“Bajunya kumal…”

“Sarungnya kasar…”

Siapa? Dia yang agung, yang akhlaknya seindah namanya: sepaling terpuji (Ahmad) dan yang terpuji (Muhammad). Syahdan, pada kedua pakaian tersebutlah, ujar sang Humairah, yang melekat di tubuh suaminya, Baginda Nabi Muhammad saw saat ajalnya datang.

“Rasulullah saw dicabut ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini,” demikian tegas Aisyah kepada sahabat-sahabat Nabi dalam salah satu riwayat yang penulis nukil dari kitab Syamail Muhammadiyyah; salah satu buku bagus yang ditulis Imam Tirmidzi ihwal sosok dan pribadi Nabi saw. Mulai dari fisiknya, pakaianya, minumanya hingga sandal jepitnya disinggung di kitab masyhur ini.

Lalu, apa yang bisa kita banggakan bila junjungan kita saja sudah tampil demikian? Harus bermiskin-miskin dan berfakir-fakir ? Bukan. Ini bukan hidup harus melarat dan tidak punya apa-apa. Ini soal memilih hidup sederhana meski di rekening kita tertimbun miliaran rupiah. Ini tentang hidup tidak bermewah-mewah dan bersahaja walau sebenarnya mampu.

Sedekah. Berbagi. Bersikap dermawan. Itulah sikap bila anda tengah berlimpah rezeki dari Allah; sikap berfakir-fakir dalam harta benda yang anda miliki.   Anda eling ada yang tidak mampu untuk memenuhi hajat hidupnya. Anda sadar ada sebagian saudara anda yang  belum dikarunia rezeki guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasariah hidupnya; ya pangan, ya sandang, ya papan. Dan ingat: tak perlu merasa lebih keren atau mulia atau berkualitas hanya karena  anda sudah bersedekah kepadanya. Pasalnya, ujar Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Seseorang harus meyakini bahwa semua orang jauh lebih baik daripada dirinya sehingga ia terbebas dari sikap takabur.” Tak elok bukan bersedekah sambil merayakan kemenangan nafsu di hati.

Rasulullah saw bisa saja tampil wah dan perlente jika ia mau. Tapi, ia tidak ingin. Ia lebih suka jalan befakir-fakir. Pakaian yang kumal dan sarungnya yang lusuh ketika ruhnya dicabut di atas sejatinya metafora betapa Nabi menyenangi umatnya yang tidak serakah dan sederhana.

Tak aneh,  dalam beberapa hadis, Nabi  menyukai orang-orang fakir dan miskin yang shaleh. Bahkan, ada hadis yang mengabarkan bahwa kelompok inilah yang bakal memasuki gerbang surga pertama kali. Untuk inilah, jika sekarang anda pada posisi rezeki yang tidak jembar dan lancar, anda tidak semestinya meratap-ratap mengutuk Ilahi atau berlarat-larat dalam kepiluan dan putus asa. Anda hanya perlu: tetap ikhtiar, beribadah, dan berdoa. Jadilah insan fakir dan miskin yang beriman dan beramal saleh; entah itu fakir dan miskin dalam bersikap atau fakir dan miskin dalam kondisi hidup.

Harapannya  agar kita masuk dalam doa lirih Nabi yang ini: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Majah). (Muaz)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.