Demikian yang dinyatakan Wakil Ketua Umum MUI Pusat yang menjabat Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) ini di Seminar Islam Ibukota “Menyongsong Era Baru Jakarta Islamic Centre Sebagai Pusat Destinasi Wisata Syariah di Jakarta” yang diselenggarakan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) di JIC (Jumat, 12/12/2014).

Fatwa dibutuhkan umat agar dapat memberikan kepastian dari perselisihan. K.H. Ma`ruf Amin menyontohkan dengan hukum ┬ámemakan kepiting yang menjadi perselisihan di tengah-tengah umat. Ada yang mengatakan haram, ada yang mengatakan halal. MUI kemudian mengundang seorang “profesor kepiting” agar mendapatkan pemahaman tentang makhluk kepiting ini, apakah kepiting termasuk hewan air atau hewan yang hidup di dua alam? Dari penjelasan profesor yang ahli dalam masalah hewan kepiting ini diperoleh informasi bahwa kepiting termasuk hewan air. Jika ia bisa hidup di darat, itu hanya sementara saja sebab di dalam tubuhnya ada tempat penyimpanan air. Namun dalam tujuh hari, persediaan air di dalam tubuh kepiting ini akan habis, dan si kepiting pun mati. Atas dasar ini, MUI Pusat mengeluarkan fatwa bahwa kepiting halal untuk dimakan.

Itulah fatwa, ia menyelesaikan perselisihan dan memberikan kepastian hukum. Namun iika masih saja ada yang masih berselisih tentang hukum memakan daging kepiting atau hal lain yang padahal sudah ada fatwanya, maka diingatkan untuk kembali ke fatwa.***(RZK)