“Kita saksikan dunia Islam akhir-akhir ini tengah bergejolak. Banyak konflik dan perpecahan terjadi justru di kalangan Muslim sendiri. Padahal, Nabi Muhammad saw. itu Rasul rahmatan lil’alamin; Rasul pembawa kedamaian [Rasulu-sulhi], Rasul yang penuh toleransi [Rasulut-tasamuh].  Tapi, kenapa umatnya justru berperilaku sebaliknya. Ada apa dengan Islam dan umat Islam?” Demikianlah pernyataan plus pertanyaan menohok yang dilontarkan Prof. Dr. Muhammad Syevki Aydin, salah seorang mufti Turki saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Konferensi Pendidikan Islam Internasional Jakarta-Istanbul pada 22-24 Desember 2015 lalu di Jakarta.

Mewakili sejumlah ulama dan akademisi delegasi Turki, lelaki yang kerap dipanggil Prof. Syevki [baca: Syauqi] ini menyatakan bahwa pokok masalah tersebut sejatinya terletak pada dunia ta’lim [pengajaran] dan tarbiyah [pendidikan] Islam sendiri. Bila pokok masalah ini diterapkan dengan sistem dan metodologi yang baik, maka problem-problem tersebut akan terjawab. Seraya mengenang momen milad Rasulullah, lantaran konferensi internasional ini memang bertepatan dengan tanggal 11-12 Rabi’ul Awwal, ia mengapresiasi dan berterimakasih bila MUI Provinsi DKI Jakarta menggagas konferensi ini. Sebab, acara ini berarti sebuah ikhtiar mulia untuk menjawab secara bersama-sama pertanyaan: dimana Islam dan umat Islam sekarang?

Ya, bagi MUI DKI Jakarta sendiri, sebagaimana dilansir  KH.Thoyib Sah Saputra, M.Pd selaku Ketua Panitia Pelaksana, terselenggaranya konferensi internasional antar Jakarta-Istanbul ini memang bukan sekadar penjajakan kerjasama dalam hal pendidikan Islam bagi kedua kota dan negara, tapi juga ingin mendapatkan pelbagai masukan dan gagasan seputar sistem dan metodologi sistem pendidikan Islam antar  Jakarta [Indonesia] dan Istanbul [Turki] demi terwujudnya masyarakat Muslim yang damai, harmonis, serta penuh toleransi dalam menghaapi tantangan global ke depan. Lebih-lebih, imbuh KH. Thoyib, jalinan kerjasama antara Jakarta dan Istanbul sudah terbina sejak lama. Ditambah pada tahun 2007 lalu, kedua kota metropolitan mencanangkan hubungan bilateralnya sebagai Sister City, dimana kedua kota tersebut bersepakat membangun kerjasama di bidang kesehatan dan pendidikan.

foto bersama

Sementara itu, selaras dengan Prof. Syevqi dan Ketua Panitia, KH. A. Syarifuddin Abdul Gani, MA, selaku Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, juga menambahkan bahwa konferensi ini terasa kian relevan menimbang sejarah Turki yang pernah menjadi jantung dunia Islam dimana kekhalifahan terbesar, Turki Utsmani, pernah gemilang mewarnainya. Banyak pemuka-pemuka Islam hadir di wilayah tersebut.  Karenanya, tak aneh bila pendidikan Islam Turki pun sudah terbina dengan baik dan sukses, terutama sekali terkait penerapan modernisasi di dunia Islamnya. “Kita bisa belajar dari Turki. Apalagi, sesuai himbauan pemerintah RI melalui Kementrian Agama RI bahwa masyarakat dunia berharap besar akan Islam di Indonesia, menimbang  kondisi politik Timur Tengah terus bergejolak dalam konflik hingga saat ini,” tegasnya. Dalam sambutan pada acara yang berlangsung di Hotel Grand Cempaka itu, KH. Syarifuddin pun berharap bila konfrensi serupa bukan hanya melibatkan Jakarta dan Istanbul saja, tapi juga dengan kota-kota besar lainya di negara yang berbeda. Terutama sekali, di negara-negara ASEAN, mengingat 2016 sudah memasuki era MEA [Masyrakat Ekonomi ASEAN].

