Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berpuasa mempunyai dua kegambiraan; kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Rabbnya” (HR. Muslim dan Ahmad).

Ibnu Rajab, ulama yang digelari sebagai penghulu ulama mazhab Hambali, lahir pada tahun 736 H dan wafat pada tahun 795 H, menjelaskan hadits di atas bahwa secara alami, jiwa-jiwa manusia itu memiliki kecendrungan kea rah pemenuhan kebutuhan makan, minum dan menikah. Jika jiwa-jiwa manusia tersebut dicegah dari ketiga pemenuhan tersebut dengan batas waktu tertentu dan kemudian membolehkannya pada waktu yang lain, maka tentu jiwa-jiwa tersebut menjadi gembira, terutama ketika kebutuhan akan ketiganya meningkat.

Sabda Rasulullah dan pendapat Ibnu Rajab tersebut pada ratusan tahun kemudian mendapatkan pembenaran, pengutan ilmiah kembali; salah satunya dari seorang pakar ekonomi asal Jerman, Herman Heinrich Gossen. Dia adalah orang pertama kali yang memperkenalkan hukum tambahan utilitas yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility). Gossen hidup pada masa 1810-1858. Pada tahun 1854, dia menulis karya ilmiah yang berjudul Enwicklung der Gesetze des Menschiliches Handeln. Karya ilmiah tersebut merupakan pendahulu dari pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh para pakar Neo Klasik. Di antara pemikirannya terdapat dua pemikiran dasar yang menonjol, yang dikenal dengan dua hukum Gossen, yaitu Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.

Khusus Hukum Gossen I, dia berbunyi: “Jika pemuas terhadap suatu benda berlangsung terus menerus, kenikmatan mula-mula mencapai kepuasan tertinggi. Namun makin lama makin turun, sampai akhirnya mencapai titik jenuh.”

(Bersambung)

(Oleh Rakhmad Zailani Kiki, Sumber: http://islamic-center.or.id)