Kamis 18 Desember 2014, ibu Elly Risman ditunjuk oleh MUI untuk menjadi saksi ahli dalam sidang MK tentang Gugatan UU Perkawinan (UU No 1 Tahun 1974).

Ada beberapa pihak yang melayangkan Gugatan untuk mengubah usia nikah perempuan Indonesia dari yang semula 16 tahun menjadi 18 tahun.

MUI menjadi pihak yang akan mempertahankan agar pasal usia ini tidak berubah.

Di bawah ini kami jelaskan beberapa alasan mengapa usia nikah perempuan tetap dipertahankan 16 tahun,  ketimbang dinaikkan menjadi 18 tahun:

Berdasarkan data yang kami miliki, dari Ibu Khofifah Indar Parawansa, pada 2013:
– 600.000 anak Indonesia usia 10-11 tahun dan
– 2,2 juta remaja Indonesia usia 15-19 tahun hamil di luar nikah.

Dengan angka ini, Indonesia menyumbang sebanyak 13,7% populasi dunia di bidang:
“Anak dan Remaja yang Hamil di Luar Nikah” !!!

Deputi Bidang KBKR BKKBN, dr. Julianto Witjaksono AS., MGO., Sp.O.G., KFER menyatakan:
– 4,8% kehamilan di luar nikah terjadi pada anak 10-11 tahun, – 48,1% kehamilan di luar nikah terjadi pada anak 15-19 tahun, terutama pada usia 17 tahun.

Jika usia nikah dinaikkan menjadi 18 tahun, menjadi semakin sulit anak-anak kita menjaga dirinya dari zina. Lebih baik menikah di usia muda, daripada hamil di luar nikah dalam usia muda.

Kematian Ibu saat melahirkan, disebabkan paling utama karena pendarahan, dimana penyebab tak langsungnya karena ANEMIA.

Pil pahit yamg perlu kita akui adalah bahwa anak usia 16 maupun 18 tahun, sama-sama tidak siap menikah baik secara mental, intelektual, psikologis, maupun spiritual.

Jadi, ini bukan tentang usia berapa. Tapi, disiapkan atau tidak?

Maka dari itu, kami memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar gugatan perubahan terhadap UU Perkawinan ini DITOLAK Mahkamah Konstitusi ! (Sumber: K.H. Wahfiudin Sakam).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.