“Sebenarnya empat belas abad yang lalu, Allah sudah mengeluarkan perintah yang tegas dan jelas bahwa umat Islam harus mempersiapkan segala macam kekuatan untuk menghadapi mereka yang ingin menghancurkan Islam…”

Oleh:

H RISMAN MUCHTAR, S.Sos.I, M.Si

(Ketua MUI Prov. DKI Jakarta Bidang Ukhuwah dan FKUB)

Pendahuluan

Jumlah penduduk dunia (2013) adalah 7.021.836.029. Rincian menurut agama-agama adalah: Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Ortodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Buddhis 7.13%, Sikh 0.36%, Jewish 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non-Agama 9.42%, dan Atheists 2.04% (www.30 days.net).

Islam adalah agama dengan pertumbuhan pemeluk tertinggi di dunia setiap tahunnya. Antara 1990 sampai 2000, diperkiraan sekitar 12.5 juta orang dari berbagai agama pindah ke agama Islam. (Lihat Guinness Book of World Records,2011). Fakta menunjukkan umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Bahkan, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

            Data menunjukkan bahwa jumlah pemeluk Islam pada 2012 adalah 2.1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk Kristen dan Protestan adalah 2 milyar .Sehingga Islam saat ini, kendati dibandingkan dengan pemeluk Kristen dan Protestan sekalipun, sudah menjadi agama terbesar di dunia (www.religiouspopulation).

            Adapun data kependudukan dilihat dari latar belakang agama secara nasional menunjukkan bahwa pada tahun 80-an penduduk Muslim di Indonesia masih lebih dari 90%, maka pada tahun 2000 populasi muslim turun ke angka 88,2% dan tahun 2010 turun lagi menjadi 85,1%. Di Indonesia pertumbuhan agama Islam justru menurun drastis, seperti data di bawah ini:

  1. Berdasarkan hasil riset Yayasan Al Atsar Al-Islam (Magelang) dan dalam rangkaian investigasi diperoleh data bahwa mulai tahun 1999-2000 Kristen dan Katolik di Jateng telah meningkat dari 1-5 % di awal tahun 1990, kini naik drastis 20-25% dari total jumlah penduduk Indonesia.
  2. Dari laporan Riset Dep. Dokumentasi dan Penerangan Majelis Agama Wali Gereja Indonesia, sejak tahun 1980-an setiap tahunnya laju pertumbuhan umat Katolik: 4,6%, Protestan 4,5%, Hindu 3,3%, Budha 3,1% dan Islam hanya 2,75%.
  3. Dalam buku Gereja dan Reformasi, penerbit Yakoma PGI (1999), oleh Pendeta Yewanggoe, dijelaskan jumlah umat Kristiani di Indonesia (dari riset) telah berjumlah lebih 20%. Sedangkan menurut data Global Evangelization Movement telah mencatat pertumbuhan umat Kristen di Indonesia telah mencapai lebih 40.000.000 orang (19 % dari total 210 jumlah penduduk Indonesia)
  4. BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia melaporkan penurunan jumlah umat Islam di Indonesia. Contohnya di Sulawesi Tenggara turun menjadi 1,88% (dalam kurun waktu 10 tahun). Demikian pula di Jawa Tengah, NTT dan wilayah Indonesia lainnya.
  5. Dalam Kiblat Garut 26 Juni 2012, Menteri Agama RI saat itu, Suryadharma Ali mengatakan, dari tahun ke tahun jumlah umat Islam di Indonesia terus mengalami penurunan. Padahal di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Semula, jumlah umat Islam di Indonesia mencapi 95 persen dari seluruh jumlah rakyat Indonesia. Secara perlahan terus berkurang menjadi 92 persen, turun lagi 90 persen, kemudian menjadi 87 persen, dan kini anjlok menjadi 85 persen.
  6. Menurut data Mercy Mission, sebanyak 2 juta Muslim Indonesia murtad dan memeluk agama Kristen setiap tahun. Jika ini berlanjut, diperkirakan pada tahun 2035, jumlah umat Kristen Indonesia sama dengan jumlah umat Muslim. Pada tahun itu, Indonesia tidak akan lagi disebut sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim.(Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/opini/di-indonesia-umat-kristen-membengkak-muslim- menyusut/, Diakses tanggal 11 Agustus 2014)

