Oleh KH. DR. Ahmad Syafi’i Mufid*

(Tulisan di bawah ini pernah dipresentasikan dalam acara Jakarta International Islamic Conference (JAIIC) yang bertemakan “Tantangan dan Solusi Dakwah Islam di Berbagai Ibukota Negara” pada 29 November – 1 Desember 2016)

 

Indonesia dan gerakan Islam Moderat

Saat ini,  Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Islam masuk ke wilayah Nusantara tergolong paling akhir dibandingkan dengan kawasan lainnya seperti Persia, Asia Tengah dan Eropa. Paham keagamaan yang diajarkan dan kemudian dianut oleh mayoritas penduduk adalah ahlus sunnah waljamaah, sebuah paham moderat. Secara harfiyah, ahlu sunnah wal jama’ah adalah penganut sunnah, tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kesepakatan para ulama. Watak moderasi (washatiyah) yang dimiliki oleh faham ini baik dalam sistem keyakinan (aqidah), syari’ah maupun praktik akhlak/tasawuf sesuai dengan corak kebudayaan masyarakat Indonesia. Dinamika perkembangan ahlu sunnah wal jama’ah (Aswaja), awalnya dinilai akomodatif terhadap tradisi lama (local tradition), kemudian berkembang mengikuti trend pemurnian (puritanisme) sehingga corak Islam terlihat semakin murni dari unsur-unsur lokal. Pemurnian ajaran ASWAJA dari anasir lokal dan tradisi lama dimulai dengan apa yang disebut organisasi dan gerakan modernis, yang tetap bersandar pada kaidah berfikir madzhab ahlu sunnah wal jamaah. Kelangsungan dan perubahan pemahaman dan perubahan paham Aswaja berjalan damai, kecuali dalam beberapa kasus seperti pertentangan antara “kaum tua” versus “kaum muda” di awal abad ke XX dan radikalisme serta terorisme di awal abad XXI.

Sejarah Indonesia dimulai sejaknya tumbuhnya kesadaran sebagai bangsa terjajah dan berkeinginan untuk merdeka, bebas dari dominasi bangsa lain. Kesadaran tersebut dimulai sejak kehadiran bangsa-bangsa Barat pada abad 16 yang kemudian mendapat perlawaan dari Kesultanan Samodra Pasai dan Demak di Malaka pada tahun 1511. Perlawanan terhadap Barat terus berlangsung sampai tercapainya kemerdekaan. Sejumlah tokoh perlawanan muncul dari Aceh sampai Sulawesi. Sultan Hasanudin (Sulawesi), Sultan Agung (Mataram), Sultan Ageng Tirtoyoso (Banten), Sultan Badarudin (Palembang), Pangeran Diponegoro (Jawa), Imam Bonjol (Sumatera)  Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Teuku Cik Di Tiro (Aceh). Penderitaan sebagai bangsa terjajah inilah yang melahirkan semangat nasonalisme bagi bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan mengalami perubahan strategi, dari perlawanan fisik ke politik. Lagi-lagi umat Islam menjadi pelopornya, peraang digantikan dengan gerakan social, ekonomi dan politik. Dimulai dengan gerakan Sarikat Dagang Islam pada tahun 1905 yang kemudian berubah menjadi gerakan politik, Syarikat Islam (1912). Gerakan social pendidikan dimulai oleh  Muhammadiyah (1912), dan pada tahun 1926 lahir Nahdhatul Ulama. Organisasi Islam lainnya juga bergerak dalam bidang social dan pendidikan tersebar di berbagai wilayah. Mathla’ul Anwar (Banten,1916), Perikatan Umat Islam (PUI) sebelumnya bernama Persyarikatan Oelama pada tahun 1916. Persatuan Islam (Bandung, 1923), Persatuan Tarbiyah Islamiyah ( Sumatera Barat, 1930), Al Khairat (Palu, Sulawesi, 1930) dan Al Jamaatul Wasliyah  ( Medan, 1930) dan Nahdhatul Wathan (Nusa Tenggara Barat, 1937). Organisasi Islam yang berdiri pada era colonial tersebut sampai sekarang masih berkembang adalah penganut paham washatiyah (moderat) atau yang disebut Ahus Sunnah wal Jama’ah. Organisasi politik satu-satunya, Syarikat Islam memiliki corak radikal, terutama setelah diinfiltrasi oleh kelompok sosialis democrat yang kemudian berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia. Setelah diterapkan disiplin partai, kaum komunis dikeluarkan dari Syarikat Islam, gerakan politik umat kembali ke jalan moderat.

