Nama lengkap Muallim Rojiun Pekojan atau Radjiun adalah  Mohammad Radjiun bin Abdurrahim bin Muhammad Nafe bin Abdulhalim. Beliau lahir di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu dari beberapa ulama Betawi, diantara Guru Manshur Jembatan Lima dan Guru Abdul Madjid Pekojan,  sampai pada akhirnya bersama sang adik, Hasanat, pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Ia hobi bermain sepak bola. Perkenalannya dengan dunia sepak bola terjadi ketika Perang Dunia II mulai pecah yang memutuskan jalur laut dan otomatis memutuskan kiriman uang dari tanah air. Untuk menyambung hidup, beliau akhirnya menjadi pemain sepak bola di kesebelasan Nejed. Hasil dari bermain bola ini bukan untuk dinikmatinya sendiri tetapi juga dibagikan kepada puluhan teman-teman dan mukimin dari pelosok Nusantara, di antara temannya tersebut yang menjadi ulama Betawi terkemuka adalah KH. Noer Alie, pahlawan nasional dari Bekasi.

Setelah belasan tahun di Mekkah,  Mu`allim Radjiun kembali ke tanah air dan bergabung dengan beberapa teman serta juniornya di Jam`iyatul Qurro wal Huffazh, organisasi yang menaungi para qori dan penghafal al-Qur`an, antara lain: KH. Tb. Mansur Ma`mun, KH. Shaleh Ma`mun Serang, Banten, KH. Abdul Hanan Said, KH. Abdul Aziz Muslim. Beliau juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama). Beliau juga bersahabat karib dengan KH Abdullah Syafi`i (pendiri pergururuan Asy-Syafi`iyyah) dan KH Thahir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyah).  Karirnya di birokrasi adalah menjadi Penasihat Ahli Bidang Agama Menteri Utama Bidang Kesra RI yang ketika itu dijabat oleh Dr. KH. Idham Cholid.

Mu`allim Radjiun juga memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat, karena jika dirunut, beliau memiliki darah keturunan petani dan pedagang kembang di Rawa Belong. Namun usaha jual beli kuda yang basis peternakannya di Sumbawa, NTB menjadi pilihannya. Sambil berdagang, beliau juga bertabligh hingga ke wilayah Waingapu, NTT yang pengaruhnya masih terasa di sana sampai sekarang. Aktifitas tablighnya juga dilakukan di Jakarta sampai ke Kepulauan Seribu.

Selain bertabligh, beliau juga mengajar di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang dan di daerah Pekojan, Jakarta Barat. Keberadaannya di Pekojan ini karena beliau memiliki istri seorang syarifah (perempuan terhormat keturunan Arab) dari Pekojan yang bernama Chadidjah, walau tidak dikaruniai keturunan. Beliau memperoleh keturunan ketika menikah  dengan R. Hj. Siti Maryam yang  salah seorang anaknya meneruskan kiprah keulamaanya, yaitu KH. Prof. Dr. Abdurrahim Radjiun yang juga mengaji kepadanya.

Kealiman dan penguasan beliau terhadap kitab kuning dikenal luas oleh masyarakat Betawi. KH. Zainuddin MZ dan mu`allim KH. Syafi`i Hadzami menyebutnya sebagai ’guru saya’ (perlu penelitian lebih lanjut atas pernyataan ini). Beliau juga dikenal sebagai ulama yang tawaddu` sebagaimana yang diungkapkan oleh KH. Drs. Saifuddin Amsir dan juga oleh Dr. Habib Sechan Shahab, salah seorang muridnya yang pernah mengaji Kitab Tafsir Jalalain kepada beliau. Relasinya yang kuat dengan berbagai pihak di Timur Tengah juga memberikan manfaat kepada putra-putra terbaik Betawi yang ingin memperdalam ilmu di Timur Tengah, salah satunya adalah KH. Amin Noer, Lc., MA Ketua Umum MUI Bekasi, putra dari KH. Noer Alie, yang dibantu mu`allim Radjiun untuk dapat kuliah di Mesir. Beliau juga tercatat sebagai ulama Betawi yang duduk sebagai anggota Konstituante dan memperoleh kepercayaan untuk menjadi Imam Shalat Jum`at pertama di masjid Istiqlal bersama Presiden RI, Bung Karno. 

Muallim Radjiun wafat pada  13 Juni 1982 dan dikuburkan di pemakaman Karet, Jakarta Pusat berdekatan dengan kuburan ayahnya, H. Abdurrahim, dan kakeknya H. Nafi. Tak jauh dari situ juga dikuburkan isteri Soekarno, Fatmawati. ***

(Rakhmad Zailani Kiki, pelbagai sumber)