Dalam konferensi yang dihadiri oleh peserta dari pengurus MUI tingkat kota dan wilayah Jakarta, pendidik pondok pesantren, pimpinan ormas Islam, akademisi dan pengamat pendidikan, serta segenap ulama dan kyai Jakarta ini, hadir pula Duta Besar Turki, Zakeriya Akcam dan Kepala Birodikmental Provinsi DKI Jakarta [mewakili Gubernur Provinsi DKI Jakarta], Drs. Ahmad Ghozali. Pada pembukaan acara, keduanya tampak sangat antusias atas terselenggarnya acara ini mengingat hubungan kedua negara, Indonesia-Turki, sudah terbina sejak lama sekali. Untuk itu, bagi keduanya, konferensi ini diharapkan bukan sekadar pertukaran informasi ihwal pendidikan Islam, tapi juga penjajakan kerjasama bilateral kedua kota dan kedua negara. Malah khusus untuk Jakarta, dalam acara yang juga diselingi hiburan musik gambus ini, Ahmad Ghozali  menekankan agar mutu pendidikan Islam Jakarta harus setara  dengan kota-kota dunia. Untuk itulah dibutuhkan inovasi-inovasi dalam lembaga pendidikan Islam, terutama sekali terkait konteks Jakarta-Istanbul. “Hal ini menjadi penting demi menghadapi tantangan global sekaligus agar bisa berdaya saing,” ujarnya seraya resmi membuka acara konferensi.

Ihwal Pendidikan Islam di Indonesa dan Turki

Selama dua hari berlangsung, konferensi internasional dibagi menjadi dua sesi. Dalam sesi pertama membahas Pendidikan Islam di Turki [Prospek dan Tantangan Masa Kini dan Masa Depan] dengan pembicara Prof.  Dr. Ergun Yildirim [Turki], dan seputar Tantangan dan Prospek Pendidikan Islam Indonesia Kini dan Masa Depan yang disajikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. [Indonesia]. Keduanya mengupas pendidikan Islam dari sisi sejarah berdasarkan riset dan pengalaman mereka di dunia pendidikan Islam. Prof Ergun, misalnya menyinggung bahwa sejarah pendidikan Islam di Turki mengalami tiga fase penting yang mengikuti kebijakan politik dari pemerintahan Turki pada setiap masanya. Fase pertama, era klasik [Turki Ustmani]. Pada masa ini, pendidikan agama di Turki bisa dijalani dengan baik secara tradisional. Ada sejumlah madrasah yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Kekhasan pada masa ini, setiap madrasah dan pesantren berhubungan dengan darwisnya. Sayang, pasca 1924, yakni memasuki fase kedua pendidikan agama di Turki, pendidikan Islam mengalami kemunduran yang luarbiasa. Kala itu, Turki memasuki era sekularisme dan modernisasi yang super ketat sehingga banyak madrasah-madrasah yang ditutup. Sejumlah ekspresi keagamaan pun dilarang. Pemerintah Tukri di zaman itu menolak dan menonaktifkan warisan serta tradisi Utsmani. Undang-undang negara Turki melarang pendidikan agama dengan alasan akan menghambat kemajuan dan peradaban Turki.  “Pada masa ini peran civil society sudah lenyap,” tegas Prof. Ergun. Kendati demikian, memasuki fase ketiga yakni sejak 1950, pendidikan agama mulai bersemi kembali. Kekuatan civil society mulai nampak lagi. Kebebasan mengekspresikan kehidupan beragama muncul kembali. Madrasah-madrasah lahir kembali. Salah satunya yang terkenal dan banyak muridnya adalah Madrasah Imam Hatip [Imam Hatip School].

Bila Prof. Ergun membincang sejarah pendidikan agama di Turki, Prof. Azra  menyinggung sejarah pendidikan Islam di Tanah Air. Dalam ceramahnya, Prof. Azra menekankan bahwa sejarah pendidikan Islam di Indonesia itu punya sejarah panjang. Sebelum abad 19, pendidikan agama Islam itu diajarkan di masjid-masjid, surau-surau, atau pesantren-pesantren kecil. Saat itu, pengajaran dan pendidikan bukan secara formal dan klasikal. Namun, memasuki abad 19, pendidikan agama mengalami kemajuan pesat. “Hal ini dikarenakan, banyak para ulama-ulama muda Tanah Air, para haji, yang pulang dari Mekkah dan Madinah mendirikan pondok pesantren [ponpes] secara kelembagaan,” jelasnya.  Malah, menurut Prof. Azra, ponpeslah yang kala itu menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam bagi pribumi Indonesia di zaman kolonial Belanda. Hebatnya, ponpes-ponpes tersebut dikelola secara mandiri oleh umat Islam sendiri. Hal ini terus berlanjut hingga sekarang. Karenanya, imbuh Prof. Azra, tidak aneh bila umat Islam Indonesia tidak bisa dikooptasi kekuasaan [negara]. “Misalnya, ceramah dan khutbah seorang kyai di masjid-masjid  tidak perlu ada izin dari pemerintah  terlebih dahulu. Berbeda dengan Malaysia dan Turki,” ujarnya.