Peran Gerakan Islam Moderan dalam Kemerdekaan Indonesia

Gerakan Islam moderat inilah yang berhasil membangun kesepakatan dengan eksponen bangsa Indonesia lainnya dalam hal merumuskan dan penetapkan Dasar Negara Republic Indonesia. Tokoh utama yang terlibat dalam persiapan kemerdekaan dan penetapan dasar Negara adalah; (1). Agus Salim (Syarikat Islam), (2). Abikusno Tjokrosuyoso (Syarikat Islam), (3). Abddul Wahid Hasyim (Nahdhatul Ulama), (4). Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah), (5). Soekarno (Ketua), (6). Muhammad Hatta, (7). Muhammad Yamin, (8). Ahmad Subarjo, dan (9) Alex Andries Maramis. Disamping itu Tokoh nomor satu sampai dengan empat adalah pemimpin organisasi nasionalis Islam, no 5 sampai 8 adalah muslim nasionalis sekuler dan no 9 adalah tokoh Kristen dari Indonesia Timur. Peran muslim moderat dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga sangat besar. Ketika tentara belum lahir, laskar Hisbullah dan Sabililah berjuang mempetahankan kemerdekaan. KH. Hasyim Asy’ari, pemimpin tertinggi NU mengeluarkan fatwa wajib berjihad bagi semua umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. Perlawanan rakyat Surabaya terhadap tentara sekutu yang ingin melucuti tentara Jepang mengakibatkan pertempuran besar yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan, setiap 10 November. Bong Tomo memberikan komando perlawanan dengan meneriakkan semangat jihad dan suara takbir. Ketika Belanda kembali membentuk pemerintahan sipil di Indonesia (The Netherlands Indie Civil Administration) rakyat menyambutnya dengan perang kemerdekaan dipimpin oleh jenderal Soedirman, pendiri pandu Hisbul Wathan (Muhammadiyah).

Sekali lagi, Islam moderat kembali meneguhkan komitmenya dalam penguatan ideology bangsa. Melalui muktamar 1983, NU menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam berbangsa dan bernegara. Begitu juga Muhammadiyah pada muktamar 1984 memutuskan menerima Pancasila sebagai asas dalam berbangsa dan bernegara. Singkat kata, perjalanan sejarah bangsa ini selalu mendapat dukungan dan peran dari gerakan Islam moderat. Oleh karena itu ketika gerakan Islam transnasional mulai menanamkan pengaruhnya di Indonesia, kelompok moderat inilah yang memberikan respon baik melalui wacana maupun aksi. Runtuhnya kekuasaan represif Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi membawa perubahan bagi diskursus keagamaan. Masyarakat muslim Indonesia digegerkan oleh munculnya paham dan gerakan seperti Laskar jihad, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia, Jama’ah Ansharut Tauhid, Salafi radikal, Hizbut Tahrir Indonesia dan banyak lagi yang lain. Gerakan Islam yang muncul pasca reformasi mengaku ahlus sunnah, meskipun dalam berwacana dan aksi berbeda dengan kelompok ahlus sunah wal jamaah yang telah eksis jauh sebelum paham baru tersebut muncul. Perkembangan Syi’ah juga memperoleh momentum pada era reforamasi. Muncul organisasi Ikatan Jama’ah Al Bait Indonesia (IJABI) dan Ahlul Bait Indonesia (ABI). Disamping melalui organisisi gerakan, Syiah juga berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan.  berkembang di berbabagai wilayah. Hubungan antarumat agama, pada akhir masa orde baru sudah tegang menjadi semakin panas, ketika presiden Soeharto jatuh. Konflik suku, ras, agama dan golongan (SARA) terjadi di mana-mana. Ada konflik Ketapang Jakarta, konflik NTT, konflik Ambon, konflik Maluku, Sambas, Sampit dan seterusnya. Ketegangan semakin menjadi, ketika dibentuk Laskar Jihad yang kemudian dikirim ke Ambon dan Maluku. Benturan terjadi benturan antarpenganut agama, utamanya antara Islam dan Kristen. Belakangan konflik internal juga terjadi antara penganut Ahsus Sunah  berhadap-hadapan dengan komunitas Syi’ah, sebagaimana terjadi di Sampang, Madura, Bondowoso dan Jember, Jawa Timur. Jamaah Ahmadiyah Indonesia, yang dating ke Indonesia sejak sebelum kemerdekaan juga mendapat tantangan. Jika pada masa sebelum kemerdekaan tantangannya berupa perdebatan dan penolakan, kini pertentangan sudah sampai konflik fisik seperti di Ceukesik, Banten dan Mataram NTB.

