IMG_1471

Daerah Luar Batang, Jakarta Utara. Sebuah penanda penting dan istimewa bagi warga Muslim Betawi.

Lokus bersejarah itu di Luar Batang. Bagi sebagian besar Muslim Betawi, inilah salah satu magnet spiritual yang istimewa. Pasalnya, di tempat ini dikubur sang wali– seorang habib, seorang kekasih Allah yang masyhur akan ilmu dan karamahnya. Dialah Habib Husein bin Abu Bakar Al-Aydrus [1169-1756] atau yang populer dengan sebutan Habib Kramat Luar Batang.  Makamnya yang ditanam di areal Masjid Kramat Luar Batang, Jakarta Utara, itu tak pernah sepi peziarah, baik  dari pelbagai daerah maupun dari negara tetangga. Pertanyaanya kemudian kenapa daerah yang berada di wilayah Penjaringan ini masyhur dengan sebutan Kampung Luar Batang?

Syahdan, sebagaimana dilansir harian Kompas, pada zaman dahulu, seorang Gubernur Belanda pernah menghadiahkan tanah seluas 14  hektar kepada Habib Husein. Saat itu, tanah yang luas itu ibarat sebuah pulau; sering banjir dan suka surut akibat air laut pasang. Namun, belakangan, sejak dibangun kanal-kanal dan tanggul penahan air laut, kampung ini sudah jarang terkena banjir. Suatu hari, saat Habib Husein meninggal dunia, ada rencana agar jenazahnya dimakamkan di sekitar  Tanah Abang. Namun, setelah sampai di pemakaman, jenazahnya ternyata tidak ada di dalam kurung batang, melainkan berpindah ke kamarnya yang sekarang ada di areal masjid.  Karena takjub, orang-orang awam menceritakan peristiwa jenazahnya keluar dari kurung batang.

Sejak saat itulah, kampung tersebut populer dengan istilah “Luar Batang”.  Dan masjid yang bernama aslinya Masjid An-Nur ini pun masyhur juga dengan sebutan Masjid Luar Batang. Sementara dalam catatan sejarah yang dibuat orang Belanda, Luar Batang sendiri artinya daerah di luar batang [groote  boom], yang menutup Pelabuhan Sunda Kelapa pada malam hari di zaman dulu. Dalam pada itu, kata Keramat yang  sekarang ini populer  bisa dirujuk pada peta-peta Batavia abad ke-19 dimana  Masjid Luar Batang terkadang ditulis dengan tulisan heiling graf, artinya Masjid Keramat.

Terlepas dari keabsahan ceritanya yang paling sahih, wilayah Masjid Keramat Luar Batang adalah saksi bisu penyebaran Islam. Dan tokoh sentralnya adalah pendirinya, Habib Husein– seorang ulama shaleh keturunan Arab dari Yaman yang pernah menyebarkan Islam di Batavia dan Surabaya abad 17-18.  Dari tak pernah surutnya para peziarah ke makam beliau, sepertinya tergambar bahwa sang habib yang wafat pada usia 40 tahun itu telah berhasil menunjukkan ajaran Islam yang berharga bagi warga sekitar Penjaringan, Jakarta Utara, dan daerah lainya.  Hal ini diakui LWC Van Der Berg dalam bukunya seputar orang Arab di nusantara yang ditulis pada tahun 1886. Katanya: “Cendekiawan Hadramaut pertama adalah Sayyid Husein bin Abu Bakar Alaydrus, yang meninggal pada 1798, setelah mengajar selama bertahun-tahun. “

Kini,  masjid yang beralamat di Jalan Kampung Luar Batang V No. 1 Penjaringan, Jakarta Utara ini berdiri di atas lahan 3500 meter persegi dengan 12 tiang penyangga,  dan tidak pernah sepi pengunjung.  [Muaz/pelbagai sumber/foto: dok.pribadi]