Data-data tersebut di atas memberikan gambaran bahwa sesungguhnya penduduk Muslim secara kuantitatif terbesar di dunia dibanding dengan jumlah pemeluk agama lain. Sementara di Indonesia sendiri, sekaipun terjadi penurunan secara prosentase jumlah penduduk Muslim Indonesia dari tahun delapan puluhan  masih  90 %. Pada tahun 2010  data menunjukkan bahwa populasi muslim turun ke angka 85,1 %.  Namun jumlah penduduk Muslim tetap mayoritas.

Idealitas dan Realitas

            Sebagai penduduk dengan jumlah umat terbesar di dunia, umat Islam semestinya mampu memainkan peran dalam percaturan global baik dalam hal politik, ekonomi dan pertahanan, namun kenyataan yang terjadi malah sebaliknya, bahwa negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim dikuasai oleh bangsa Barat dan Eropa yang notabene non- Muslim. Lihatlah betapa negara-negara Muslim di dunia diobok-obok, dihancurkan dan dikuasai mereka, mulai dari Irak, Afghanistan, Libya, Mesir dan terakhir Yaman yang diawali oleh kudeta yang dilakukan Syiah Houtsi. Tidaklah sesuatu yang mustahil bahwa Negara Republik Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini  dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, pada saatnya akan diobok-obok, dihancurkan dan kemudian dikuasai sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap negara-negara Muslim lainnya di Timur Tengah dan di Afrika.

Perintah Menyiapkan Kekuatan

Sebenarnya empat belas abad yang lalu, Allah sudah mengeluarkan perintah yang tegas dan jelas bahwa umat Islam harus mempersiapkan segala macam kekuatan untuk menghadapi mereka yang ingin menghancurkan Islam, yaitu konspirasi dari kekuatan musuh-musuh Allah, musuh-musuh kaum muslimin termasuk musuh-musuh yang tidak diketahui, akan tetapi mereka mempunyai rencana dan keinginan  untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.  Allah berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya”.(QS. Al-Anfal/8:60)

Assa’adi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah  mempersiapkan kekuatan adalah untuk menghadapi kaum kuffar yang senantiasa berusaha menghancurkan kaum muslimin dan merusak Islam, yaitu dengan mempersiapkan segala kekuatan, baik fisik, ilmu pengetahuan, maupun  kekuatan senjata dan lain-lainnya yang diperlukan untuk memerangi mereka, termasuk membangun pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai senjata dan alat-alat pertahanan dan keamanan. Ibnu Ashour menjelaskan bahwa perintah ini ditujukan kepada jamaah kaum muslimin dan para pemimpin mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan jamaah kaum muslimin yaitu para pemimpin dan wakil-wakil mereka yang memiliki otoritas untuk mengeksekusi berbagai program untuk kemaslahatan umat Islam.

 

Perintah Berjamaah

Allah mengajarkan beberapa langkah strategis untuk  mencapai derajat ketaqwaan yang sebenarnya, sebagaimana firman-Nya:

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS Ali Imran (3):103)

            Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa ada lima langkah strategis untuk mendapatkan derajat ketaqwaan yang sebenar-benarnya, yaitu: (1) Islamisasi kehidupan (Islamiyatul hayah); (2) Berpegang teguh dengan syariat Allah SWT (Al-I’tishamu bihablillah); (3) Dengan berjamaah (jami’a/al-jamaa’ah); (4) Menjauhi perpecahan (Al-Ijtinaabu ‘anit-tafarruqi walfirqah), dan ; (5) Menguatkan ukhuwah Islamiyah (Binaa`u ikhwatilmuslimin).

