Salah seorang ulama sekaligus pejuang dari Betawi yang terkenal selain KH. Noer Alie di antaranya adalah KH. Achmad Mursyidi. Ia lahir di Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur pada tanggal 15 November 1915 dari pasangan H. Maisin dan Hj. Fatimah dan wafat pada tanggal 9 April 2003, di usia 88 tahun.

Pendidikannya dimulai di Sekolah Rakyat (SR) di Pulo Gadung, Jakarta Timur, dari tahun 1926 sampai tahun 1930. Kemudian ia mengaji kepada Guru Marzuki Cipinang Muara dari tahun 1930 sampai tahun 1934. Kemudian mengaji kepada Ajengan Toha di Plered, Purwakarta, Jawa Barat dari tahun 1934 sampai tahun 1935.

Setahun setelah selesai mengaji kepada Ajengan Toha, di usia yang ke-21 tahun, ia mendirikan Madrasah Raudhatul Athfal di Kampungnya, Kampung Bulak, Klender. Di tahun yang sama pula, 1936, ia berumah tangga dengan Hj, Asyiah bin Mua`llim H. Gayar. Di tahun ini pula ia meneruskan belajarnya dengan mengaji kepada KH. A. Thohir Jam`an dan juga mertuanya, Mu`allim Ghayar, bapak dari KH. Hasbiyallah dan KH. Hasbullah.

Muallim Ghayar, yang nama lainnya adalah KH. Anwar, merupakan ulama Betawi terkemuka dan tidak terlepaskan dari sejarah Masjid Jami` Al-Makmur, Klender, Jakarta Timur yang menjadi salah satu tempat rukyatul hilal di tanah Betawi. Menurut H. Abdul Azis, salah seorang pengurusnya, rukyatul hilal di masjid jami` ini dirintis oleh mu`allim Ghayar yang seangkatan dengan Guru Marzuki (sekitar tahun 1930-an). Namun, baru pada tahun 1985, setelah Masjid Al-Makmur selesai direnovasi, kegiatan ngeker bulan di masjid ini menjadi terkenal. Apalagi dipimpin oleh para ahli falak terkemuka saat itu, yaitu KH. Ayatullah Saleh dari Kampung Baru yang dianggap sebagai perintis rukyatul hilal jilid II bagi Masjid Al-Makmur, KH. Shidik dari Kampung Bulak yang merupakan tangan kanan dari KH. Ayatullah Saleh, dan KH. Murtani dari Pisangan yang kemudian menggantikan KH. Ayatullah Saleh setelah wafatnya. Peralatan untuk ngeker bulannya cukup sederhana, yaitu pipa paralon yang dipotong proporsional seperti binokuler dan dilakukan di atas masjid yang memiliki ketinggian 15 meter (sebelumnya di menara masjid). Setelah KH. Murtani wafat beberapa tahun yang lalu, kegiatan ngeker bulan diteruskan oleh BHR (Badan Hisab Rukyat) Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta untuk menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 1 Dzulhijjah dan disaksikan oleh KH. Mundzir Tamam, MA, adik kandung KH. Achmad Mursyidi, Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, selaku sesepuh dan penasehat Masjid Jami` Al-Makmur.

Jiwa kepahlawanan dan kepemimpinan KH. Achmad Mursyidi mulai kelihatan ketika pada tahun 1945 ia aktif di Menteng 31, markas Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan mendirikan Barisan Rakyat (BARA) di Kampung Bulak, Klender. Dari tahun 1945 sampai tahun 1949, ia terlibat aktif dalam perang mengusir agresi Belanda dan sekutunya. Saat itu, ia menjadi komandan perjuangan rakyat yang mempunyai kewenangan untuk membentuk pemerintahan di tingkat kecamatan atau kewedanan. Kepahlawanannya dikenal bersama dengan dua rekannya, H. Darip dan KH. Hasbiyallah, sebagai tiga serangkai dari Klender.

Saat itu agresi Belanda semakin menjadi sehingga Klender tidak bisa dipertahankan, baik melalui perundingan diplomasi yang dilakukan H. Hasbullah maupun kemampuan persenjataan. Akhirnya garis perbatasan mundur ke wilayah Cakung dan Klender terpaksa ditinggalkan. Tentara penjajah tumpah di Klender dan menjadikan halaman Masjid Al-Makmur sebagai markas. Dari pada menjadi markas penjajah lebih baik Klender musnah menjadi lautan api. Dengan modal beberapa botol bensin yang diberi sumbu, kira-kira pukul dua siang, aksi membumi hanguskan dilakukan. Selama lebih kurang tiga jam Klender menjadi laupan api.

Usia peperangan, pada tahun 1949, ia melanjutkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan madrasah Lembaga Pendidikan Islam Al-Falah (LPA Al-Falah). Ia juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Selain pejuang, ia dikenal sebagai politisi ulung. Karena karir politiknya, pada tahun 1957, ia dilantik menjadi anggota DPR hasil pemilu tahun 1955 menggantikan KH. Ahmad Djunaidi. Kemudian pada tahun 1959, ia dilantik kembali menjadi anggota DPR dalam rangka kembali ke UUD 1945, setelah Dekrit Presiden dikelaurkan pada tanggal 5 Juliu 1959. Pada tahun 1960, kembali ia dilantik menjadi anggota DPR-GR.

Selepas dari DPR-GR, ia kembali menuntut ilmu dengan mengaji kepada Habib Ali bin Husein Al-Atas (Habib Ali Bungur) dari tahun 1968 sampai wafatnya Habib Ali Bungur pada tahun 1976. Namun, di sela-sela masa mengajinya, ia kembali masuk ke Senayan dengan menjadi anggota MPR dari Partai NU. Selain itu, tanpa melupakan dakwah, ia turut mendirikan Majelis Takilm Pusat Umat Islam At-Tahiriyah. Pada tahun 1977, kembali menjadi anggota MPR dari PPP karena politik Orde Baru membuat partai NU melakukan fusi ke PPP yang terjadi pada tahun 1973. Pada tahun 1978, ia dilantik menjadi anggota DPA-RI menggantikan KH. Idham Cholid. Saat itu, KH. Idham Cholid diangkat menjadi Ketua DPA-RI. Pada tahun 1982, ia kembali menjadi anggota legislatif, anggota DPR/MPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta. Pada tahun 1985, dipercaya untuk menjadi Ketua Umum MUI DKI Jakarta menggantikan KH. Abdullah Syafi`i. Dikarenakan ia adalah kader PPP dari fraksi PPP, maka ia diminta mundur dari jabatannya. Pada tahun 1987, kembali ia dilantik menjadi anggota DPR/MPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur. Dalam sidang paripurna DPR RI, ia sempat menjadi pimpinan sementara sidang paripurna. Pada tahun 1992, kembali dilantik menjadi anggota MPR RI sampai kemudian pensiun pada tahun 1997. Karena tidak lagi menjadi politisi, pada tahun 1999, ia dipercaya kembali menjadi Ketua Umum MUI DKI Jakarta sampai akhir hayatnya. *** (Rakhmad Zailani Kiki dari Berbagai Sumber)

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of