Perubahan sosial akibat modernisasi dan perjumpaan dengan berbagai pemikiran global, penganut Aswaja menghadapi tantangan internal maupun eksternal. Tantangan internal, menguatnya pengaruh Wahabisme (Salafi) dalam tiga pulih tahun terakhir. Kehadiran faham Wahabi membuat gaduh wacara keagamaan karena kritik-kritik dan praktik keagaaam mereka yang tidak hanya berbeda dengan kaum Aswaja tetapi penghakiman kemusyrikan, pembid’ahan terhadap praktik keyakinan dan peribadatan yang berbeda. Tidak hanya dalam bidang agama, kelompok Salafi Jihadis (Sururi) juga mengembangkan faham fundamentalisme radikal yang mendorong terjadinya teror di Indonesia. Islam kemudian identik dengan kekerasan dan teror. Reaksipun muncul dari kalangan kaum muda pendukung Aswaja, dengan mendeklarasikan terbentuknya Jaringan Islam Liberal (JIL). Kebebasan berfikir membuat kaum tua dari kalangan Aswaja khawatir dan gelisah terhadap gerakan Islam liberal. Mungkinkah Aswaja mampu menempatkan diri pada posisi moderat (washatiyah) di tengah-tengah gempuran radikalisme, liberaisme dan sesat pikir (aliran sesat) lainnya? Tantangan eksternal, Aswaja berhadapan dengan globalisasi seperti demokrasi, hak asasi manusia dan ekonomi pasa, juga merupakan tentangan tersendiri.

Sesungguhnya, kehadiran berbagai macam paham transnasional ke Indonesia merupakan ujian bagi mayoritas umat Islam yang menganut paham Aswaja. Apakah Aswaja akan tetap eksis bahkan menjadi semakin menguat atau semakin kecil peranannya dalam kancah berbangsa dan bernegara. Perbincangan dengan topik Peta Kontestasi Gerakan Radikal dan Liberal dapat dijadikan bahan renungan dan pemikiran dalam menetapkan strategi pemeliharaan kerukunan intern umat beragama maupun antarumat beragama, sebagaimana yang sedang dikembangkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Kalimantan Selatan saat ini.

Kerukunan Hidup Antarumat Beragama di Indonesa

Belajar dari pengalaman sejarah panjang “perang dan damai” antaranak Adam di muka bumi, Indonesia berhasil membangun kesepakatan bersama para pemuka agama dan tokoh bangsa lainnya dalam menentukan dasar Negara sebagaimana diuaraikan di atas. Indonesia juga mebrehasil membangun dan memelihara kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah. Saat ini di seluruh wilayah provinsi, kabupaten, dan kota telah berdiri Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).  Forum Kerukunan Umat Beragama, adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh majelis-majelis agama mengemban tugas memelihara kerukunan dan mengembangkan bina-damai dalam masyarakat. Anggota dan pimpian FKUB adalah tokoh-tokoh yang berasal dari semua komunitas agama yang telah ada di Indonesia. Dari kalangan Islam, anggota FKUB berasal dari oranisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan juga ormas Islam local.  Awalnya banyak pihak yang belum paham eksistensi FKUB. Mereka mengira FKUB hanya sebagai lembaga yang berwenang memberikan rekomendasi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah. Tidak banyak yang paham kalau FKUB harus membangun dan mengembangkan dialog lintas agama, menampung aspirasi umat beragama, menyalurkan aspirasi pemuka agama dan tokoh masyarakat, melakukan sosialisasi kerukunan dan perdamaian serta mengembangkan program-program pemberdayaan kerukunan dan perdamaian. Lebih dari itu harapan masa depan perdamaian melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila juga menjadi garapan FKUB. Kini, peranan FKUB sangat dominan dalam penanganan dan penyelesaian konflik social, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. Bahkan dalam proses demokrasi di Indonesia, peranan FKUB dalam mengawal penyelenggraan pemilihan umum yang damai dan tidak mengeksploitasi isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan sebagaimana diatur dalam undang-undang Pemilihan Umam juga sangat besar.