            Assa’adi menjelaskan dalam  Tafsir-nya bahwa kemaslahatan di kalangan muslimin hanya akan dapat diwujudkan dengan bersatu dan berpegang teguh dengan agama Allah SWT, berusaha untuk mewujudkan persatuan di kalangan muslimin, menghindari segala bentuk perpecahan, saling tolong menolong dan bekerjasama dalam hal ketaqwaan dan kebaikan, serta menjauhi tolong menolong dalam hal dosa dan permusuhan. Perpecahan dan segala perbuatan yang mengikuti hawa nafsu  hanyalah akan menyebabkan rusaknya persatuan dan hubungan kerjasama antar umat, sebagaimana Allah mengingatkan bahwa perpecahan dan permusuhan telah menyebabkan umat terdahulu berada di tepi jurang neraka dan kehancuran.

Berkenaan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan antara lain  bahwa yang dimaksud dengan hablillah yaitu Al-Quran, sebagaimana hadits Harits Al-A’wardari Ali bin  Abi Thalib yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah hablullah al-matiin (tali Allah yang teguh) dan Shirathuhul mustaqiem (jalan-Nya yang lurus). Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “Laa tafarraquw” adalah perintah untuk berjamaah dan larangan berpecah belah. Banyak sekali hadits-hadits yang melarang berpecah belah dan memerintahkan untuk bersatu dan menyatukan hati, sebagaimana hadits shahih riwayat Muslim dari Suhail bin Shalih dari bapaknya dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal dan murka terhadap tiga hal. Allah meridhai; beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu; berpegang teguh dengan tali Allah dengan berjamaah dan tidak berpecah belah; dan saling bernasehat sesama Muslim sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Allah murka terhadap tiga hal: pembicaraan yang tidak bermanfaat (qiila wa qaala); terlalu banyak pertanyaan (kastratus-su`aal), dan; menyia-nyiakan harta (`idha’atul maal).”

Membina Ukhuwah Islamiyah

            Persaudaraan di antara sesama orang-orang beriman atau lebih popular disebut “Ukhuwah Islamiyah” adalah merupakan syariat Allah Azza wa Jalla yang wajib ditegakkan dan dipelihara, sebagaimana firman-Nya:

            “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat [49]:10)

            Kalimat “Innamaa” disebut juga “aadatuttahshir” dengan arti pembatasan atau pengkhususan. Innnanmaa juga dapat dimaknai ta`kid atau penguatan. Dengan makna pembatasan atau pengkhususan dapat dipahami bahwa suatu komunitas dapat disebut sebagai komunitas mukmin atau Muslim jika di antara mereka terjalin ikatan ukhuwah atau persaudaraan. Tetapi sebaliknya, jika mereka berpecah belah tentu mereka tidak pantas disebut  sebagai komunitas mukmin. Jadi, ukhuwah adalah syariat Allah yang wajib ditegakkan dan dipelihara. Selama seorang mukmin dalam aqidah tauhid yang benar, maka haram hukumnya memutuskan shilaturrahim antara satu sama lain. Perbedaan yang bersifat furu’iyyah tidak boleh merusak yang bersifat ushuliyyah. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan untuk secara proaktif melakukan ishlah atau mendamaikan di antara dua orang saudara sesama Muslim yang terancam putus shillaturrahimnya. Kalimat “Ashlihuw” adalah perintah (fi’il amar) yang memfaedahkan wajib, yang dalam definisi fiqih dirumuskan “berpahala mengerjakannnya dan berdosa meninggalkannya”.Jadi membiarkan saudara kita dalam keadaan bermusuhan tanpa ada usaha untuk mendamaikannya, termasuk perbuatan dosa, apalagi jika dengan sengaja merekayasa permusuhan dan memanfaatkan permusuhan untuk keuntungan dan kepentingan politik, tentu dosanya lebih besar lagi (qiyas aula).

            Qurthubi dalam Tafsir-nya menegaskan bahwa persaudaraan karena ikatan aqidah lebih kuat dibandingkan persaudaraan karena ikatan nasab, karena persaudaraan berdasarkan  hubungan nasab dapat terputus karena perbedaan aqidah, namun sebaliknya persaudaraan karena ikatan aqidah tidak terputus karena perbedaan etnis atau keturunan. Oleh karena itu Rasulullah SAW melakukan perbuatan yang berpotensi memutuskan shillaturrahim dan merusak persaudaraan sesama muslim sebagaimana sabda Rasululllah SAW :“Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling bersaing; janganlah saling mendengki; janganlah saling memarahi; & janganlah saling membelakangi (memusuhi)! Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yg bersaudara.[HR. Muslim No.4646].