Dalam presentasinya, Prof. Azra menekankan tiga institusi penting dalam pendidikan Islam di Indonesia. Pertama, pondok pesantren. Ada tiga peran yang diajarkan di dalam pesantren, yakni tempat transmisi ilmu-ilmu keislaman untuk generasi muda, tempat memelihara tradisi Islam, dan tempat reproduksi para ulama; Kedua, sekolah-sekolah Islam. Lembaga model ini tumbuh sekitar awal abad XX. Contohnya sekolah Islam yang didirikan organisasi Muhammadiyyah. Kurikulum yang diajarkan biasanya 70 % umum dan 30% agama. Ketiga, madrasah-madrasah. Institusi pendidikan Islam ini berkembang sekitar 1912-1920. Madrasah Jami’at Khair adalah pelopornya. Tidak kalah dengan sekolah umum, madrasah pada masa ini pun dibuat dengan sistem klasikal dan modern. Ghalibnya, kurikulumnya 70% materi agama dan 30% sisanya diisi materi umum. Alhamdulillah, berkat pendidikan Islam Indonesia yang berhubungan secara integral dengan sistem pendidikan nasional, ketiga institusi penting tersebut hingga kini tetap eksis dan berkembang biak dengan pesatnya.

Pada sesi kedua konferensi, pembicara yang berkesempatan ceramah adalah Prof. Dr. Muhammet Syevki [Turki], KH. Muhyiddin Junaedi, MA [Indonesia], Prof. Dr. Dede Rosyada [Indonesia], Halit Bekiroglu [Turki] dan  Dr. Fatih Serenli [Turki]. Dalam tajuk Peran Ulama Turki dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Era Republik, Prof. Syevki  lagi-lagi menekankan betapa pentingnya peran ulama dalam mengajarkan dan mendidik generasi Muslim. Hal ini tidak hanya di Turki, tapi juga di dunia Islam. Baginya, di tangan ulamalah pusat masalah dunia Islam itu. “Ulama seyogyanya memiliki bekal dalam berdakwah, karena kedudukanya yang penting dan strategis untuk membimbing umat. Sebab, bila ulama tidak punya bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni dan kekinian, umat akan terpecah dan mengalami kemunduran,” demikian tegasnya. Di Turki sendiri, jelas Prof, Syevki, para ulama memberi pembinaan ke ribuan masjid-masjid di Turki, termasuk materi-materi agama yang hendak disampaikan. Hal ini guna memudahkan pembinaan umat Islam di Turki.

Sementara itu, Prof. Dr. Dede Rosayda menyoroti ihwal Pendidikan Islam di DKI Jakarta Pasca Kemerdekaan RI 1945. Menurut pembicara yang saat ini menjadi rektor UIN Syarif Hidayatullah, Islam adalah agama mayoritas penduduk DKI Jakarta dan sudah sangat maju dalam mentransformasikan lembaga pendidikan keaagamaan yang berbasis langgar dan masjid, pesantren-pesantren, dan madrasah-madrasah. Beliau mencirikan tiga macam pendidikan Islam di Jakarta, plus di Indonesia secara umum. Antara lain pendidikan Islam model madrasah, diniyyah dan pesantren. Dalam ciri madrasah, jelasnya, diberikan layanan pendidikan pada masyarakat Muslim yang dikelola oleh Kementrian Agama. Madrasah ini ada yang berbentuk formal maupun informal. Yang formal lazimnya berstruktur dan berjenjang, mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyyah [SD], Tsanawiyyah [SMP], hingga Aliyyah [SMA]. Sedang dalam ciri kedua, diniyyah, yang diatur dalam PP. No. 55/2007, sebagai pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam rangka mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama. Sementara dalam ciri pondok pesantren, urainya, lembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainya. “Ketiga model demianlah yang ada dan berkembang di Indonesia,” tegasnya.