Pengalaman Indonesia dalam membangun dan memelihara kerukunan dengan melibatkan peran gerakan Islam moderat dapat mengoreksi pandangan bahwa Islam itu intoleran dan cenderung menggunakan politik kekerasan. Beberapa kritik terhadap agama, seperti disampaikan Jack Nelson-Pallmeyer  bahwa semua agama monoistik secara inhern mengandung kekerasan. Yahudi, Kristen dan Islam akan secara terus menerus menyumbang pada kekerasan hingga tidak ada lagi tantangan keras terhadap “teks suci” dan hingga tidak ada lagi kekuatan yang menentang Tuhan ( Nelson-Pallmeyer, Jack (2005). Is religion killing us? Violence in the Bible and the Quran, Continuum International Publishing Group. P.136). Nyatanya, sebagaimanan dicatat oleh Tanner bahwa pada abad XX lebih dari 25 juta orang beriman di negara-negara ateis,  menderita kekerasan anti agama  (The Harmful Secular Ideologies. Ames Tribune, 2011). Perang dunia adalah perang sekular yang tidak didorong oleh agama tetapi oleh ideologi non agama (PD I, PD II, civil wars (American, El Salvador, Russia, Sri Langka, dan China), Perang Vietnam, Korea dan perang melawan teroris (Nelson, James M, 2009. Psychology, Religion, and Spirituality. Springer. P. 427). Talal Asad,  menilai pandangan yang menyamakan antara institusi agama dengan kekerasan dan fanatisme tidaklah benar. Kekejaman institusi  non agama di abad 20 sangat luar biasa dahsyat. Dia juga mencatat bahwa nasionalisme juga telah dipandang sebagai agama sekuler ( Asad, Talal (2003). Formations of Secular: Christianity, Islam, Modernity. Stanford University Press, p. 100, 187-190).

Ada tiga tesis tentang peran agama dan bina-damai. “Peace through religion alone”  perdamaian hanya melalui agama saja. Artinya, tesis ini mengusulkan bahwa untuk mencapai perdamaian dunia hanya melalui pengabdian terhadap agama tertentu.“Peace without religion”, perdamaian tanpa agama.  Perdamaian hanya dapat dicapai bila tanpa agama.“Peace with religion”  Pendekatan ini fokus pada pentingnya koeksistensi dan dialog antariman. FKUB pada hakikatnya adalah NGO  yang sangat potensial untuk membangun bina damai dan pengembangannya seperti  penyelenggaraan Sekolah Agama dan Bina-Damai yang digagas dan dikembangkan ole FKUB Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta ( bandingkan Douglas Johnston, “Faith-Based Organization: The Religious Dimension of Peacebulding.” in People Building Peace II: Succesful Stories of Civil Society, Paul van Tongeren, et al (Boulder, CO: Lynne Reiner, 2005), p.209-218.

Sekolah Agama dan Bina-Damai memilik visi awal menjadi  lembaga pendidikan dan pelatihan anggota dan calong anggota FKUB. Sekarang, sekolah ini telah diterima sebagai lembaga pendidikan bina damai secara lebih luas, yakni menyiapkan kader perdamaian untuk bangsa. Misinya,  memberikan pengetahuan tentang  agama dan ajaran bina-damai.  Memberikan pendidikan & pelatihan penanganan perselisihan disebabkan oleh faktor sosial keagamaan. Memberikan fasilitas pengalaman hidup bersama dalam perbedaan.  Pendidikan dan Pelatihan Agama dan Bina-Damai ini mencakup bidang-bidang sebagai berikut: (1). Kajian  tentang  ajaran perdamaian  dalam agama-agama, (2). Pemahaman terhadap tugas-tugas Forum Kerukunan Umat Beragama. (3). Keterampilan penanganan masalah kerukunan umat beragama (manajemen konflik dan resolusi konflik). (4). Hidup bersama dalam keluarga dan masyarakat berbeda keyakinan agama.(5). Pengembangan dan pelatihan analisis konflik sosial, dan perencanaan sosial.

