sumber foto: pixabay.com

Bagaimana ciri-ciri turunnya malam Lailatul Qadar?

Tanda-tanda kedatangan malam Lailatul Qadar yang hanya terjadi di malam Ramadan kadang-kadang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang terpilih. Hal ini sebagimana termaktub dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Pada saat terjadinya Lailatul Qadar itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk, tidak terasa panas, tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya, matahari terbit dengan jernih, terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan.”

Lalu, pertanyaanya: siapakah yang mampu melihat tanda-tanda itu? Siapakah yang berhak mendapatkan malam seribu bulan ini? Dapatkah kita  mengenali kehadiran Lailatul Qadar? Kapankah Lailatul Qadar itu datang?

Berdasarkan sabda yang disampaikan Rasulullah saw, ada beberapa versi saat-saat Lailatul Qadar mengunjungi hamba Allah yang terpilih. Antara lain:

Pertama, Lailatul Qadar terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Alquran. Hal ini sebagaimana pernah disampaikan Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Zubair ra dalam hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhari.

Kedua, Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah saw yang berbunyi, “Carilah Lailatul  Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Baihaqi)

Ketiga, Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggal 21 Ramadan berdasarkan hadis riwayat Abi Said al Khudri yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Keempat, Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadis riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kelima, Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadan, berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al-Khaththab, Hudzaifah serta sekumpulan besar sahabat, yakin bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.

Keenam, menurut Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, terjadinya Lailatul Qadar mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Berdasarkan riwayat-riwayat hadis di ataslah, kiranya, tak aneh banyak umat Nabi Muhammad saw yang berlomba-lomba dalam beribadah. Banyak yang, misalnya, beritikaf di masjid-masjid. Mereka berharap agar nikmat Lailatul Qadar juga menyapa dirinya.

Kendati begitu, agaknya perlu diperhatikan juga bahwa Allah sendiri tidak pernah menyinggung secara gamblang perihal ketepatan datangnya Lailatul Qadar. Lailaltul Qadar, bila meminjam redaksi Prof. Quraish Shihab, adalah rahasia Ilahi; satu situasi dimana yang menemukannya atau ditemuinya merasakan dorongan untuk berbuat kebajikan serta kedamaian dan kesejahteraan.

Untuk itulah, kaum muslim hendaknya beribadah setulus dan sebaik mungkin sepanjang bulan suci Ramadan tanpa membedakan satu malam dengan malam lainnya. Dengan cara seperti ini, setiap hari pada bulan puasa memiliki arti yang tidak boleh diabaikan satu hari pun. Sehingga, pengertian Lailatul Qadar menjadi luas dan bermakna. Ia dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah swt. dimana pun dan kapan pun kita berada, tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu yang selama ini dipahami. Bukankah dengan begitu, setiap muslim menjadi pribadi yang saleh bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, tapi juga pada bulan-bulan mendatang. Amin. Wallahu’alam bil shawab. (Muaz/dari berbagai sumber/sumber foto: pixabay.com)

 

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of