Saat momen-momen keprihatinan menyergap Anda, ada baiknya kita bercermin kepada Khalifah Ali

 

Kemanakah kita layak bercermin saat kemiskinan begitu menjerat? Kemanakah kita berkaca saat iman mulai goyah karena diterpa keterpurukan hidup? Ali bin Abi Thalib. Ya, kepada khalifah paling “bungsu” dan muda itulah barangkali kita bisa berguru.

Dialah menantu yang sejak menikahi putri Rasulullah saw, Fatimah, hanya berbekal sebuah baju zirah; sebuah baju perang dari besi yang kemudian dijual dan dijadikan mahar untuk meminang putri kesayangan Nabi Muhammad. Kita tahu, saat itu, sejarah mencatat betapa banyak para sahabat yang kaya raya ingin sekali menjadi mempelai pria Fatimah. Abu Bakar bin Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Abdurrahman bin Auf adalah di antara para sahabat yang pernah mengutarakan niatnya meminang Fatimah. Tapi Nabi menolak mereka. Dan Ali-lah sang pemenangnya. Rahasianya hanya satu:  iman yang kokoh. Ia hanya bermodalkan cinta kepada Allah, Rasulullah dan Islam.  Bukan harta melimpah, bukan juga kilau dunia yang menggoda.

Syahdan, rumah tangga Ali dan Fatimah pun masyhur dihiasi dengan pelbagai kisah yang menggetarkan hati. Bayangkan, suatu hari, seorang putri kinasih Rasul harus rela menahan lapar karena suaminya yang tidak mampu menafkahinya.

“Bagaimana keadaanmu, anakku?” tanya Rasul saat mengunjungi Fatimah yang sedang sakit di rumahnya.

“Kepalaku sakit. Bertambah sakit karena aku belum makan. Tidak ada makanan yang dapat aku makan.” Rintih Fatimah kepada ayahnya. Lalu, tahukah Anda jawaban Rasul kepada putrinya itu? Apakah ia menyalahkan Ali yang tak mampu memberi anaknya makanan?

“Berbahagialah engkau. Engkaulah pemimpin seluruh wanita di dunia,” demikian jawab Nabi. Beliau tidak murka kepada Ali, karena ia sejatinya memang tahu bahwa hidup Ali begitu sederhana dan memprihatinkan. Beliau tahu kalau menantunya itu seringkali mengorbankan diri demi orang lain yang juga kelaparan dan miskin. Beliau tahu  bahwa Ali adalah suami terbaik yang diridhai Allah dengan cahaya iman yang begitu meneduhkan. “Anakku, ayah dan suamimu tidak miskin. Aku telah ditawari harta dunia, tapi aku memilih apa yang ada pada Tuhanku. Anakku, sesungguhnya Allah telah melihat ke bumi, lalu Dia memilih ayahmu dan suamimu. Anakku, sebaik-baik suami adalah suamimu,” begitulah Nabi meyakinkan Fatimah saat wanita-wanita Quraisy menggunjing ihwal kondisi suaminya yang serba kekurangan.

Ada baiknya juga bila kita tengok sebuah hadits yang pernah termaktub dalam Kitab Usfuriah. Dikisahkan begini:

Sa’id bin Musayyab menceritakan tentang kondisi Khalifah Ali bin Abi Thalib.   Suatu hari, Ali keluar dari rumahnya dan bertemu dengan Salman Al-Farisi.

“Apa kabar, Abu  Abdillah [nama panggilan Salman Al-Farisi]?”  tanya Ali.

“Kabar saya, wahai Amirul Mukminin, menyangkut empat keprihatinan,” jawab Salman. “Keprihatinan tentang apa? Semoga Allah merahmatimu.”

“Keprihatinan tentang keluarga yang selalu membutuhkan roti; keprihatinan sebagai hamba yang harus taat kepada Allah; keprihatinan kepada setan, yang selalu mengajak maksiat; dan keprihatinan terhadap Malaikat Maut yang akan mencabut ruh saya.”

