Satu-satunya ulama Betawi yang mendapat gelar Pahlawan Nasional ini, tidak diketahui jelas tanggal dan bulan berapa ia lahir kecuali tahunnya, yaitu 1914. Tempat lahirnya di Ujung Malang (sekarang bernama Ujung Harapan), Bekasi dari pasangan Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Ia wafat pada tanggal 29 Januari 1992, pada usia 78 tahun.

Pada usia delapan tahun, usia ia dikhitan, ia belajar kepada Guru Maksum di kampung Bulak. Pelajaran yang diberikan lebih dititikberatkan pada pengenalan dan mengeja huruf Arab, menghafal dan membaca Juz ‘Amma, ditambah menghafal dasar-dasar rukun Islam dan rukun Iman, tarikh (sejarah) para Nabi, Akhlak dan Fikih. Setelah tiga tahun belajar pada Guru Maksum, pada tahun 1925 KH. Noer Alie belajar pada Guru Mughni di Ujung Malang. Disini ia mendapat pelajaran al-Fiyyah (tata bahasa Arab), al-Qur’an, Tajwid, Nahwu, Tauhid dan Fikih.

Pada tahun 1930-an KH. Noer Alie meneruskan pendidikannya pada Guru Marzuqi di kampung Cipinang Muara, Kelender. Pada tahun 1933, karena dinilai cerdas dan mampu mengikuti pelajaran dengan baik, KH. Noer Alie diangkat menjadi badal (pengganti), yang fungsinya menggantikan sang guru apabila ia sedang ‘udzur (halangan). Di pondok Guru Marzuqi, KH. Noer Alie mempunyai banyak teman yang kelak menjadi sahabatnya dan ulama terkenal di bilangan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, seperti KH. Abdullah Syafi’ie, KH. Abdurrachman Shadri,  KH. Abu Bakar, KH. Mukhtar Thabrani, KH. Abdul Bakir Marzuli, KH. Hasbullah, KH. Zayadi dan lain-lain.

Pada tahun 1934 KH. Noer Alie bersama KH. Hasbullah berangkat menuju Makkah dengan uang pinjaman dari tuan tanah Wat Siong. Sebelum berangkat guru Marzuqi berpesan pada kedua murid kesayangannya itu, “Meskipun di Makkah belajar dengan banyak Syaikh, tapi kalian tidak boleh lupa untuk tetap belajar pada Syaikh Ali al-Maliki”. Dari Syaikh Ali al-Maliki KH. Noer Alie menyerap ilmu Hadits. Kepada Syaikh Umar Hamdan, KH. Noer Alie belajar Kutub as-Sittah (kitab hadits yang enam). Lalu ada Syaikh Ahmad Fatoni yang berasal dari Patani (Muangthai), yang memberikan pelajaran Fikih dengan Kitab Iqnâ’ sebagai acuannya. Melalui Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi, KH. Noer Alie belajar ilmu Nahwu, Qawâfî (Sastra), dan Badî’ (Mengarang). Selain itu Syaikh Quthbi pun mengajarkan ilmu Tauhid dan Mantiq (ilmu logika yang mengandung Falsafah Yunani) dengan kitab Asmuni sebagai acuannya. Sedangkan dari Syaikh Abdul Zalil diperoleh ilmu politik dan dari Syaikh Umar at-Turki dan Syaikh Ibnul Arabi, diperoleh ilmu Hadits dan ‘Ulum al-Qur’an.

Berada jauh dari tanah air tidak membuat KH. Noer Alie lupa dengan bangsanya. Melalui wesel dari orangtua dan surat kabar yang terbit di Saudi Arabia dan Hindia Belanda, ia mengetahui situasi dan kondisi dunia dan tanah airnya. Adanya sarana organisasi seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Persatuan Talabah Indonesia (Pertindo), Perhimpunan Pelajar Indonesia-Malaya (Perindom) dan organisasi Persatuan Pelajar Betawi (PPB), telah menggerakkan hatinya untuk turut andil didalamnya. Mendekati perang dunia II (akhir 1939), KH. Noer Alie memutuskan kembali ke tanah air. Syaikh Ali al-Maliki berpesan diakhir pertemuan : “Kalau kamu ingin pulang, silahkan pulang. Tapi Ingat, jika bekerja jangan jadi penghulu (pegawai pemerintah). Kalau kamu mau mengajar, saya akan ridha dunia-akhirat“.

