FGD Penyusunan Indeks Kerawanan Pemurtadan yang digelar Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI DKI Jakarta (Foto: Dipo Khariul Islam)

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta melalui Bidang Pengkajian dan Penelitian menggelar diskusi terfokus atau Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Indeks Kerawanan Pemurtadan di DKI Jakarta, Kamis, (18/7/2019) di Ruang Audio Visual 1 Jakarta Islamic Centre.

Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar, KH Buya Risman, dan KH Didi Supandi hadir dalam FGD yang diikuti oleh 50 orang peserta yang melibatkan unsur pimpinan baik MUI Kota hingga dua perwakilan bidang di MUI DKI Jakarta untuk diminta data dan masukannya.

Ketua Panitia FGD
DR Rubadi mengatakan, isu pemurtadan di Jakarta sudah semakin marak. Untuk itu perlu adanya kajian mendalam untuk mengetahui perkembangan pemurtadan ini di wilayah Ibukota hingga nantinya MUI DKI Jakarta miliki data akurat dalam proses pemetaan dakwah di wilayah DKI Jakarta.

Diharapkan FGD ini bisa masuk ke tahap selanjutnya yang nantinya menjadi perhatian khusus bagi MUI DKI Jakarta dalam menjalankan dan fungsinya.

“Harapan kedepan, hasil dari kegiatan ini nantinya MUI miliki data data yang menjadi rujukan dan sumber pengkajian lanjutan yang dapat┬ádilihat, serta mengetahui pemetaan, kira kira faktor apa saja yang membuat kawasan/wilayah ini menjadi merah (kawasan yang sering terjadi pemurtadann),” ujar Kyai Rubadi.

Untuk itu kedepan, MUI kecamatan sampai kelurahan untuk berpikir lebih lagi agar program program MUI DKI bisa berjalan dengan baik.

Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar mengatakan,

saat ini pelaksanaaan pemurtadan sedang terjadi dimana-mana, dengan berbagai cara ditempuh untuk masukkan orang-orang ke agama mereka.

“Itu bersifat sistematik, untuk itu kajian ini amat penting, terutama yang hadir saat ini, untuk mengetahui masukan positif dari pimpinan dan anggota MUI oleh karenanya kami mengundang MUI dari tingkat wilayah sampai kota agar kajian ini bermanfaat,” kata Kyai Munahar.

Reporter: Dipo Khairul Islam
Redaktur: Firman Qusnulyakin