Sejak tanggal 3 hingga 5 Desember 2017 nanti, MUI DKI Jakarta bekerjasama dengan Darul Fatwa Australia menyelenggarakan acara   bertajuk The Islamic International Conference on Moderation in Islam (Konfrensi Islam Internasional tentang Moderasi di Dalam Islam).

Sejatinya, event  internasional ini merupakan kelanjutan dari acara  the Jakarta International Islamic Conference (JAIIC) yang pernah dihelat MUI DKI Jakarta  setahun lalu. Dalam JAIIC yang berlangsung November 2016 silam itu menghasilkan Prakarsa Jakarta yang salah satu poinya menggelar acara serupa demi tercapainya dan tersebarnya gagasan Islam moderat dalam skala internasional.

Pesan penting dalam Konferensi Islam Internasional pertama yang diadakan di Sydney, Australia, ini adalah sebagai pembuktian dan pengamalan Islam yang Rahmatan lil ‘Alamiin. Pasalnya, Islam yang damai akan diikuti dengan perilaku umatnya yang juga mengusung kedamaian.  Inilah yang menjadi ujung tombak kenapa konferensi ini digelar. Bahwa  Islam sebagai agama perdamaian dan Islam menyayangi semua umat manusia itu harus selalu dibuktikan.

“Isu moderation in Islam ini tidak cukup pada ide dan  semangat saja, tetapi juga harus bekerja dan mengimplentasikannya secara nyata dalam program-program,” tegas  DR. H. Robi Nurhadi, Wakil Ketua Panitia Pengarah perhelatan ini kepada redaksi muidkijakarta.or.id.

Dalam konferensi yang berlokasi di New South Wales, Australia, ini selain dihadiri oleh pengurus harian Darul Fatwa, beberapa perwakilan pengurus MUI DKI Jakarta dan Wilayah Kota, nampak hadir juga beberapa delegasi ulama dan cendekiawan dari berbagai negara. Pembukaan acara pun sempat menampilkan  konser Grand Mawlid yang multikultural dan telah memukau semua delegasi dunia, termasuk  David Hurley sebagai Gubernur New South Wales ke-38, para anggota parlemen Australia serta para senator dan media massa di negeri  Kanguru.  (nanda & muaz)