Pandangan optimisme pengelolaan kerukunan umat beragama juga muncul dari berbagai kajian ilmiah dan opini yang berkembang dalam pertemuan lintas agama. Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada tahun 2012 telah melakukan survey nasional kerukunan umat beragama di Indonesia. Survey ini menjangkau responden di 33 provinsi dengan responden berjumlah 3.300 dengan margin of error 1,7 %. Hasil survey menunjukkan bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia mencapai di atas angka 3 dari skala 5. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kerukunan di Indonesia pada saat itu sudah cukup harmonis. Pada tahun ini Appeal of Conscien Foundation (ACF) di New York, memberikan penghargaan “World Statesman Award” kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Meskipun awalnya banyak aktifis yang menentang, akhirnya penghargaan tersebut diterima karena sebagai penghargaan kepada seluruh umat beragama yang bekerja keras dalam menjaga keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara.

Kemanusiaan, Perdamaian dan Masa Depan Indonesia

Memuliakan kemanusian adalah sebuah kesepakatan dasar dalam berbangsa dan bernegara bahkan dalam percaturan kehidupan global. Sejak awal, perjuangan kemerdekaan, revolusi Indonesia dipandang sebagai revolusi kemanusiaan. Soekarno, bapak bangsa mengatakan bahwa revolusi Indonesia adalah revolution of mankind (Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta, Penerbit Gramedia, 2011: 237). Prinsip kesamaan kemanusiaan antarbangsa juga disampaikan oleh proklamotor Muhammad Hatta di depan sidang pengadilan di Den Haag, 9 Maret 1928. Pandangan Bung Hatta  maupun Soekarna bercorak  kritis dan menggugat. Hal ini disebabkan oleh cara pandang antagonisme antara Eropa dan Asia, atau antara kulit putih dan kulit berwarna ( Lothrop Stoddard, Pasang Naik Kulit Berwarna (The Rising Tide of Color), Jakarta, Balai Pustaka, 1966). Spirit humanitarianisme bagi bangsa Indoneia tidak bersifat liberal tetapi dengan batasan keadilan dan keadaban. Kemanusiaan yang adil dan beradab dalam Pancasila berarti kedudukan manusia adalah sebagai hamba Allah, yang satu dengan yang harus saling menghormati layaknya saudara. Keadilan berarti kesamaan dan kesedarajatan dalam hubungan antarmanusia dan antarsuku, antarbangsa. Diskriminasi dan pembedaan didasarkan atas primordialisme tidak sesuai dengan falsafah Pancasila.

Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain mengalami tantangan disintegrasi bukan disebabkan oleh kurangnya persaudaraan tetapi disebabkan oleh tidak terpenuhinya rasa keadilan. Berbagai pemberontakan yang terjadi seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, adalah kerena keadilan yang tidak tercapai. Begitu juga pergolakan daerah seperti PRRI/Permesta dan RMS juga berakar pada masalah keadilan. Gerakan Aceh Merdeka dan Organisasi Papua Merdeka juga berpangkal pada tuntutan keadilan. Aksi Umat Islam tanggal 14 Oktober dan 4 November 2016 terjadi juga karena terganggunya rasa keadilan yakni penistaan agama oleh seorang Gubernur DKI Jakarta dan oleh aparat keamanan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Semua kasus penodaan agama, pelakunya ditahan tetapi kali ini dibiarkan bebas. Rasa keadialan terganggu dan protes social dalam jumlah massif terjadi di Jakarta dan banyak kota di seluruh Indonesia. Perlawanan terhadap dominasi asing adalah naluri dasar dari semua kebudayaan. Oleh karena itu wajar jika agama digunakan sebagai garis yang membedakan antara mana yang suci dan jahat. Agama dapat menjadi kekuatan pemersatu  yang lebih efektif dari sekedar etnisitas, karena agama tergantung pada kuasa yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlawanan yang didasarkan atas agama tidak pernah dapat dipadamkan ( Fuller, A World Without Islam, New York. Back Bay Books, 2010: 243). Jihad Afganistan hingga persag saudara di dunia Arab, merupakan bukti perlawanan abadi yang dibangun berdasarkan tafsir terhadap kitab suci. Jihad atau perlawanan secara  tradisional adalah perang yang dilakukan oleh khalifah yang berkuasa dalam kapasitas sebagai imam dari semua umat Islam. Jihad atau perang yang dilakukan oleh khalifah tunduk pada aturan dan taktik dan sasaran yang sah. Berbeda dengan fenomena kontemporer, jihadisme adalah reinterpretasi jihad yang dibangun melalui rekonstruksi politis atas Islam (Islamisme). Peperangan atau jihad baru ini tidak dilakukan oleh Negara tetapi oleh actor-aktor tanpa pengakuan akan aturan atau batasan target yang telah diterima sebelumnya. Jihadisme adalah ideology yang diagamaisasikan yang melegitimasi bentuk peperangan irregular yang dibingkai dengan istilah perang pemikiran (ghazwu al fikru). Perlawanan atau perang yang dilakukan oleh kelompok jihadis ini ditampilkan sebagai perang yang adil dari kaum tertindas melawan sang penindasnya. Perang melawan hegemoni Barat dan para pendukungnya (Bassam Tibi, Islam da Islamisme (Ismanism and Islam), Bandung, Mizan, 2016: 185-187).

Di tengah-tengan gerakan Islam moderat, di Indonesia juga berkembang gerakan radial dan liberal. Gerakan radikal Islam di Indnesia sudah ada sejak era colonial dan terus dipelihara sebagai ideology perlawanan pasca kemerdekaan hingga era reformasi. Gerakan ini lebih dikenal sebagai “garis keras”. Bagian dari gerakan ini yang radikal adalah organisasi rahasia (tandhim sirri) yang sering melakukan terror. Pada awal reformasi, kelompok ini dikenal dengan nama Al Jama’ah al Islamiyah dan saat ini sudah tidak aktif lagi. Pemikiran radikal dan kegiatan terorisme dilanjjutkan oleh organisasi rahasia yang disebut Anshor al Khalifah (Anshar al Daulah) yang berafiliasi dengan ISIS di Irak dan Syam. Di kalangan anak muda, penganut dan pendukung faham ASWAJA, pada akhir dekade 1990-an mengembangkan faham Islam liberal. Mereka memproklamirkan lahirnya Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tanggal 8 Maret 2001 dalam sebuah diskusi untuk pencerahan dan kebebasan pemikiran Islam Indonesia ( Nuh, 2007: xvi). Mungkin banyak yang bertanya, ketika koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla, menyatakan bahwa akar-akar liberalisme pemikiran keislamannya justru dari ilmu-ilmu tradisional seperti ushul fiqh dan qawaidul fiqh yang dahulu diajarkan oleh para kyai pesantren. Pemikiran yang dilontarkan oleh cendekiawan NU meliputi banyak hal yang berpotensi menimbulkan pandangan kontroversial menyangkut bidang akidah, fikih maupun tasawuf. Ber-Islam tidak berarti sama dengan menjadi ekstrim. Atau sikap benar dalam Islam itu sama dengan berlaku hitam putih? Bukankah al-Qur’an berpesan: ya ahlal kitab la taghlu fi dinikum, hai orang-orang yang menerima Kitab  Suci dari Tuhan, janganlah terlalu “ekstrem” dalam beragama. Nabi pun bersabda: yassiru wa la tu’assiru, mudahkanlah dan jangan dipersulit ( Abdalla, 2005: 43-46).

