Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Muhammad artinya yang terpuji, terpuji akhlaknya,  menjadi teladan yang baik untuk semua manusia sampai akhir zaman. Karenanya, Allah SWT dan para malaikat pun bershawalat kepadanya.

Akhlaknya yang terpuji terpancar dari sifat pengasih dan penyayangnya. Kasih dan sayangnya kepada sesama makhluk tiada tanding dan tiada banding; bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya.

Kasih sayangnya beliau limpahkan kepada manusia, bukan kepada umat Islam saja, tetapi juga kepada non Muslim. Kisah yang masyhur tentang seorang Yahudi tua yang buta, pembenci beliau, yang sering disuapi makan oleh Rasulullah SAW adalah salah satu buktinya.

Juga kasih sayangnya kepada hewan teramat besar. Kisah kasih sayang Rasullah SAW kepada  kucing peliharannya yang bernama Mueeza adalah contohnya.  Suatu saat, di kala Rasulullah SAW hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas jubahnya. Tidak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu,  Rasulullah SAW pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Rasulullah SAW kembali ke rumah, Mueeza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Rasulullah SAW menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan kucing itu sebanyak tiga kali.

Kepada tanaman, Rasulullah SAW juga melimpahkan kasih sayangnya. Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka.

Kasih sayang Rasulullah SAW yang sangat besar kepada sesama makhluk, membuat beliau kehilangan sifat dengki, hasad dan dendam. Kisah Fathu Makkah menjadi contohnya. Betapa herannya para musuh Islam, kafir Quraisy, ketika umat Islam berhasil menaklukan kota Makkah, orang-orang yang selama ini membenci bahkan memerangi umat Islam tidak dibalas dengan kekerasan, tidak ada darah tertumpah, tidak ada yang terbunuh, dan tidak ada yang dipaksa untuk masuk Islam. Bahkan kepada Hindun, istri Abu Sufyan, yang telah mengunyah-ngunyah jantung Hamzah, paman yang teramat dicintainya,  Rasulullah SAW tidak memberikan balasan di saat Fathu Makkah.

Dikisahkan pada saat ribuan umat Islam hampir sampai ke kota Makkah, Abu Sufyan segera berlari menuju pusat kota Makkah. Setibanya di sana, ia langsung berteriak sekuat tenaga, ”Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tiba di sini. Ia membawa pasukan yang tidak mungkin kalian lawan, maka menyerahlah. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, berarti dia selamat.”

Mendengar teriakan suaminya, Hindun segera mendekat dan memegang kumisnya, seraya berkata, ”Bunuh saja orang yang sama sekali tidak berguna ini. Engkau adalah seorang tokoh yang sungguh memalukan!”

Abu Sufyan membalas, ”Wahai segenap orang Quraisy, jangan termakan oleh ucapan wanita ini. Aku tidak main-main. Muhammad datang dengan pasukan yang tidak mungkin kalian lawan. Siapa yang masuk rumah Abu sufyan, maka dia selamat.”

Orang-orang Quraisy berkata, ”Celakalah engkau! Bagaimana mungkin rumahmu cukup menampung kami semua?”

Abu Sufyan berkata lagi, ”Siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia selamat!”

Mendengar keterangan tersebut, orang-orang Quraisy segera berhamburan menuju rumah masing-masing dan masjid.

Di saat-saat seperti itulah, Islam masuk ke dalam qalbu Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, hancurlah sudah Quraisy. Besok, yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.”

Rasulullah berkata, ”Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”

Melihat kemenangan kaum Muslimin dan besaranya kasih sayang Rasulullah SAW, Hindun pun mendapatkan hidayah dan mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam pada Abu Sufyan.

Abu Sufyan menjawab, ”Kemarin, aku melihat engkau sangat benci mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan shalat; berdiri, ruku’, dan sujud.”…

Setelah membai’at kaum laki-laki, Rasulullah SAW membaiat kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbai’at, terdapat Hindun binti ’Utbah. Ia datang memakai pakaian yang tertutup. Ia takut dikenali oleh Rasulullah SAW karena tindakannya terhadap Hamzah di masa lalu. Namun, Rasulullah SAW mengenali Hindun dan memaafkannya.

Akhir kalam, jika setiap bulan Rabiul Awwal kita merayakan Maulid Nabi SAW, adakah keteladanan kasih sayangnya di atas menjadi bagian dari diri kita juga? Dapatkah kita memaafkan kepada orang yang  membenci kita, menistakan agama kita, padahal orang tersebut telah meminta maaf dan mengakui kesalahan atas perbuatannya? Shalluu `alannabi!***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.