K.H. Muchtar Thabrani lahir di Kaliabang Nangka, Bekasi (sekarang Bekasi Utara) pada tahun 1901. Ia lahir dari kalangan keluarga sederhana. Ayahnya, Thabrani, yang hanya seorang petani kecil yang untuk mencukupi hidupnya hanya mengandalkan hasil panen yang kadang tak menentu. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Pak Thabrani terpaksa harus berdagang daun sirih.

Karena ia adalah anak pertama, Pak Thabrani bercita-cita untuk menjadikannya seorang ulama. Muchtar kecil pun diserahkan kepada guru Mughni untuk belajar Al-Qur`an.  Bukan hanya itu saja, konon, jika ada orang alim berkunjung ke Kaliabang Nangka, Pak Thabrani segera mendatangi orang tersebut untuk minta didoakan agar anaknya Muhtar menjadi orang yang alim kelak. Muchtar kecil kemudian dserahkan orang tuanya untuk meneruskan ngajinya ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara.

Setelah mengijak dewasa, dan telah memiliki pengetahuan yang cukup memadai, ia kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan ilmu dan memulai perjalanan dakwah di kampungnya yang saat itu masih kental dan sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.  Ketika itu Kaliabang Nangka masih sangat akrab dengan pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme. Persembahan untuk makhluk halus dan percaya bahwa benda-benda mati mempunyai kekuatan ghaib dan dapat menolong manusia, bukan merupakan pemandangan yang aneh saat itu. Dari sini ia merasa terpanggil untuk membenahi aqidah orang kampungnya, yang sudah semakin jauh dari ajaran Islam yang benar. Sedikit demi sedikit ia mulai merubah pola hidup keagamaan di kampungnya.

Pada saat usianya menjelang 20 tahun, Muchtar telah menjadi tokoh pemuda yang paling disegani di kampungnya. Muchtar telah berhasil merubah dan meluruskan masyarakat Kaliabang Nangka dari pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam.  Dan saat itu terbersit di hatinya untuk berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang kelima. Namun keinginan itu tak langsung begitu saja terwujud. Muchtar membutuhkan waktu enam tahun untuk mengumpulkan uang sebesar tiga ribu enam ratus rupiah untuk ongkos berangkat haji yang kala itu masih menggunakan kapal laut. tanah suci Muchtar kemudian menimba ilmu kepada beberapa orang guru. Dintaranya adalah Syaikh Muchtar At-Atharid, Syaikh Ahyad dan beberapa orang guru lainnya. Namun guru yang paling dekat dan paling banyak mempengaruhi pola pikir dan perkembangan keilmuannya adalah Syaikh Ahyad.

Memasuk tahun ke-13  belajar di tanah suci, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah mendapat restu dari guru-gurunya. Di saat perjalanan pulang menuju tanah air, ketika masih di dalam kapal laut, ia menerima khabar bahwa ayahnya Pak Thabrani telah berpulang menghadap Allah SWT.

Pada tahun 1950, KH. Muchtar yang telah berusia sekitar 41 tahun menikah dengan Hj. Ni`mah Ismail gadis berusia 14 tahun anak dari H. Ismail Kemayoran Jakarta. Ketika itu beliau meminta dua orang sahabatnya, KH. Noer Ali (Ujung Harapan) dan KH. Tambih (Kranji) yang membantu dalam proses lamaran hingga acara pernikahan. Dari pernikahan ini ia dikaruniai 4 putra dan 3 putri.

Suatu hari berkumpulah beberapa orang murid  senior KH. Muchtar, diantaranya KH. Alawi, KH, Asmawi, KH. Anwar, KH. Abdullah, Guru Asmat dan Guru Jenih. Dari hasil musyawarah keenam ulama tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa seluruh santri yang mengaji pada keenam ulama tersebut akan diseleksi secara khusus. Bagi santri yang lulus seleksi, maka santri tersebut dapat mengaji dibawah bimbingan langsung KH. Muchtar. Maka terpilihlah sekitar 20 orang santri (angkatan pertama) yang berhak mengaji langsung pada KH. Muchtar. Sementara santri-santri yang lain, yang masih tingkat dasar mengaji pada keenam ulama tadi. Di tahun yang sama, 1950, KH. Muchtar mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Kaliabang Nangkadiambil dari nama kampungnya tersebut. Pondok Pesantren inlah yang nantinya menjadi cikal bakal berdirnya Pondok Pesantren Annuryang dikenal sekarang.

K.H. Muchtar biasa mengajar santri-santrinya sambil bekerja di kebun. Santri membaca kitab sementara KH. Muchtar menyimak bacaan santri sambil menyabuti rumput liar yang tumbuh di kebun kangkung, bayam dan jeruk miliknya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya KH. Muchtar memang mengandalkan hasil kebunnya. Jika panen tiba, santri-santrinyalah yang membawa hasil panen tersebut ke pasar.

Selama mengajar santrinya, KH. Muchtar dikenal cukup tegas dan keras. Hal itu sebagai bentuk gemblengan agar para santri belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun. Namun, ada saja santri yang akhirnya putus dijalan karena kurang sungguh-sungguh dan mentalnya yang loyo. Dari 20 orang santri angkatan pertama yang mengaji pada beliau, kini tinggal sekitar 10 orang santri yang betul-betul tekun mengaji hingga tuntas dan mendapat ijazah dari beliau. Dan terbukti, santri-santri yang benar-benar tekun mengaji pada beliau kini telah meneruskan perjuangan beliau dan telah banyak mendirikan Pondok Pesantren, madrasah dan majlis ta`lim.

Angkatan selanjutnya, termasuk di dalamnya putra-putri beliau, KH. Muchtar tetap konsisten dengan sikap tegas dan kerasnya di dalam mengajar. Boleh jadi, putra-putri beliau yang saat itu masih kecil-kecil telah dapat menghapal Al-Qur`an sebanyak 30 juz. Sehingga semua putra-putri beliau kini berhasil menjadi orang-orang yangalim, orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan meneruskan perjuangan beliau. Diantaranya yaitu KH. Aminuddin Muchtar;  KH. Aminulloh Muchtar,BA; KH. Ishomuddin Muchtar, Lc;  KH. Ishomulloh Muchtar, M.Ed;  Ustj. Hj. Hannanah Muchtar, MA;  Ustj. Hj. Nurhamnah Muchtar Lc, dan Ustj. Hj. Yayah Inayatillah Muchtar, SH.  Pada Tahun 1971, beliau wafat dengan meninggalkan warisan berharga untuk umat, yaitu pondok pesantren dan kitab karangannya, yaitu  Targhiib al-Ikhwaan fii Fadhiilah `Ibaadaat Rajab wa Sya`baan wa Ramadhaan dan Tanbiih Al-Ghaafil fii At-Taththawu`aat wa Al-`Ibaadaat Wa An-Nawaafil . Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Kaliabang Nangka, Bekasi Utara. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of