“Haji mabrur tidak ada ganjarannya kecuali surga.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hari-hari ini adalah masa jamaah haji Indonesia berpulang ke Tanah Air. Lazimnya, mereka membawa buah tangan untuk handaitaulan di kampung halamannya. Mungkin air zam-zam, kurma, kismis, sajadah, gamis; mungkin juga sejumlah perhiasan khas Arab. Atau boleh jadi oleh-oleh berupa kisah dan pengalaman haji yang indah dan menakjubkan untuk dibagi kepada keluarga dan koleganya yang  ditinggalkan di rumah.

Lalu, apa oleh-oleh spiritual buat jamaah hajinya sendiri? Atau apa sebetulnya buah spiritual yang mesti dibawa oleh para jamaah haji sehingga ibadah rukun Islam kelimanya ini berbekas dan terpancar dalam laku sehari-hari pasca berhaji? Oleh-oleh spiritual inilah yang kelak bisa mengidentifikasi kemabruran seorang jamaah haji.

Kisah dalam hadis berikut ini bisa menjadi tamsilnya. Syahdan, Ibn ‘Umar (putra Umar bin Khaththab ra.) berkisah: “Suatu ketika aku duduk bersama Nabi saw di Masjid Mina. Tiba-tiba datang kepada beliau seorang penduduk Madinah dan seorang dari suku Tsaqif. Keduanya berucap salam seraya berkata, “Kami datang untuk bertanya kepadamu.” Setelah menjawab salam keduanya, Nabi bersabda: “Jika kalian mau, saya akan kabari kalian pertanyaan yang kalian datang ingin menanyakannya (maka saya akan lakukan) dan kalau kalian mau saya diam dan mempersilakan kalian bertanya, maka saya pun akan melakukanya.” Keduanya lalu berkata, “Beritahulah kami, wahai Rasulullah!”

Yang dari suku Tsaqif berkata kepada temannya yang dari penduduk Madinah, “Tanyailah!” Sejurus kemudian, lelaki yang dari Madinah berkata: “Sampaikanlah kepada kami!” Nabi Muhammad saw pun bersabda: “Engkau datang kepadaku bertanya tentang apa yang engkau peroleh sebagai imbalan keberangkatanmu dari rumahmu menuju Rumah Allah (Ka’bah), serta shalat dua rakaat yang engkau lakukan setelah thawaf, sa’imu antara Shafa dan Marwah, wukufmu di sore hari di Arafah, pelemparan jumrahmu, penyembelihanmu, serta thawaf Ifadah yang kalian lakukan.”

Ia (seorang penduduk dari Madinah) berkata: “Demi Allah swt yang mengutus engkau, memang tentang hal tersebutlah aku datang untuk bertanya.”

Rasulullah saw kemudian bersabda: “Sesungguhnya jika engkau beranjak dari rumahmu menuju Baitul Haram (Ka’bah) maka untamu tidak meletakkan kakinya, tidak pula mengangkatnya, kecuali Allah menetapkan untukmu satu (ganjaran) kebajikan serta menghapus (dari catatan amalmu) satu dosa. Adapun shalat dua rakaat yang engkau lakukan setelah thawaf (maka ganjaranya) sama dengan memerdekakan seorang dari putra (Nabi) Isma’il as. Adapun sa’imu antara Shafa dan Marwah (pahalanya) bagai memerdekakan tujuh puluh hamba sahaya. Adapun wukufmu pada sore hari di Arafah, maka sesungguhnya Allah “turun” ke langit bumi untuk membanggakanmu di hadapan malaikat seraya berfirman: “Hamba-hamba-Ku datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru. Mereka mengharapkan surga-Ku. Seandainya dosamu (walau) sebanyak butiran pasir atau tetesan hujan, atau buih di lautan, niscaya pasti Kuampuni. Bertolaklah (dari Arafah ke Mina) dalam keadaan telah diampuni untukmu dan untuk siapa yang kamumintakan untuk diampuni.” Adapun lontaran kerikilmu, maka ia merupakan pengampunan dari dosa besar yang menjerumuskan (ke neraka). Sedangkan penyembelihan (binatang/kurban) yang engkau lakukan, maka itu dijadikan bekal untukmu di sisi Tuhanmu. Sementara pengguntingan (pencukuran) rambut yang engkau lalukan maka untuk setiap rambut yang engkau cukur engkau mendapat satu (ganjaran) kebajikan dan menghapus darimu satu dosa. Sedang thawafmu di sekeliling Ka’bah sesudah itu (thawaf Ifadhah sesudah bercukur) maka sebenarnya ketika itu engkau melaksanakan thawaf dalam keadaan tidak berdosa; malaikat datang meletakkan tangannya di bahumu sambil berkata: “Beramalah untuk masa datang, karena dosamu yang lalu sudah diampuni.” (HR. Tabrani dan Mundziri, rangkaian semua perawinya terpercaya dan ingatanya kuat).

Semoga hikayat hadis di atas bisa menjadi bekal dan oleh-oleh jamaah haji Indonesia untuk beramal ibadah lebih baik lagi selepas menunaikan rukun Islam kelimanya. (Muaz/Kisah diselaraskan dari buku Haji dan Umrah bersama M. Quraish Shihab, Lentera Hati :2012)

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of