Bagi alim ulama dan sebagian asatidz serta asatidzah di DKI Jakarta, sosok Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta Masa Khidmat 2013-2018, KH. A. Syarifuddin Abdul Ghani MA dan KH. Zulfa Mustofa MY, bukan  sosok yang asing. Nama mereka masyhur dan ucapan serta pendapat keduanya mu`tamad (dapat dipercaya). Namun, masih banyak dari mereka dan kita yang belum mengenal sosok keduanya lebih dekat lagi dan cukup lengkap. Untuk maksud tersebut, redaksi MUIdkijakarta.or.id menayangkan biografi singkat keduanya. Dimulai dari sosok KH. A. Syarifuddin Abdul Ghani, MA.

KH. A. Syarifuddin Abdul Ghani, MA adalah salah seorang ulama Betawi yang terkemuka dan dituakan sekarang ini. Pada kepengurusan MUI Provinsi DKI Jakarta yang lama, ia menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa. Ia lahir di Kampung Basmol, Kembangan Utara, Jakarta Barat pada tanggal 1 Juli 1957 dari pasangan KH. Abdul Ghani bin M. Zein bin Muqri bin Sama`undan Ny. Alijah. Pendidikan formalnya mulai ditempuh saat ia berusia enam tahun dengan memasuki Sekolah Rakyat (SR) lulus tahun 1969, kemudian SLTP lulus tahun 1972, SMEP lulus tahun 1975, kemudian Madrasah Aliyah Annida, Bekasi lulus tahun 1978. Ia kemudian meneruskan kuliah S1 ke Islamic UniversityMedina, Madinah, Arab Saudi Jurusan as-Sunah (Hadits) dan lulus tahun 1982 dan kemudian melanjutkan S2 di universitas dan jurusan yang sama dan lulus tahun 1985. Pada tahun 1986, ia kembali ke Indonesia. Pekerjaan pertama yang ia lakukan setibanya di Indonesia adalah mengajar di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Al-Hidayah, kampung Basmol serta mendidik para santri Pondok Pesantren Al-Hidayah, kampung Basmol. Ia kemudian aktif di berbagai organisasi dan lembaga pendidikan Islam. Pada tahun 1990, ia menikah dengan Nurhasanah binti Sarwo Wahdi dan dikaruniai lima oran anak, tiga laki-laki dan dua perempuan.

Seperti ulama Betawi lainnya, ia juga mengajar kitab di beberapa majelis taklim dan halaqah yang tersebar di berbagai tempat di Jakarta dan Tangerang, Banten. Kitab yang diajarkan adalah Shohih BukhariSunan Abu DaudSunan TurmudziFathul Mu`in, Tafsir Ibnu KatsirSubulus Salam, Riyadhus SholihinKifayatul AkhyarTafsir JalalainAl-Muwatha , Irsyadul `Ibad, dan lain-lain,. Selain mengajar kitab, ia juga turut dalam penulisan kitab yang berjudul Al-Badru Munir fi Takhriji Ahadits Syarhil Kabir. Ia tidak menulis kitab ini sendiriankarenakitab ini terdiri atas 28 juz yang setiap juznya ditulis oleh satu orang dan ia menulis untuk juz keempat yang berjumlah 458 halaman.. Kitab ini merupakan kenang-kenangan darijurusan mahasiswa S2 Islamic University Medina angkatan 1982 yang menjelaskan tentang hadits shohih yang berhubungan persoalan thaharah atau bersuci dari madzhab Syafi`i. Kitab ini telah diterbitkan oleh percetakan Daarul Ashima, Riyadh, Arab Saudi pada tahun 2009.

Sedangkan KH. Zulfa Mustofa MY adalah ulama yang mewakili generasi muda. Ia lahir di Jakarta pada tanggal 7 Agustus 1977 dari pasangan KH. Muqorrobin Yusuf dan Latifah Ma`mun. Nama MY yangia lekatkan di namanya merupakan singkatan dari nama bapaknya. Walaupun masih berusia muda, karena penguasaannya terhadap kitab kuning dan ilmu-ilmu keislaman, ia diamanatkan oleh PB NU untuk menduduki posisi Ketua LBM (Lembaga Bahtsul Masail) NU tingkat pusat.

Namun, umat Islamkhususnya di Jakarta Utara lebih mengenalnya sebagai Ketua MUI Jakarta Utara yang namanya mencuat ketika kasus Mbah Priok pada tahun 2010 yang lalu. Pendidikan formalnya ia mulai di Jakarta hingga kelas tiga SD di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketika naik kelas empat SD, ia melanjutkan sekolah ke Pekalongan sampai tamat. Ia kemudian meneruskan pendidikan tsanawiyah ke Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon. Saat naik ke kelas 2 tsanawiyah, ia pindah ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Ada dua orang gurunya yang sangat berwibawa dan berkesan untuknya selama nyantri di Kajen, yaitu KH. M. A. Sahal Mahfudh (Ketua Umum MUI Pusat sekarang) dan KH. Rifa`i Nasuha yang merupakan guru dari Kyai Sahal. Pada tahun 1996, setelah ia selesai menyelesaikan pendidikan madrasah aliyahnya, pada bulan Ramadhan,ia kembali ke Jakarta. Namun, keinginannya untuk kuliah ke Timur Tengah, ke Al-Azhar atau ke Makkah, tidak bisa ia wujudkan karena ayahnya wafat tepat pada malam Idul Fitri. Sepeninggal ayahnya, ia kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk mengajar di majelis-majelis taklim yang diasuh ayahnya semasa hidup, sekitar lima majelis taklim, walau ketika itu usianya masih sangat muda, 19 tahun. Ia sendiri mempunyai majelis taklim yang ia namakan Darul Musthofa. Pada tahun 2000. ia menikah dengan Hulwatin Syafi`ah dan dikaruniai beberapa orang anak. *** (Rakhmad Zailani Kiki)

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of