Di sekolah menengah Umum (SMU), Hukum Gossen, khususnya Hukum Gossen I, dipelajari. Materi Gossen I umumnya disampaikan dengan diberikan contoh lima buah gelas berisi air minum. Dalam keadaan dahaga, seorang akan merasakan kenikmatan tertinggi minum air di gelas pertama, namun ketika meminum air di gelas kedua, ketiga, keempat, kenikmatannya makin lama malkin turun sampai mencapai titik jenuh, titik nol, di gelas kelima atau gelas terakhir.

Kenikmatanntertinggi di gelas pertama inilah yangdisenut dalam hadits Rasululah SAW sebagai kegemabiraan (farhah) bagi orang yang berbuka puasa, gembira karena setelah menahan dahaga sejak azan subuh, dapat meminum air, walau hanya air tawar, yang kenikmatannya adalah kenikmatan tertinggi; kenikmatan di gelas pertama menurut Hukum Gossen I.

Di bulan ramadhan, kenikmatan tertinggi di gelas pertama ini dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa selama 29 atau 30 hari. Ketika azan maghrib berkumandang di bulan Ramadhan, maka tidak ada minuman yang paling nikmat di dunia ini selain dfi gelas pertama walau hanya berisi air tawar. Masya Allah! Wal hasil, kegembiraan karena mendapatkan kenikmatan tertinggi di gelas pertama ini dengan meminum aior tawar, jelas hanya dirasakan oleh orang-orang yang sangat dahaga, khususnya orang  yang berpuasa.

Sebaliknya, orang –orang yang tidak pernah merasakan dahaga yang sangat atau orang yang tidak berpuasa, tidak akan pernah mendapatkan kegembiraan dan kenikmatan di gelas pertama yang berisi air tawar ini. Bagi mereka, air tawar bukan minuman yang memberikan kenikmatan lagi. Bahkan sudah menjadi sesuatu yang menjenuhkan.  Dikarenakan jiwa mereka memiliki kecendrungan yaitu selalu mendapatkan kenikmatan seperti yang disampaikan oleh Ibnu Rajab, yang berarti kuatnya dorongan hawa nafsu, mereka akhirnya mencari kenikmatan dan kelezatan di air yang lain, misalnya di air yang berpemanis, seperti susu, teh, atau kopi. Namun ketika susu, teh, atau kopi tidak terasa nikmat lagi, mereka mencari di minuman lain, seperti jus atau minuman berkarbonat. Minuman–minuman ini poun, ketika sudah tidak lagi memberikan kenikmatan, sebagia mereka akhirnya mengkonsumsi minuman keras (miras) bahkan narkoba dan mereka mengkonsumsinya sampai kecanduan yang berujung kepada kematian. Na’udzubillah min zalik!

Inilah bahayanya, jika jiwa manusia tidak pernah dikekang pada batas waktu tertentu. Terutama jiwa yang tidak memiliki iman dan takwa yang didorong oleh kuatnya hawa nafsu, maka jiwa ini tidak akan pernah puas, bergerak liar dan terus berupaya mengkonsumsi apapun untuk mencari kenikmatan tertinggi yang semu sampai harus mengorbankan dirinya sendiri. Jiwa seperti ini tidak perduli lagi dengan halal dan haram, dia terjebak dalam kubangan dosa atau kemaksiatan. Mereka yang memiliki jiwa seperti ini adalah golongan kufur nikmat yang sudah Allah cabut kenikmatannya dari segelas air tawar.

Akhir kalam puasa Ramadhan dan puasa sunnah yang dijalankan seorang muslim bukan hanya berbuah pahala, bukan hanya untuk mengetuk pintu syurga dan kelak ia akan masuk syurga melalui pintu Ar-“Rayyan”. Tetapi puasa-puasanya tersebut akan berdampak positif secara langsung kepada jiwanya, kepada kehidupannya di dunia saat ini. Maka, mari di bulan Ramadhan ini kita raih kegembiraan dan kenikmatan tertinggi di gelas pertama. Cobalah ketika berbuka puasa kita minum dengan segelas air tawar, buktikan dan rasakan sendiri kenikmatan tertingginya. *** (Rakhmad Zailani Kiki, Sumber: http://islamic-center.or.id)

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of