foto: dok. pribadi Muaz

Ini tentang kebaikan-kebaikan kecil. Sesuatu yang barangkali bisa menjadi penolong Anda; sesuatu yang mungkin akan mempertemukan Anda dalam pusaran keajaiban entah di mana, entah kapan. Ini ihwal sejumlah laku yang tulus, yang memang digerakkan oleh hati, untuk menolong, berbagi dan meninggalkan jejak bahagia selepas menunaikannya, baik bagi si penolong maupun yang ditolong.

Inilah senarai kebaikan-kebaikan “kecil” itu: memuji istri Anda karena ia telah menyediakan secangkir kopi yang hangat di setiap pagi Anda; menyanjung suami Anda karena ia sudah rela berbagi tugas domestik rumah tangga; mengucapkan terimakasih kepada seorang office boy Anda lantaran ia bersedia membelikan sebungkus nasi; mengucapkan tahniah kala rekan Anda naik jabatan; menuntun seorang tua renta di jalan umum; mengunjungi sahabat yang tengah sakit; menyingkirkan sebilah beling yang runcing di gang; menyalami dan menghormati orang yang sudah tua; mengirimi doa untuk sahabat yang sedang ditempa musibah;  menyebarkan ilmu walau hanya sepenggal ayat yang Anda hafal di luar kepala; mendengarkan curhatan kawan yang memang butuh teman untuk berbagi; memdawamkan berzikir untuk-Nya meski itu hanya bacaan tahmid-tasbih dan takbir; mengamalkan berbagi untuk anak yatim walau itu hanya 10 ribu rupiah yang Anda punya; memuliakan tamu Anda meski ia seorang non-muslim; menunjukkan jalan agar orang tak tersesat; mengirimkan tetangga makanan yang Anda masak; dan seterusnya dan lain-lainnya. Saya kira Anda bisa mengira-ngiranya dan tidak perlu saya tambah daftarnya.

Sebab, semua kebaikan-kebaikan “kecil” dan “sederhana” itu juga sedekah. Sebab, semua laku yang demikian bukanlah hal sulit bila Anda meniatkan berbagi karena-Nya; karena mengingat-Nya dan berbuat atas nama-Nya dimana nurani Andalah sandaranya. Bukan, bukan untuk yang lain. Kenapa? Karena kita tidak tahu mana diantara kebaikan dan kebajikan yang nantinya bakal menolong kita di akhirat kelak.  Apakah yang Anda anggap kebaikan [baca: sedekah] “besar”, atau sebaliknya, kebaikan yang Anda sebut  “kecil” dan tidak seberapa?

Kita mafhum, Dia, Dzat yang meminjamkan ruh di tubuh kita, bukan Sang Penilai atas dasar sedekah [baca: kebaikan] “besar” atau “kecil”, tapi atas dasar standar keikhlasan dan ketulusan hamba-Nya. That’s all. Hanya itu. Tidak neko-neko.

Karenanya,  hati saya selalu bungah setiap kali membaca petuah  Rasulullah saw  yang satu ini: “Setiap kebaikan itu sedekah…”. [HR. Muslim]  Saya merasa serupa telpon genggam yang baterainya habis di-charge setiap kali membaca selarik hadits itu.  Saya yang pendosa merasa masih punya pelbagai kesempatan memperbaiki karena support petuah Nabi yang satu itu. Sedekah bukan lagi sekadar materi, tapi juga non-materi. Ia memiliki spektrum yang luas.  Bercabang. Membentang. Dan kita tidak tahu manakah di antara sedekah yang bejibun itu yang nantinya akan menyuluh jalan kita untuk berani mengetuk pintu surga-Nya.

 

Karenanya, rehatlah barang sejenak. Dan renungkanlah baik-baik: apakah hari ini Anda sudah melakukan sebuah kebaikan yang tulus karena-Nya; apakah Anda sudah menerbitkan rasa bahagia untuk orang terdekat Anda; apakah Anda sudah membuat jiwa-jiwa di sekeliling Anda berbinar dan riang karena satu laku sedekah?  Hari ini, detik ini, mari sediakan waktu untuk membahagiakan orang yang Anda temui, orang yang ada di dekat Anda; membuat wajah dan hatinya tersenyum.   “Sebuah laku yang baik,” ujar Nabi kita, “adalah saat seseorang membuat wajah saudaranya tersenyum.”   Wallahu’alam bilshawab.  [Muaz]