Kepulangan KH. Noer Alie ke kampung halamannya Ujung Malang pada awal Januari tahun 1940 menjadi duri dalam daging bagi tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda. Setelah mendirikan pesantren, salah satu amal sholehnya yang dirasakan manfaatnya sampai sekarang adalah pembangunan dan pembukaan akses jalan secara besar–besaran antara kampung Ujung Malang, Teluk Pucung, dan Pondok Ungu pada tahun pertengahan tahun 1941.  Untuk mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu bangsa Indonesia harus bertempur secara fisik, KH. Noer Alie menyalurkan santrinya kedalam Heiho (pembantu prajurit), Keibodan (barisan pembantu polisi) di Teluk Pucung dan menyuruh salah seorang santrinya untuk mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air (PETA). Tanggal 19 September 1945, ketika diselenggarakan Rapat Raksasa di Lapangan IKADA Jakarta, KH. Noer Alie mengerahkan massa untuk hadir. Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Laskar Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Hizbullah Bataliyon III Bekasi.  Gelar “Kiyai Haji” sendiri beliau dapatkan dari Bung Tomo yang dalam pidatonya melalui pemancar Radio Surabaya atau Radio Pemberontaknya berkali-kali menyebut nama KH. Noer Alie, akhirnya gelar “Guru” pun tergeser dan berganti dengan makna yang sama, “Kiyai Haji”. Pada 29 November 1945 terjadi pertempuran sengit antara pasukannya dengan Sekutu di Pondok Ungu. Melihat gelagat yang tidak baik, saat itu KH. Noer Alie menginstruksikan seluruh pasukannya untuk mundur. Sebagian yang masih bertahan akhirnya menjadi korban di pertempuran Sasak Kapuk. Ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947, ia menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta dan mendapat perintah untuk bergerilya di Jawa Barat tanpa menggunakan nama TNI. Ia kemudian kembali ke Jawa Barat dan mendirikan sekaligus menjadi Komandan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang.

Kecintaannya terhadap bidang pendidikan membuat KH. Noer Alie berinisiatif membentuk Lembaga Pendidikan Islam (LPI ) bersama Mu`allim Rojiun Pekojan, yang salah satu programnya adalah mendirikan Sekolah Rakyat Islam di Jakarta dan Jawa Barat. Di Ujung Malang, KH Noer Alie kembali mengaktifkan pesantrennya dengan SRI sebagai lembaga pendidikan pertama.  Setelah LPI tidak aktif, maka pada tahun 1953 KH. Noer Alie membentuk organisasi sosial yang diberi nama Yayasan Pembangunan Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3) yang kedepannya akan berganti nama menjadi Yayasan Attaqwa. Yayasan P3, yang mendapat pengakuan secara hukum pada 6 agustus 1956,  adalah induk dari pendidikan SRI, pesantren, dan kebutuhan umat Islam lainnya. Pada tahun 1954, KH. Noer Alie menginstruksikan kepada KH. Abdul Rahman untuk membangun Pesantren Bahagia yang murid pertamanya adalah lulusan SRI Ujung Malang sebanyak 54 orang.

Pada pemilu 1955, Masyumi Bekasi memperoleh suara terbanyak. Kemenangan ini tidak terlepas dari kemahiran politik dan karisma KH. Noer Alie. Atas dasar itu ia ditunjuk Masyumi Pusat sebagai salah satu anggota Dewan Konstituante pada bulan September 1956. Untuk melindungi umat agar tidak terombang-ambing oleh kekuatan luar yang tidak baik, KH. Noer Alie pun bergabung dengan Badan Kerjasama Ulama-Militer (BKS-UM) dan diangkat sebagai anggota Majelis Ulama di Resimen Infanteri 7/III Purwakarta.

Setelah pengunduran dirinya dari pentas politik praktis, kembalinya KH. Noer Alie di tengah-tengah umat dimaknai oleh murid dan para pecintanya sebagai hikmah dan rahmat. Kehadiran KH. Noer Alie dirasakan sebagai pembawa kesejukan dan pelindung umat. Dipindahkannya Pesantren Bahagia dari kampung Dua Ratus ke Ujung Malang memudahkan KH. Noer Alie dan para guru dalam proses belajar-mengajar. Selanjutnya tahun 1962 KH. Noer Alie mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Persiapan Madrasah Menengah Attaqwa (SPMMA). Sedangkan untuk pendidikan putri, pada tahun 1964 KH. Noer Alie mendirikan Madrasah Al-Bâqiyât As-Shâlihât.

