sumber foto www esyakh com

 

Nabi Khidir jauh-jauh hari sudah menujum dengan empat larik doa yang simpatik dan reflektif.

Syahdan, seorang sufi bermimpi. Begini hikayatnya: “Suatu malam aku bermimpi seakan berada di langit dunia. Tiba-tiba seorang berkulit coklat, bertubuh pendek, dan berjanggut lebat berujar: ‘Bacalah ‘Allahummagfir liummati Muhammadin. Allahummarham ummata Muhammadin. Allahummastur ummata Muhammadin. Allahummajbur ummata Muhammadin‘ (Ya Allah, ampuni umat Muhammad. Ya Allah, kasihi umat Muhammad. Ya Allah, tutupi kesalahan umat Muhammad. Ya Allah, bantulah umat Muhammad).

Syekh itu Abu Abbas dan laki-laki yang memberinya doa adalah Syekh Ibn Abi Usyamah. Keduanya wali-wali Allah. Selepas mimpi itu, ia mendatangi gurunya, Syekh Abu Hasan. Sesampainya di kediaman sang guru, Syekh Abbas tidak berkata apa-apa, namun Syekh Hasan tiba-tiba berujar dengan doa sebagaimana yang diimpikanya.

Siapa yang menempuh laku tasawuf dan ia membaca riwayat Tarekat Syadziliah tentu mafhum bahwa Syekh Abbas adalah murid Syekh Abu Hasan Syadzili. Dan riwayat yang saya sampaikan di awal tulisan adalah hikayat Syekh Ibn Atha’illah, murid Syekh Abbas yang masyhur dengan kitab Al-Hikam dan  dibaca di pesantren-pesantren Nusantara. Semua termaktub dalam kitab Lathaiful Minan yang dalam versi Indonesianya baru-baru ini diterjemahkan Penerbit Zaman.

Sebuah doa seringkali membuat saya tercekat lama. Membikin hati saya basah dan lidah kelu hingga berjeda-jeda. Doa Nabi Khidir ini salah satunya. Selain itu, ini kali pertama saya mendapat riwayatnya, juga karena pesannya yang dakhil, mendalam, dan juga menusuk. Betapa tidak? Nabi Khidir jauh-jauh hari sudah menujum dengan empat larik doa yang simpatik dan reflektif. Bahwa umat Sang Baginda Nabi, junjungan kita, memang kerap ribut sesama pemeluknya. Hanya karena beda mazhab dan pemahaman, seseorang bisa saling memfitnah, membenci hingga menindas begitu keji. Kelompok kami lebih baik dibanding kelompokmu. Tafsir kami soal Islam lebih menjamin masuk surga ketimbang tafsir kalian. Golongan kalian yang menyesatkan Islam dan kami yang meluruskan Islam, karena itu kami lebih mulia dan tinggi. Lalu, prasangka buruk menyebar begitu massif. Berantai. Beruntun. Apalagi di zaman media sosial [Facebook, Twitter dan lain-lainya] seperti sekarang ini. Si A menghakimi iman si B. Si B mengadili iman si A.

Hal ihwal itulah agaknya yang menangkup hidup umat Nabi Muhammad. Khidir sahih. Teramat sahih, malah. Untuk itulah ia mendoakan kita semua. Doanya begitu indah dan mari kita mengaminkannya. Wallahu’alam bilshawab. [Muaz]

Apakah Nabi Khidir Masih Hidup?

Syekh Abu Abbas menceritakan bahwa seseorang bertanya kepada Syekh [Abu Hasan], “Bagaimana pendapatmu tentang Khidir? Masih hidupkah atau sudah mati?” Syekh lalu menjawab, “Temuilah al-Fakih Nashiruddin bin Abyari. Ia mengatakan bahwa Khidir masih hidup sekaligus seorang nabi, dan konon Syekh Abdul Muthi pernah bertemu dengannya.” Sejenak, ia terdiam, lalu melanjutkan perkataanya, “Aku juga pernah menjumpainya. Jari telunjuk dan tengahnya sama.” Ya, para sufi sepakat bahwa Khidir masih hidup. Setiap wali di setiap zaman dikabarkan secara mutawattir telah berjumpa dan mengambil ilmu darinya. [Dinukil dari Mengaji Lathaiful Minan, Ibnu Athaillah, Penerbit Zaman, hal. 117]