Bagaimana umat Islam di pelbagai ibukota negara merespon globalisasi? Bagaimana para ulama dan kaum muslim menghadapai penetrasi dunia digital yang, sepertinya tidak bisa dielakkan lagi? Bagaimana merespon arus informasi terkini seputar  kondisi Islam yang dahsyat dan melimpah ruah? Strategi dakwah seperti apakah yang  mesti dilakukan para ulama guna memajukan umat Islam di masing-masing negaranya?

Hal-hal di ataslah, antara lain, yang akan dibahas dan dikaji dalam acara Jakarta International Islamic Conference bertajuk Tantangan Dan Solusi Dakwah Islam di Berbagai Ibukota Negara pada 29 November-1Desember 2016 mendatang di Hotel Mercure, Jakarta. Perhelatan internasional yang diselenggarakan MUI Provinsi DKI Jakarta ini akan menghadirkan perwakilan ulama atau tokoh muslim yang tinggal di 15 ibukota negara, yakni Indonesia (tuan rumah), Cina, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Australia, Kamboja, Thailand, Mesir, Belanda, Arab Saudi, Turki, Maroko dan Amerika Serikat.

Kelak, para delegasi simposium ini akan membedah pula seputar persamaan, perbedaan, hingga tantangan dan solusi yang dihadapi umat Islam dalam menyebarkan gagasan seputar Islam di ibukota masing-masing. Lebih-lebih, bila dilihat secara lokal dan global, banyak terjadi ketimpangan umat Islam di pelbagai bidang dalam menghadapi modernitas dan isu-isu internasional.

Untuk itulah, selain membincang problem-problem di atas, konferensi internasional nantinya akan merumuskan, merekomendasikan dan membuat komunike (forum)  bersama antar perwakilan dari pelbagai ibukota negara guna membangun kontribusi dakwah yang positif bagi kemajuan Islam secara khusus dan peradaban manusia di dunia secara umum. [Muaz]

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.