Tahun 1963 KH. Noer Alie nyaris ditangkap karena manipulasi yang dilakukan oleh PKI, yang membuat isu bahwa tamu yang berkunjung ke kediaman beliau adalah anggota DI/TII. Mendengar pengaduan tersebut aparat keamanan segera mengepung Pesantren Attaqwa. KH. Noer Alie pun menyangkal tuduhan itu dan meminta tentara agar menggeledah. “Sekarang kita geledah kampung ini. Kalau terdapat anggota DI, tembak saya. Tapi kalau enggak dapat, ente yang ana tembak”. Mendengar keseriusan dan kebenaran argumentasi KH. Noer Alie, akhirnya pasukan ditarik mundur. Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI meletus, para santri KH. Noer Alie yang tergabung dalam Cabang PII ikut membantu pemberantasan PKI bersama dengan TNI dan generasi muda lainnya.

Melihat kemunduran pesantren-pesantren yang disebabkan karena intervensi pemikiran dan modernisasi sekuler, ataupun karena faktor kiyainya yang banyak meninggalkan pondok pesantren, maka melalui musyawarah antara para kiyai dan ulama pemimpin pondok pesantren di Jawa Barat, yang diadakan di Cianjur 4-6 Maret 1972 M. (19-21 Muharram 1392 H), mereka sepakat membentuk Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat, dengan KH. Noer Alie sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan BKSPP didampingi KH. Sholeh Iskandar sebagai Ketua Badan Pelaksana BKSPP, KH. Khair Effendi dan KH. Tubagus Hasan Basri.Ketika pada tahun 1980-an ramai dibicarakan masalah pelarangan jilbab bagi siswi Muslim di SLTP dan SLTA, KH. Noer Alie bersama BKSPP membuat Fatwa Ulama Pondok Pesantren tentang busana Muslimah. KH. Noer Alie juga menentang RUU Perkawinan 1973 yang menyimpang dari ajaran Islam. Pada puncaknya ia kerahkan 1000 orang ulama di Pondok Pesantren Asyafi’iyyah Jatiwaringin untuk berbai’at tetap memperjuangkan RUU Perkawinan yang sesuai dengan ajaran Islam. Terkenal pula kegiatannya menentang judi-judi resmi seperti Porkas dan SDSB. Sebagai upaya menghadapi tantangan zaman, sudah waktunya tampuk kepemimpinan dilimpahkan kepada para kader yang sudah ditempanya sejak lama. Bersamaan dengan itu nama YayasanYP3 juga ikut diganti menjadi Yayasan Attaqwa. Maka KH. Noer Alie yang bertindak sebagai Pendiri dan Pelindung, memilih putra tertuanya, KH. M. Amin Noer, MA, sebagai Ketua Yayasan Attaqwa. Bersama H. Suko Martono, pejabat Pemerintah Daerah Bekasi, dan tokoh Islam di Bekasi, KH. Noer Alie turut serta membentuk Yayasan Nurul Islam, yang salah satu programnya adalah membangun gedung Islamic Centre Bekasi, yang ide pembangunannya berasal dari KH. Noer Alie. Untuk mengenang jasa terhadap pembangunan Islamic Centre Bekasi, maka salah satu ruangannya diberi nama KH. Noer Alie.

Sedangkan jasa-jasanya dalam membela tanah air sebagai pejuang, membuat Pemerintah publik Indonesia menganugrahi KH. Noer Alie gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Maha Putra Adipradana. Penganugrahan gelar tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 085/T/Tahun 2006 tanggal 03 November 2006. Penganugrahan gelar tersebut dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, H. Susilo Bambang Yudhoyono, melalui putra sulungnya, KH. M. Amien Noer, pada hari Kamis tanggal 09 November 2006 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara Jakarta.

Sedangkan karya tulis beliau hanya ada beberapa tulisan, salah satunya tentang do`a-do`a yang disusunnya dan digunakan dalam peperangan yang diantara manfaatnya untuk menjinakan bom agar tidak meledak (mampet). Kini tulisan-tulisan tersebut disimpan rapih oleh KH. M. Amien Noer, Lc., MA. Muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka adalah anaknya, sendiri, KH. M. Amien Noer, Lc., MA dan  KH. Abdurrahim Radjiun, anak dari sahabat karibnya, Mu`allim Rojiun Pekojan.  ***

(Rakhmad Zailani Kiki, Sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)