Mujamil Qomar dalam disertasinya menyimpulkan bahwa diantara pemikiran-pemikiran para cendekiawan NU, ternyata telah banyak gagasan yang jauh keluar dari dari batas-batas tradisi pemikiran NU. Pemikiran para cendekiawan NU seperti Abdurrahman Wahid, Sahal Mahfudz, Masdar Masudi, Said Agil Sirat, Ali Yafi, Thalhah Hasan telah memberi implikasi iklim intelektual di kalangan angkatan muda NU, baik mahasiswa, pelajar maupun santri pesantren. Bahkan diantara memerka ada yang memiliki pemikiran lebih liberal dibanding pada ulama cendekiawan mereka. Anehnya, pemikiran yang mencoba menentang tradisi pesantren itu ternyata mendapat dukungan deari kyai-kyai tua ( Qomar, 2002: 273; Feillard, 2008: 388). Lengkap sudah, sejak akhir tahun 1990-an Indonesia menjadi tempat persemaian faham radikal dan liberal. Pemikiran liberal sudah berkembang menjadi gerakan. Diskusi digelar diberbagai kampus. Artikel dalam jurnal dapat dijumpai, seperti “indahnya kawin sesama jenis” yang diterbitkan oleh jurnal di IAIN Walisongo, Semarang. Beberapa kampus IAIN dalam orientasi studi mahasiswa baru, berani memasang spanduk yang sangat liberal, menghujat dan cenderung melecehkan. Beberapa tahun yang lalu di Bandung muncul spandul “ Daerah Bebas Tuhan” dan di UIN Sunan Ampel juga muncul spanduk “ Tuhan Telah Membusuk”. Kasus-kasus tersebut adalah beberapa contoh tentang perkembangan paham liberal. Ironis memang, kalau di kalangan pendidikan tinggi Islam berkembang paham liberal, di kampus perguruan tinggi umum dan bahkan sekolah-sekolah menengah berkembang paham Islam radikal.

Penutup

 

Gerakan Islam moderat yang mengusung faham Aswaja yang telah menjadi bagian dari sistem keberagamaan masyarakat muslim Indonesia terus menerus mengalami penilaian dan kritik secara internal, dikoreksi dan disesuaikan dengan perkembangan. Pengertian Aswaja secara sempit sudah ditinggalkan, dan pengertian secara inklusif diterima dan dikembangkan. Namun watak dan corak khas faham Aswaja; moderasi (tawashut), keseimbangan (tawazun), dan berkeadilan (adalah) tetap dijaga dan dipelihara.

Meskipun orientasi keagamaan sebagian penganut Aswaja telah berubah ke arah fundamental-radikal, atau progresif liberal, tradisi yang selama ini berkembang dalam masyarakat tetap terpelihara dengan baik. Bahkan beberapa dekade terakhir telah terjadi konvergensi pemahaman di kalangan umat. Tantangan yang paling mengkhawatirkan adalah berkembangannya faham dan sikap hidup materialistik, yang juga sudah disinyalir dalam al-Qur’an (bal tu’sirunal hayata al-dunya, wa al-akhiratu khairun wa abqa). Pembacaan terhadap kecenderungan duniawi berbanding dengan kesiapan menghadapi masa depan (ukhrawi) meniscayakan pemahaman kebergamaan yang moderat, toleran dan kesediaan berdialog serta bekerjasama lintas madzhab dan lintas keyakinan agama.

 

Daftar Pustaka

 

Abdalla, Ulil Abhar

2005       Menjadi Muslim Liberal, Penerbit Nalar kerjasama dengan Jaringan Islam

Liberal, Freedom Institute.

Alatas, Ismail Fajrie

2010    “ Menjadi Arab: Komunitas Hadrami, Ilmu Pengetahuan Kolonial & Etnisitas,

Dalam LWC. Van den Berg, Orang Arab Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu.

Ali, As’ad Said

2012     Ideologi Gerakan Pasca Reformasi, Jakarta, LP3ES.

Atho Mudzhar

2012      Menjaga Aswaja dan Kerukunan Umat, Jakarta, Puslitbang Kehidupan Keaga

maan, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Berg, LWC. Van den

2010      Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Penerbit Komunitas Bambu (terj. Rahayu H)

Dhofier, Zamakhsyari

1982     Tradisi Pesantren : Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta, LP3ES.

Fuller, Graham E

2010     A World Without Islam, New York, Back Bay Books.

Feillard, Andree

2008       NU vis-a-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, Yogyakarta, LKIS.

Hasan, Noorhaidi

2008       Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca

                        Orde Baru, Jakarta Penerbit LP3ES dan KITLV Jakarta.

