Oleh: Sofyan Jamaluddin, Spd.I

Komisi Dakwah MUI Provinsi DKI Jakarta

 

Tantangan dakwah selalu ada di setiap zaman dengan berbagai jenis dan bentuknya, Apalagi jika melihat problematika yang ada di DKI Jakarta yang beragam, dari persoalan macet, banjir, sampah,  kriminalitas, ketidaktertiban, kenakalan remaja, asusila, penyimpangan seksual, kemiskinan, KDRT, perdagangan manusia, sengketa tanah, dan lainnya.

Atas problematika tersebut, para dai dituntut tidak hanya berada di atas mimbar atau di pengajian, tetapi harus turun ke lapangan, mendampingi obyek dakwah dan menjadi agen perubahan dalam bentuk dakwah transformatif.

Menurut Khamami Zada, dakwah transformatif  merupakan model dakwah, yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal atau konvensional, berupa pemberian materi-materi agama kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Tujuannya agar dakwah tidak hanya untuk memperkukuh aspek relijiusitas masyarakat, melainkan juga memperkukuh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial. Dengan dakwah transformatif, da’i diharapkan memiliki fungsi ganda, yakni melakukan aktivitas penyebaran materi keagamaan dan melakukan pendampingan masyarakat untuk isu-isu korupsi, lingkungan hidup, penggusuran, hak-hak perempuan, konflik antaragama, dan problem kemanusiaan lainnya.

Dakwah transformatif sendiri di Indonesia bukan hal yang baru. Sejak awal Islam masuk ke Indonesia, para da`i  sudah menerapkan dakwah transformatif ini  sehingga berhasil menaklukkan qalbu masyarakat Indonesia yang waktu itu menganut agama kepercayaan, Hindu, Budha. Keberhasilan para da’i itu lebih banyak disebabkan oleh cara dakwah mereka yang menunjukkan hubungan yang akomodatif, adaptif, dan aksi sosial lainnya terhadap masyarakat setempat. Inilah kemudian yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh masyarakat di Indonesia.

Para da’i ketika itu memainkan peran penting sebagai penyebar agama hingga pengayom masyarakat. Sehingga hubungan antara da’i  dengan masyarakat sangat dekat, tanpa jarak, tanpa sekat yang menjauhkan antara keduanya. Hal inilah yang ditunjukkan oleh gerakan dakwah yang dilakukan Walisongo dengan memasukkan unsur-unsur ke dalam budaya lokal untuk menarik simpati dari masyarakat setempat. Walisongo menyebarkan Islam ke Indonesia tidak dengan menggunakan pendekatan halal-haram, melainkan memberikan spirit dalam setiap kegiatan masyarakat. Spirit inilah yang meniscayakan pola hubungan yang tidak saja vertikal kepada Tuhan, tetapi juga pola hubungan yang horizontal terhadap sesama manusia, sehingga Islam sebagai agama memiliki tanggung jawab sosial agar masyarakat memiliki perilaku sosial yang bertanggung jawab, hubungan yang harmonis, peran serta pengembangan ekonomi masyarakat setempat, serta menjadikan masyarakat yang sehat secara jasmani dan ruhani.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang metode dakwah yang sangat ideal dan dapat menjadi solusi alternatif sekaligus menjadi tantangan atas berbagai kelemahan dakwah selama ini, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan Hikmah, Mauidzatil Hasanah, dan bermujadalah dengan cara yang terbaik, sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS:An-Nahl, ayat 125).

Ayat diatas menjelaskan bahwa terdapat tiga model metode dan pendekatan dakwah, yaitu bil Hikmah, Bil Mauidzatil Hasanah, dan wajadilhum Bil Laati Hiya Ahsan. Karena itu dakwah transformatif merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan dakwah secara lebih komprehensif. Bahwa dakwah transformatif merupakan merupakan suatu model pendekatan dan metode dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil yang terjadi pada masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian dakwah tidak hanya untuk memperkuat aspek religiusitas masyarakat melainkan juga memperkukuh basis sosial dan ekonomi untuk mewujudkan transformasi sosial secara adil.

Dakwah transformatif merupakan model dakwah, yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi agama kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, dakwah tidak hanya untuk memperkukuh aspek relijiusitas masyarakat, melainkan juga memperkukuh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial. Dengan dakwah transformatif, da’i diharapkan memiliki fungsi ganda, yakni melakukan aktivitas penyebaran materi keagamaan dan melakukan pendampingan masyarakat untuk isu-isu korupsi, lingkungan hidup, penggusuran, hak-hak perempuan, konflik antaragama, dan problem kemanusiaan lainnya.

Akhir kalam,  Komisi Dakwah MUI Provinsi DKI Jakarta akan mengadakan Diklat Dakwah Transformatif untuk melahirkan para da`i yang memiliki kompetensi dalam melakukan dakwah transformatif dikarenakan kebutuhannya sudah sangat mendesak, terlebih Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta sekarang ini memiliki perhatian yang besar terhadap penyakit-penyakit sosial yang masih ada di DKI Jakarta, dari pelacuran sampai narkoba agar kota Jakarta maju dan warganya bahagia. Aamiin. ***

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of