Enam belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 Syawal atau 7 Februari 1999, masyarakat Betawi dan umat Islam di Indonesia kehilangan salah satu ulama terbaiknya, Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi. Ia wafat di usia 68 tahun dengan meninggalkan karya yang begitu berharga bagi umat Islam. Ia dimakamkan di pemakan keluarga di Pedurenan (Belakang JMC, Jakarta Selatan). Dalam rangka memperingati wafatnya (haul), Redaksi menurunkan profilnya yang bersumber dari buku “Islam Ibu Kota: Dari Kramtung Hingga Brussels” terbitan Jakarta Islamic Centre.

Ulama Betawi yang memiliki karya intelektual dan diakui secara luas di dunia Islam sangatlah sedikit. Salah satu yang sedikit itu adalah Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Dalam Al-Indunisi. Karya-karyanya antara lain Muhammad fil Quran, Mukhtasar al-Bukhari wal Muslim, dan Al-Qiraat al-‘Ashr. Namun, yang monumental adalah kitab karangannya yang berjudul Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid yang telah diterjemahkan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul Ensikiopedia Imam Syafi’i.

Kitab Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid merupakan disertasi Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo, menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut bahwa kitab ini merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi’i. Bahkan menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriah PB NU dan pengurus MUI Pusat, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi’i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini. Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi’i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya.

Ia terlahir dengan nama Ahmad Nahrawi Abdus Salamdi Jakarta 30 Agustus 1931. Sedangkan nama Al-Indunisi adalah tambahan ketika ia di Mesir yang menunjukkan bahwa oa berasal dari Indonesia. Ia adalah cucu dari Guru Mughni Kuningan, Jakarta Selatan dari jalur ibu, salah seorang dari enam guru Betawi yang terkemuka (the six teachers). Menurut penuturan putrinya, Amirah Nahrawi, semasa kecil, pendidikan formal pertama kali yang ia tempuh adalah Taman Kanak-Kanak Belanda. Setelah itu, atas saran kakeknya, Guru Mughni, beliau kemudian meneruskan pendidikannya Jamiatul Khair, Tanah Abang, Jakarta sampai tingkat SLTA. Selain itu, beliau juga mengaji kepada KH. Abdullah Suhaimi, bapak dari KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA, ulama Betawi dari Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pencarian ilmu pengetahuan ke Mesir dimulai pada usianya yang ke-21 tahun, tepatnya pada Oktober 1952, yaitu ketika ia pergi haji bersama kedua orang tuanya. Setelah melaksanakan ibadah haji, ia tidak kembali ke tanah air. Ia mengurus visa di Arab Saudi untuk pergi belajar di Mesir. Di negeri kaya peradaban itu, ia meraih sejumlah gelar kesarjanaan. Gelar B.A diraih tahun 1956 dari Fakultas Syari’ah Universitas AI-Azhar, Kairo. Kemudian dua gelar M.A diraihnya pada universitas yang sarmaa, yakni M.A jurusan kehakiman (1958) dan M.A jurusan Pengajaran dan Pendidikan (1960). Pada tahun 1961, iamendapat gelar Diploma I jurusan Hukum, selanjutnya Diploma II diraihnya pada tahun 1962, keduanya diperoleh di Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. Kedua Diploma tersebut setara dengan M.A. Perjalanan studinya terus berlanjut. Pada tahun 1966, ia mendapat M.A Personal Statute dan Perbandingan Mazhab dati Universitas AI-Azhar, Kairo. Minatnya yang tinggi terhadap disiplin ilmu tersebut diteruskan dengan meraih gelar Doktor dalam bidang Perbandingan Mazhab dari Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas AI-Azhar, Kairo.

Sejumlah aktivitas keorganisasian pemah dijalaninya. Pada tahun 1950, ia mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH), dan menjadi ketuanya sampai tahun 1952. Pada tahun 1953, oa mendirikan Organisasi Pelajar Indonesia di Mesir (PIM) yang kemudian diganti menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan menjadi ketuanya sampai awal tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1970, ia mendirikan PPI di Damaskus, Syiria, sekaligus menjadi ketuanya dalam beberapa tahun kepengurusan.

Perjalanan karirnya, antara lain adalah menjadi penyiar dan penerjemah pada Radio Mesir seksi siaran Bahasa Indonesia (1954 sampai dengan 1970). Pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1968, ia menjadi guru bahasa Indonesia pada Akademi Bimbingan dan Kader AI-Azhar Cabang Universitas AI-Azhar untuk luar negeri. Ia juga pemah menjadi dosen bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa Indonesia Cabang Univeritas ‘Ain Syamas, Kairo. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1974, ia menjadi pegawai lokal KBRI Damaskus dan memegang jabatan sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Indonesia dalam bahasa Arab yang diterbitkan oleh KBRI. Ia juga pernah menjadi penyiar dan penerjemah Radio Saudi Arabia seksi Bahasa Indonesia di Jeddah dari tahun 1974 sampai tahun 1988.

Pada tahun akhir tahun 1989, ia pulang ke tanah air, Jakarta, tempat terakhir pengabdian dirinya sampai akhir hayat. Di Jakarta, ia mendirikan Yayasan An-Nahrawi yang diantaranya bergerak di bidang pencetakan kitab-kitab karyanya sendiri, seperti kitab Muhammad fil Quran dan lainnya. Namun, yayasan ini belum aktif lagi setelah ia wafat. Seperti ulama Betawi lainnya, selama di Jakarta, ia mengajar juga di beberapa majelis taklim di berbagai masjid, diantaranya di Masjid AI-Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan yang dekat dengan rumahnya, Masjid Agung At-Tin, Masjid Istiqlal.

Ia juga mengajar di Majelis Albahhsy waftahqiq As-salam yang mengkaji tentang kitab karyanya “Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid “ yang kemudian diteruskan oleh KH. Ahmad Kazruni Ishaq. Selain mengajar di majelis taklim, ia juga pernah menjadi dosen di Fakultas Syari’ah lAIN (kini UIN) Ciputat. Dikarenakan jarak yang jauh dari tempat tinggal dan kesibukan lainnya, ia hanya sempat mengajar di lAIN tersebut hanya satu semester. Meskipun mengajar di majelis taklim, ia jarang disebut Kyai. Bahkan lebih sering dipanggil doktor saja atau sering dipanggil syaikh, seperti budayawan Betawi, Ridwan Saidi, yang tidak menyebutnya kyai ketika mengisahkannya di buku karyanya yang berjudul Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta. Selain mengajar, ia juga tercatat sebagai pengurus di Majelis Ulama Indonesia Pusat, yaitu di Komisi Fatwa dan Hukum, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Obat Makanan (LP-POM) MUI Pusat, dan salah seorang ketua MUI Pusat. ***

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of