foto koleksi Muaz

Para malaikat yang bertugas di malam hari bertemu dengan malaikat yang bertugas di siang hari pada shalat Shubuh...”

Syahdan,  tertimbun senarai “keajaiban” di dalam shalat Shubuh. Heppy Trenggono, lelaki kelahiran 1967  itu kiranya pernah menemukan salah satunya. Hingga kini, keajaiban itu memberi atsar yang mengakar di dalam hidupnya. Ia memeluknya begitu erat, menggerakkan spiritnya untuk maju.

Konon, pengusaha ini pernah terlibat sengkarut utang-piutang. Tidak tanggung-tanggung: Rp. 62 miliar. Dalam wawancara dengan harian Republika [13/04/12] dituliskan,  setiap hari, ia  disambangi sejumlah pria bertubuh sangar guna menagih utang. Mereka biasa dikenal  debt collector, segerombolan laki-laki yang wajahnya mirip “preman”. Tentu, Anda –yang lazim  berurusan dengan mereka–akan mafhum bagaimana para debt collector itu berlaku:  datang, mengancam, mengintimidasi, dan menunjukkan kuasanya. Siapa yang tidak jeri dengan mereka? Yang berutang sekitar ratusan juta saja akan di-treat naudzubillah, apalagi ini—Trenggono—milyaran rupiah. Parahnya lagi, usahanya untuk mensrukstrurasi utang ditolak mentah-mentah. Bank-bank mem-black list namanya. Mencari pertolongan kemana-mana terasa buntu. Ia limbung. Ia serupa menemukan jelaga di tiap langkahnya.  Dan ia merasa di tebing kehancuran, hampir putus asa.

Tapi,  seorang istri membesarkanya, mendampingi jiwanya untuk mencari solusi bersama. Dan Allah Maha Kuasa. Sang Khalik menyuluh jalannya. Dia mempertemukan lelaki yang tak ingin tunduk dalam keputusasaan itu dengan sebuah firman soal Shubuh.  Ia seolah menemukan mukjizat di dalamnya. “Ketika membaca Qur’an, ada ayat yang menguatkan saya. Intinya, siapa yang shalat Shubuh, maka Allah akan melindungi.” Demikian tegasnya. Selepas itu, kita tahu, kelanjutan cerita Trenggono ini berakhir happy ending; usahanya kembali menggeliat, utangnya terbayar, dan lebih dari itu—ia menggerakkan dan menyeru pengusaha-pengusaha muslim untuk “eling” kepada-Nya hingga kemudian terbentuklah: Indonesia Islamic Business Forum [IIBF].

Demikianlah Trenggono dan kisah “mukjizat” shalat Shubuhnya. Memang,  ia tak mengutip ayat spesifik yang menerakan ihwal faedah shalat Shubuh itu. Tapi, saya menduga, firman itu termaktub dalam QS. Al-Isra [17]: 78, yang bunyinya begini: “Dan (tunaikanlah pula) shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan para malaikat.”

Lalu, apa shalat-shalat selain Shubuh tidak disaksikan para malaikat? Tentu tidak. Firman tersebut, ujar Quraish dalam Tafsir Misbah-nya, untuk menegaskan betapa dalam shalat fardhu yang satu ini terkandung segugus keistimewaan yang tak terpermanai.  Dalam titian waktu Shubuhlah biasanya seorang muslim kerap alpa menunaikan kewajibanya, lantaran masih asyik dibuai mimpinya. Lebih dari itu, Nabi Muhammad saw menguatkan dengan sebuah sabda begini: “Keutamaan shalat berjamaah dibanding shalat sendirian adalah dua puluh lima derajat. Para malaikat yang bertugas di malam hari bertemu dengan malaikat yang bertugas di siang hari pada shalat Shubuh.”  (HR. Bukhari). Hmm. Kiranya, bisa dimaklumi, jika seseorang yang  rajin shalat [apalagi berjamaah] Shubuh, akan lebih “memungkinkan” doanya diijabah, sebab sehimpunan malaikat tengah memantaunya dan mengaminkan doa-doanya. Efeknya: bekerja dan berkarya pun akan terasa  indah dan berkah.

Wajar bila ada buku-buku motivasi Islami yang kemudian menuliskan seputar relasi Shubuh dan kemudahan rezeki, juga relasi shalat Shubuh dengan beberapa rahasia “keajaiban” lainya.  Ini tentu saja, menurut penulis, sesuatu yang positif. Karenanya, kenapa Anda tidak menirunya? Wallahu’alam bisshawab. [Muaz]