Bertempat di Hotel Gren Alia Prapatan, Jakarta Pusat, hari Kamis, 23 Oktober 2014,  Komisi Ekonomi MUI Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan workshop dengan tema “Menggali Potensi Ekonomi Melalui Wakaf & Zakat”.Sebagai narasumber adalah  K.H. M. Cholil Nafis, Ph.D,  Sekretaris Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Drs. H. Djubaedi, Kepala BAZIS DKI Jakarta.  Acara dihadiri oleh pimpinan dan pengurus MUI Provinsi DKI Jakarta,  pimpinan dan pengurus MUI kota dan kabupaten, perwakilan ormas Islam dan pengelola BMT serta koperasi syariah.

Dalam paparannya, K.H. M. Cholil Nafis, Ph.D menyatakan bahwa tanah wakaf di Indonesia luar biasa luasnya, seperti luas sebuah negara. Namun, peruntukan tanah wakaf ini tidak produktif sehingga membebani, bukan memberikan kontribusi. Di Makah, Kuwait, Negara Bagian Terengganu Malaysia, dan Qatar, tanah wakaf menjadi produktif karena diperuntukan untuk usaha, seperti pusat perbelanjaan (mall), hotel, apartemen, gedung pertemuan, dan lain-lain. Sedangkan di Indonesia, tanah wakaf umumnya masih diperuntukan untuk pemakaman, tempat ibadah, dan pendidikan. Maka, menjadi tugas ulama untuk memberikan pemahaman tentang wakaf produktif ini.

Sedangkan Drs. H. Djubaedi menyatakan untuk tahun 2014 sampai di bulan Oktober, penerimaan ZIS oleh BAZIS DKI Jakarta sebesar Rp. 102 milyar. Padahal pada tahun 2013 sebesar Rp. 97 milyar lebih, Bertambahnya peneriman ZIS oleh BAZIS DKI Jakarta ini berkat kerja keras para petugas dan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap BAZIS DKI Jakarta. ZIS yang diterima kemudian disalurkan kepada ashnaf, kecuali amilin yang sudah ditanggung oleh APBD yang juga sebagian ditujukan untuk usaha-usaha produktif. ***