Selepas Prof. Dede berbicara, Halit Bekiroglu dan Dr. Fatih Serenli memaparkan seputar Pengalaman dan Peran Imam Hatip Schools dalam Pendidikan Islam di Turki. Keduanya menyajikan secara detil dan terang ihwal lembaga bernama Imam Hatif yang banyak mencetak para ulama dan figur-figur Muslim berpengaruh di Turki. Betapa tidak berpengaruh bila para alumninya sendiri, untuk menyebut beberapa nama, adalah Reccep Tayyip Erdogan [Presiden Turki sekarang], Mehmet Muezzinoglu [Mentri Kesehatan Turki],  Nazim Ekren [Wakil PM Turki], dan lain-lainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Menurut Helit yang saat ini menjabat Ketua Umum Onder, Asosiasi Alumni dan Anggota Imam Hatip School Turki, lembaga Imam Hatip Schools adalah institusi pendidikan agama yang utama dan penting untuk mengajarkan pendidikan Islam di Turki. Tugasnya menyiapakan para pelajar Muslim Turki mendapatkan ilmu-ilmu agama Islam secara spesifik dan umum pada tingkat menengah hingga atas.

Ihwal pendirian Imam Hatip School pada tahun 1950-an ini sendiri awalnya dari keprihatinan ulama-ulama Turki sendiri terkait kondisi masyarakat Muslimnya selepas periode sekularisme yang diregulasikan pemerintah Turki. Banyak Muslim Turki yang limbung dan kesulitan untuk menjalani kehidupan beragama. “Salah satu kasusnya banyak keluhan masyarakat tiadanya imam yang bisa menyalatkan jenazah di beberapa tempat,” ujar Dr. Sirenli.  Belum lagi kasus-kasus lainya. Semua itu akibat kebijakan yang benar-benar menafikan pendidikan agama Islam.

Saat ini, jaringan lembaga pendidikan Islam Imam Hatip School sendiri sudah tumbuh secara dramatis, baik nasional maupun internasional. Menurut Dr. Sirenli, ada sekitar 3184 sekolah dan 1.200.000 siswa yang terhimpun dalam Imam Hatip Schools di Turki. Hal ini menunjukkan betapa minat, harapan dan tuntutan masyarakat Muslim Turki akan pendidikan Islam begitu besar dan penting.

Berbeda dengan Prof. Syevki dan narasumber-narasumber sebelumnya, KH. Muhyiddin Junaedi MA justru menyoroti problem umat Islam yang berbeda namun penting dicermati. Ia membahas seputar Sikap Umat Islam Menyongsong Pasar Bebas ASEAN 2016. Menurut pembicara yang saat ini menjabat Ketua MUI Pusat Bidang Kerjasasama Internasional Hubungan Luar Negeri, Muslim Indonesia itu sekitar 220 juta dari 253 juta penduduk Indonesia. Untuk angka sebesar itu, dalam bidang agama, insya Allah, tidak diragukan keterlibatan dan peran umat Islam. Apalagi, Muslim Indonesia dikenal paling toleran sedunia. Sayang, jumlah tersebut belum sebanding dengan perannya di sektor ekonomi. Hal ini bisa dilihat dalam rilis orang terkaya Indonesia di Majalah Forbes 2014 yang menyebutkan hanya satu saja yang Muslim. Hal ini diperparah dengan data kepemilikan kekayaan nasional yang hanya dimiliki 20% oleh umat Islam. Pasalnya, lanjut Kyai berperawakan kecil ini, 80% sisanya dimiliki oleh kelompok minoritas yang akhirnya menentukan kebijakan nasional Indonesia, dan ujung-ujungnya pereekonomian Indonesia pun akhirnya ada di lingkaran mereka. Mengetahui fakta tersebut, terlebih pada era MEA yang 2016 ini resmi berlaku, maka umat Islam mesti berubah dan melakukan terobosan besar.

“Pasar bebas ASEAN menciptakan kesempatan dan sekaligus tantangan. Jumlah penduduk Indonesia dan umat Islam yang besar harus menjadi modal untuk menggalang persatuan dan solidaritas keagamaan. Sumber Daya Alam [SDA] dan Sumber Daya Manusia [SDM] umat Islam adalah aset untuk meningkatkan bargaining position. Hal ini tentu saja dengan syarat SDM yang berkualitas,” paparnya, menggebu-gebu. Kiranya, apa yang disampaikan Kyai Muhyiddin tidak berlebihan dan menjadi PR terbesar buat umat Islam Indonesia semua. Dan semua itu tidak bisa berhasil kecuali umat Islam menata dengan baik model dan metodologi pendidikan Islam.

Sejumlah materi konferensi pendidikan Islam internasional antar dua kota besar ini mungkin akan menjadi wacana saja bila tidak ada langkah konkret dari kedua belah pihak untuk berkontribusi bagi umat Islam. Untuk itulah, dalam sesi penutupan konferensi ini, masing-masing pihak merumuskan dan merekomendasikan beberapa poin penting untuk segera diimplementasikan secara bersama-sama dan win-win solution. [muaz/pelbagai sumber]

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of