Pernahkah Anda membayangkan betapa nikmatnya bila kita hidup di zaman Nabi dan menjadi salah satu pengikutnya yang setia? Kita bisa bertemu langsung dengannya. Kita bisa merujuk persoalan langsung kepadanya. Kita bisa mencium bau harum keringat tubuhnya; melihat betapa syahdunya senyum beliau, ketampanan wajahnya; bisa  menyerap kelembutan budi pekertinya, dan mencium lama tangan mulianya.  Dan, tiba-tiba, saat berkhayal demikian kita tersadar bahwa semua sudah digariskan Ilahi, sedang hidup harus berjalan terus.

Bila demikian adanya, Anda tidak sendiri. Saya pernah mengkhayal seperti itu juga. Alangkah nikmat dan indahnya bila kita berada dalam pusaran ruang dan waktu bersama junjungan tercinta, Nabi Muhammad saw. Kita menjadi muslim saat ia hidup dan beranjangsana langsung dengannya.

Ya, terlebih di era sekarang ini, saat segenap syahwat kehidupan menyerang kita begitu hebat dan dahsyat–saat kekerasan [juga bisnis] atas nama agama kian marak dan tambah semarak, saat orang yang terjerumus dalam laku asusila semakin membabi buta, saat tantangan dan ujian hidup yang harus kita hadapi begitu bejibun– maka hidup di masa beliau menjadi lamunan nan indah.

Di tengah dunia andai-andai itu, saya lalu terpekur dan bertanya-tanya: Apa benar menjadi muslim yang tidak sekurun denganya  itu  tidak terhormat di mata-Nya? Apakah menjadi muslim yang semasa dengan sang Nabi itu menjamin seseorang menjadi lebih baik di hadapan-Nya? Apakah menjadi pengikut Rasulullah saw sewaktu beliau hidup itu  akan menggaransi bahwa kita akan menjadi muslim terbaik? Apakah hidup sezaman dengan beliau, kita akan mampu menghadapi gempuran ujian?

Allah Maha Solusi dan Muhammad menegaskannya. Sebuah hadits yang sering penulis pelajari di dunia pesantren pernah menjawab sejumlah tanda tanya saya itu.

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abbas menceritakan bahwa  Nabi Muhammad pernah bersabda:  “Tahukah kalian, siapa yang imannya paling menakjubkan Allah?”

            Mereka [para sahabat] menjawab:  “Tentu saja malaikat, wahai Rasulullah!”

            “Itu jelas. Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah, sedang mereka tahu persis apa yang diperintahkan Allah,”  jawab Nabi.

            Para sahabat meneruskan: “Para nabi Allah, wahai Rasulullah!”

            “Bagaimana para nabi tak beriman kepada Allah, sedangkan Jibril datang kepada mereka dengan perintah dari langit.”

            “Para sahabat tuan, wahai Rasulullah!”

            “Bagaimana para sahabatku tak beriman kepada Allah, sedang mereka menyaksikan mukjizatku, dan aku selalu memberikan [menyampaikan] wahyu-wahyu yang kuterima.”

            Nabi lalu menjawab kepenasaran mereka: “Orang yang imannya sangat mengagumkan adalah mereka yang datang setelah aku, beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat aku. Mereka membenarkan aku padahal tak kenal aku. Maka mereka itulah teman-temanku.” [Hadits ini penulis nukil dari Kitab Usfuriah [versi terjemah Musthafa Helmy], Pustaka Firdaus], 1993]

            Mendapati hadits tersebut, terus terang saja, hati saya melonjak kegirangan. Sebuah kabar Nabi yang barangkali akan menenangkan kita sebagai pengikutnya yang tak berjumpa langsung denganya. Meski saya bukan muslim yang baik, yang seringkali alfa dan khilaf dan berkubang dosa, sabda beliau itu adalah harapan, serupa oase di tengah padang yang tandus dan kering. Bahwa masih ada kesempatan bagi saya, Anda dan siapa pun umatnya, yang hidup di zaman penuh gelimang maksiat dan kerusakan ini untuk tetap bersetia mengikuti serangkaian perintah dan larangan Allah, serangkaian anjuran dan himbauan Rasul-Nya.

            Barangkali ma’qul [masuk logika] bila Rasulullah menjanjikan demikian. Sebab, pasalnya, menjadi muslim yang baik di tengah pelbagai ujian dimana ia mampu lulus ujiannya itu nilai surplus yang indah; ketimbang menjadi muslim yang baik tanpa mau dites dengan sejumlah ujian kehidupan.

Bukankah indah bila setelah bekerja keras, kita menuai hasil yang mewah, yakni  iman terbaik, yang di dalamnya terkandung jaminan anugerah dan surga-Nya? Lebih dari itu, bukankah orang-orang pilihan Allah—para nabi, ulama dan muslim shaleh lainnya, rata-rata mereka adalah yang telah menjalani sejumlah ujian dan musibah yang hebat?

Ya, sekali lagi, mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad setelah beliau tiada  dan kita hanya mengenal namanya melalui tinta sejarah, tanpa melihat langsung prilaku beliau dan kehebatan mukjizatnya, adalah iman terbaik; karena mereka menetapkan iman dan Islam atas bukti yang gaib. Tak aneh, bila Allah pernah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” [QS. Al-Hujuraat: 13]. Wallahu’alam bilshawab. [muaz]

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of