“Bergembiralah, Abu Abdillah!” ujar Ali, “pada setiap hal yang tadi itu, engkau memiliki derajat.” Ali lalu bercerita:

Suatu hari, aku datang kepada Rasulullah, dan beliau bertanya kepadaku: “Apa kabarmu pagi ini,  Ali?”

“Rasulullah, saya sudah tak memiliki apa-apa lagi di rumah, kecuali air. Ini memprihatinkan saya. Lalu saya prihatin terhadap ketaatan saya sebagai hamba Allah. Kemudian keprihatinan akan semua akibat perbuatan yang saya lakukan, dan keprihatinan akan datangya Malaikat Maut,” demikian jawabku.

Nabi lalu berkata: “Bergembiralah, Ali! Sesungguhnya keprihatinan itu merupakan tabir pelindung dari neraka. Keprihatinan terhadap ketaatan seorang hamba penciptanya adalah pengamannya dari azab. Keprihatinan terhadap akibat kelakuan sendiri adalah jihad dan melebihi keutamaan ibadah 60 tahun. Sedang keprihatinan terhadap Malaikat Maut adalah penghapus dosa-dosa.”

“Ketahuilah, Ali,” imbuh Nabi lagi, ”keprihatinanmu itu tidak mempengaruhi rezekimu, tetapi memberimu pahala. Karena itu, bersyukurlah kepada Allah, dan jadilah orang tawakal, niscaya kau akan menjadi kekasih Allah.”

“Dengan apa saya bersyukur? ” tanyaku kepada Rasulullah.

“Dengan Islam, “ jawab Nabi.

“Dengan apa saya taat kepada Allah?”

“Dengan mengucapkan la haula wala Quwwata illa billahil ‘ Aliyyil azhim”.

“Lalu apa yang harus saya singkirkan?”

“Amarahmu”, jawab Nabi. “Menyingkiri rasa amarah akan memadamkan amarah Tuhan. Juga memberatkan timbangan amalmu serta menuntunmu ke surga.”

Salman al-Farisi lalu berkata: “saya memang sangat prihatin akan hal hal itu, terutama yang menyangkut soal keluarga.”

Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tak pernah memprihatinkan keluarganya, ia tak memiliki bagian di surga,” sahut  Ali.

Lalu, Salman menyergah: “Bukankah Nabi juga pernah bersabda: “Seorang pengasuh keluarga tak akan bahagia selama-lamanya?”

Ali menjawab: “Bukan begitu maksudnya. Jika pekerjaan halal, tentunya, kau bahagia, Salman. Surga disiapkan untuk mereka yang prihatin dan sedih dalam mencari yang halal.”

Demikianlah, tips menyikapi hidup saat seseorang dilanda keprihatinan yang diajarkan Nabi kepada Imam Ali.

Kita semua tahu bahwa bertahan hidup di zaman sekarang ini sungguhlah berat. Pekerjaan yang langka. Kebutuhan hidup yang harganya kian melambung. Semua itu kerap membuat seseorang memilih jalan yang tidak diridhai Allah; mengais rezeki dengan cara-cara yang tidak baik dan halal.

Nah, saat momen-momen keprihatinan menyergap Anda, ada baiknya kita  bercermin kepada pesan Khalifah Ali tersebut. Bahwa ujian hidup yang memprihatinkan itu, kelak, akan mengantarkan seorang hamba pada surga-Nya.

Sebab, kita mafhum, betapa ujian kekurangan, kemiskinan, keprihatinan dan kawan-kawannya adalah ujian yang kerap menggelincirkan seseorang kepada kekufuran. Tentu, kita semua tak ingin termasuk di dalamnya, bukan? Semoga.

[Muaz [muaz.abdillah@gmail.com]/foto: www.unhcr.org/ Sumber acuan: Fathimah, The True Story of Muhammad and Khadijah’s Beloved Daughter (Arifa Publishing, Jakarta: 2008) dan Kitab Usufuriah, Kisah-Kisah Hikmah Dari Lektur Pesantren [Pustaka Firdaus, Jakarta: 1993]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.