Dari Tanah Suci, Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta, Dr. K.H. Ahmad Lutfi Fathullah Mughni, M.A, yang sedang menjalanan ibadah umrah, menghimbau kepada kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat Sunah Gerhana Bulan pada petang jelang malam ini ( Sabtu, 4/4/2015).

Dari penjelasan yang diterima oleh redaksi dari H. Harijanto, Kepala Lembaga Falakiyah NURIS Astro yang juga pengurus MUI Jakarta Utara bahwa sesuai siklus manzilah (perputaran/posisi) BBM (Bulan-Bumi-Matahari), pada hari Sabtu 4 April 2015 M atau 15 Jumaditstsani 1436 H akan terjadi Gerhana Bulan Total. Proses gerhana ini akan dapat diamati secara menyeluruh di Indonesia kecuali Sumatera dan Jawa. Proses terjadinya fenomena alam ini akan dimulai pukul 16.04 WIB sampai dengan 22.00 WIB. Namun khusus di Jakarta, Bulan akan terbit di ufuk Timur pada pukul 17.54 WIB pada posisi azimuth 95° 05’ 54” dan tentunya sudah dalam keadaan gerhana sebagian. Untuk lebih jelasnya, fase Gerhana Bulan dapat digambarkan sebagai berikut :

Fase Gerhana Bulan

17.54-18.55 WIB      : Gerhana Bulan Sebagian (GBS)

18.55-19.09 WIB      : Gerhana Bulan Total (GBT)

19.09-22.00 WIB      : Gerhana Bulan Sebagian (GBS)

22.00 WIB                  : Normal kembali.

Pengertian

Gerhana bulan atau khusuf diambil dari kata kerja dasar khasafa yang artinya berkurang. Gerhana Bulan pasti terjadi pada saat pertengahan bulan hijriyah yang seharusnya Bulan nampak bulat sempurna dan terang benderang. Tiga benda angkasa pilihan Allah tersebut yang bernama BBM (Bulan-Bumi-Matahari) membentuk satu garis lurus. Namun karena tertutup oleh bayangan Bumi, maka nur (cahaya) Bulan nampak gelap sebagian atau bahkan tertutup sama sekali.

Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat Gerhana dilakukan secara berjamaah sebanyak dua raka’at di Masjid, dengan urutan sebagai berikut :

  1. Berdiri menghadap kiblat, takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca ta’awudz, membaca al-Fatihah, dan membaca surat yang panjang.
  2. Takbir, ruku’ dalam waktu yang lama.
  3. Membaca sami’allahu liman hamidahu rabbana lakal hamdu’, berdiri kembali, lalu membaca ta’awudz dan al-Fatihah, lalu membaca surat yang panjang, namun lebih pendek dari surat yang dibaca pada saat berdiri pertama.
  4. Takbir, ruku’ dalam waktu yang lama, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama.
  5. Membaca ‘sami’allahu liman hamidahu rabbana lakal hamdu’, berdiri kembali (i’tidal)
  6. Takbir, lalu sujud, lalu duduk di antara dua sujud, lalu sujud.
  7. Takbir, berdiri untuk raka’at kedua, gerakannya sama seperti gerakan pada raka’at pertama, namun panjang bacaannya surat lebih pendek.
  8. Setelah tasyahud akhir lalu salam.

Dengan demikian, maka shalat gerhana memiliki perbedaan dengan shalat-shalat lainnya, yaitu terdiri dari 4 surat Al-Fatihah, 4 ruku’ dan 4 sujud. Selamat Beribadah! *** (RZK).

 

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of