Apa yang membedakan antara seorang pezikir palsu dengan pezikir sejati. Bagaimana mengenalinya?

Pernahkah Anda melihat orang yang rajin beribadah, tapi lakunya jauh dari ekspresi ibadahnya? Apakah Anda pernah memerhatikan si A yang zikirnya kuat begitu rupa selepas shalat ternyata hanyalah manusia yang suka bergosip alias membuka aib orang lain?  Ia, si pezikir, tak ubahnya manusia berwajah dua dengan sejumlah topeng yang dimilikinya.

Pernahkah Anda menyaksikan betapa orang yang Anda banggakan—orang yang wiridnya luar biasa bergairah itu—ternyata hanyalah seorang penipu nomor wahid yang bersembunyi di dalam kedok agama?  Dia, si tukang wirid, itu cuma pribadi  yang mencari untung-rugi atas nama agamanya.  Atau jangan-jangan, na’udzubillah, hal tersebut justru kita lakukan sendiri.

Demikianlah. Betapa banyak kita jumpai “pezikir palsu” di sekeliling kehidupan kita.  Terlebih di negeri yang populasi penduduknya ini terus bertambah dengan persentase penganut Islam terbesar ketimbang penganut agama lainnya, entah itu menjadi muslim sejak lahir, maupun karena hijrah [pencarian iman] dari agama lainnya.  Islam dalam catatan angka [kuantitas] memang mengharukan, namun Islam dalam torehan non-angka [kualitas]  niscaya jauh lebih membanggakan.

Lantaran kuantitas yang menjadi pertimbangan kesuksesan beribadah, tak aneh bila muslim Tanah Air lebih banyak memproduksi para pezikir palsu.  Ciri-cirinya, antara lain:  perbuatan dan perkataannya acapkali tidak seiring seirama, baik disadari maupun tidak; berzikir karena pertimbangan-pertimbangan duniawi;  mendadak merasa paling benar dan Islami; menyukai hal-hal lahiriah dalam beragama dan lain-lainnya.

Bila hal tersebut begitu abstrak, tengok saja sosok pezikir palsu itu saat Anda melihat seseorang bergelar haji, tapi tak malu korupsi; saat Anda menyaksikan lelaki berjenggot dan bersurban dengan pakaian serba putih tapi tak segan-segan  menganjurkan kekerasan atas nama agama; saat Anda mengamati seorang dai atau ustadz atau mubaligh, namun  tak sungkan dan bangga melengkapi aksesori duniawi;  saat Anda melihat pengemis-pengemis muda berkopiah yang segar-bugar menadahkan tangan dari rumah ke rumah; saat Anda mendapati seorang suami yang getol shalat berjamaah dan beribadah seringali menyakiti istri dan keluarganya; dan, tentunya, saat Anda melihat ke dalam diri sendiri dan berfikir : sudahkah zikir yang saya lakukan selalu tercermin dalam perbuatan saya?

Pezikir Sejati

Bila ada pezikir palsu, tentu saja  ada “pezikir sejati”.  Mari kita tengok istilah ini dengan mengutip petuah sang guru sufisme, gurunya para guru dunia tarekat, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang mengatakan bahwa: “Pezikir sejati adalah orang yang berzikir kepada Allah dengan hatinya. Orang yang berzikir hanya dengan lisan sebenarnya tidaklah berzikir, karena lisan hanyalah pembantu dan pengikat hati.”

Berzikir dengan hati. Ya, itulah pezikir sejati. Jika mencermati arahan Syekh Abdul Qadir tampak sekali betapa kebanyakan kita adalah para pezikir palsu. Kita begitu fasih dan lancar sekali membaca wiridan atau lafal zikir, namun kita tidak meresapinya di dalam hati. Tak aneh, bila pasca berzikir, tidak ada atsar yang nampak dari tingkah laku seorang pezikir palsu. Tidak ada manifestasi konkrit selepas menyebut-nyebut asma Allah di dalam zikirnya. Bukankah, pezikir sejati, itu adalah mereka yang menunjukkan konsistensi zikir setelah shalat, maupun di luar shalat.      Karenanya, tak aneh, bila Allah menegaskan dalam firman-Nya:  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, maka berzikirlah di waktu berdiri, di waktu duduk,  dan di waktu berbaring.” [QS. An-Nisa: 103].

Syahdan, mereka yang masuk dalam kategori pezikir sejati itu adalah mereka sebagaimana diterangkan dalam QS. Ar-Ra’d: 28 yang berbunyi: [Orang-orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan kembali menerima tuntunan-Nya dan yang selalu akan berbahagia adalah] orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram [setelah sebelumnya bimbang dan ragu. Ketenteraman yang bersemi di dada mereka itu] disebabkan karena zikrullah…”

Dan ghalibnya, setelah asyik-masyuk dalan zikir atau wirid, hati si pezikir sejati itu akan tampak tenang dan tentram, segenap lakunya pun akan tampak sedap di mata. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan sikap dan perbuatan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Ia berusaha dengan segenap upayanya untuk mewujudkan akhlak yang terpuji.

Sederhana, memang, untuk melihat ciri-ciri seorang “pezikir sejati” dan “pezikir palsu” itu: lihat dan cermati baik-baik akhlaknya, apakah kian mahmudah [terpuji] atau semakin madzmumah [tercela]?  Wallahu’alambilshawab [Muaz/sumber foto: deviantart.com]