Ismail, Faisal

2001       Islam and Pancasila: Indonesia Politics 1945-1995, Jakarta, Balitbang dan Dik

lat Departemen Agama RI.

2004     Dilema NU Di Tengah Badai Pragmatisme Politik, Jakarta, Badan Litbang dan

Diklat Departemen Agama RI.

Jamhari, Jajang Jahrani (peny)

2004             Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Jaiz, Hartono Ahmad

2002       Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Jakarta, Pustaka Al-Kautsar.

Kurzman, Charles

2003      Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-Isu Global.

Jakarta, Paramadina.

Mbai, Ansyaad

2014               Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia. AS Production Indonesia

Mufid, Ahmad Syafi’i

2006      Tangklukan, Abangan dan Tarekat: Kebangkitan Agama di Jawa. Jakarta,

Penerbit Obor.

2011      Al-Zaytun The Untold Stories: Investigasi terhadap Pesantren Paling Kontrover

                       Sial di Indonesia, Jakarta, Penerbit alvabet.

2011     Perkembangan Paham Keagamaan Transnasionql di Indonesia, Jakarta,

Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

2012      Motivation and Root Causes of Terrorism, Jakarta, INSEP.

2012     “ Setelah Jihad dan Bom: Diskursus Dakwah Pada Masyarakat Plural” dalam

Harmoni, Vol. 11 No.2 Januari-Maret.

2013     “ Radikalisasi dan Terorisme Agama, Sebab dan Upaya Pencegahan” dalam

Harmoni, Vol. 12 No.1 Januari-April.

Nuh, Nuhrison M (ed)

2007      Faham-Faham Keagamaan Liberal Pada Masyarakat Perkotaan, Jakarta

Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.

Pijper, G.F

1984      Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, Jakarta

Universitas Indonesia-Press. (terj. Tujiman dan Yessy Augusdin).

Qomar, Mujamil

2002       NU “Liberal” Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam,

Bandung, Penerbit Mizan.

Samudra, Imam

2004       Aku Melawan Teroris, Solo, Penerbit Jazera.

Schwartz, Stehen Sulaiman, Dua Wajah Islam: Modetaisme vs Fundamentalisme Dalam    2007       Wacana Global, Jakarta, Penerbit Blantika bekerjasama dengan The Wahid

Institute dan Center for Islamic Pluralism

Shiraishi, Takashi

2005               Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta

Grafiti.

Tanjung, M. Alfian

2006      Mengganyang Komunis: Langkah&Strategi Menghadapi Kebangkitan PKI,

Jakarta, Taruna Muslim Press.

Tibi, Bassam

2016      Islam dan Islamisme, Bandung, Penerbit Mizan

Thoha, Anis Malik

2005       Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta, Penerbit Prespektif.

Tim Peneliti

2006      Faham-Faham Keagamaan Liberal Pada Masyarakat Perkotaan, Jakarta, Puslit

bang Kehidupan Keagamaan, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Turmudi, Endang dan Riza Sihbudi (ed)

2005      Islam dan Radikalisme di Indonesia, Jakarta, LIPI Press.

 

*KH. DR. H. Ahmad Syafi’i Mufid adalah Ketua Komisi Kajian dan Litbang MUI DKI Jakarta. Selain itu beliau juga menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Peneliti Senior pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama. Ia menyelesaikan pendidikan kesarjanaan pada Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang dan Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia. Selain itu ia pernah menempuh studi doktoral di International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden, Netherland. Selain aktif menjadi kontributor artikel dalam banyak buku, ia aktif menulis di jurnal ilmiah dan artikel ilmiah populer di media cetak. Karya-karyanya bisa dilihat dalam buku Al-Zaytun The untold Stories (2012) “Mbah Priok” Studi Bayani Wa Tahqiq: Masalah Makam Eks TPU Dobo (2010), Tangklukan, Abangan dan Tarekat: Kebangkitan Kembali Agama di Jawa ( 2006), dan Dialog Agama dan Kebangsaan (2001). Tidak hanya aktif sebagai aktivis kerukunan dan peneliti, ia juga penggagas dan pembina gerakan Kampung Madani di Bekasi dari tahun 2006 sampai sekarang.