriannya walau harus bertentangan dengan rekan-rekannya sesama ulama, seperti penolakannya bersama Habib S. Salim bin Djindan terhadap Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang tanggal 10 Nopember 1957 tentang persoalan pengharaman Kabinet Gotong Royong.

Ia juga sosok yang sangat peduli dengan dunia pendidikan. Ia mendirikan majelis taklim dan perguruan Al-Wathoniyah yang sekarang telah memiliki 61 cabang yang didirikan oleh murid-muridnya. Ia juga memiliki karya tulis yang berjudul Risalah Kaifiyah Sembahyang Tarawih dan Sholat Al-`Aidain. Karena keluasan dan kedalaman ilmunya, ia kerap menjadi tempat ulama meminta pendapat dan mentashihkan karya tulisnya. Seperti KH. Abdurrahman Nawi (pendiri dan pimpinan Perguruan Al-Awwabin) yang meminta kepada KH. Hasbiyallah untuk mentashhih risalah karangannya yang berjudul Manasik Haji.

Murid-muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka antara lain Syekh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary, Mu`allim Rasyid (Ar-Rasyidiyyah), dan KH. A.Shodri (Pendiri dan pimpinan Yayasan Al-Wathoniyah 9 dan Ketua Umum FUHAB Masa Bakti 2008-2013). Murid terkemuka lainnya adalah Kyai R Halim Saleh, seorang tunanetra dan guru para tunatetra, yang menjadi pendiri dan pimpinan Pesantren Raudhatul Makfufin yang dikhususkan untuk tuna netra muslim belajar agama Islam. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)