Memelihara Kerukunan Antar Kelompok

            Pluralitas atau kemajemukan atau kebhinekaan adalah sunnatullah, karena Allah telah menciptakan manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, sebagaimana firmanNya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS Alhujurat [49]:13)

            Dalam pandangan Islam, pluralitas adalah sunnatullah karena Allah yang telah menciptakan manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang bertebaran di seluruh permukaan bumi. Selain dari perberdaan postur tubuh, warna kulit, manusia juga dibedakan oleh bahasa dan budaya karena dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan dan lingkungan di mana mereka membangun kehidupan. Perbedaan itu justru bernilai positif, karena dengan adanya perbedaan tersebut satu sama lain saling mengenal (Ta’arafuw) dan hal ini sangat membantu dalam melakukan hubungan yang bersifat global dan internasional, baik dalam hal yang bersifat sosial politik dan ekonomi maupun dalam hubungan sosial budaya dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.

            Untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan di tengah-tengah perbedaan tersebut, Allah telah menetapkan syariat yang berkaitan mu’amalah ma’annaas, sebagaimana firman-Nya:

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”  (QS Alhujurat [49]:12-13)

            Ayat-ayat di atas secara tegas mengharamkan perbuatan dan perkataan yang dapat merusak ukhuwah sesama Muslim, karena kerusakan ukhuwah akan berdampak buruk kepada persatuan dan kesatuan umat Islam. Jika umat terpercah belah, maka hilanglah kekuatan dan pada gilirannya umat Islam menjadi lemah, sedangkan kelemahan adalah sebab utama dari sebuah kekalahan dan kemunduran. Jumlah yang mayoritas tidak akan mampu melahirkan kekuatan yang besar, jika umat yang mayoritas itu satu sama lain berpecahbelah dan saling bermusuhan. Assa’adi menegaskan bahwa melakukan perbuatan yang dapat merusak ukhuwah termasuk dosa-dosa besar (kabaa`ir) yang untuk memohon keampunannya harus dengan cara bertaubat, dan bila tidak bertaubat digolongkan kepada orang-orang yang zhalim.

Kerjasama Ormas Islam

Kerjasama dan saling tolong menolong dalam hal ketaqwaaan dan kebaikan diperintahkan oleh Allah SWT:

 “………Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS Al-Maidah [5]:2) Ayat ini adalah ujung ayat 2 QS Al-Maidah yang di pangkalnya dimulai dengan seruan khusus kepada orang-orang yang beriman (Yaa  ayuuhallaziina aamanuw…). Jadi ayat ini adalah perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman agar bekerjasama dalam hal ketaqwaan dan kebaikan, dan melarang kerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Pada ayat yang lain Allah menjelaskan tentang perbedaan orang-orang beriman dengan orang-orang munafiq:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah [9]:71)

 “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS At-Taubah [9]:67)

Kesimpulan

            Bahwa untuk menjawab tantangan dakwah yang kian hari semakin berat, perlu diperkuat kerjasama antar ormas-ormas dan lembaga dakwah Islam, karena tugas dakwah itu harus dilakukan secara bersama-sama (jamaah) secara terintegrasi dalam sebuah sinerjisitas antar jaringan. Untuk itu forum komunikasi yang sudah ada perlu diperkuat seperti MUI, FKLD dan ormas-ormas Islam lainya. Selain itu yang lebih mudah dan efektif adalah perlu dimulai kerjasama antar satu ormas dengan ormas yang lain dalam suatu kegiatan tertentu, misalnya kerjasama antar Muhammadiyah dengan Nahdhatul Ulama dalam melakukan program bakti sosial,  pemberdayaan masyarakat dan dakwah di kalangan komunitas masyarakat marjinal.

            Untuk membina kerjasama antar ormas Islam ini akan sangat lebih mudah dan efektif bila dimulai dalam hal-hal yang ringan, kemudian berikutnya ditingkatkan kepada program yang agak lebih berat dan seterus-seterusnya. [Ed: Mz. Foto ilustrasi: Muaz]