Ketua FKUB DKI Jakarta Prof Dede Rosyada (Batik Biru) saat jadi Narasumber Sarasehan Kebangsaan (Istimewa)

Jakarta – Majelis Ulama Provinsi DKI Jakarta menggelar Sarasehan Kebangsaan di Aula H Djailani Jakarta Islamic Centre, Rabu (11/12/2019) dengan hadirkan pembicara Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Prof Dr KH Dede Rosyada dan Komisaris Besar Polisi Umardhani dari Binmas Polda Metro Jaya.

Prof Dede dalam pemaparannya mengatakan, jika dirinya pertama kali dikenalkan dengan kata radikal itu melalui matakuliah Filsafat. Radikal berasal dari kata Radics yang artinya akar atau dasar hingga Radikal bisa diartikan mengkaji sesuati secara mendasar sampai ke akar-akarnya. Namun, kata ini diubah pragmatis hingga terlihat menyeramkan.

Lebih jauh dikatakannya, Radikalisme ini semakin bertambah rumit dengan munculnya deradikalisasi yang didengungkan Pemerintah hingga menjelma menjadi kebijakan.

“Padahal pemahaman radikal itu masih belum jelas, ciri dan definisi. Secara akademik harus didefinisikan cirinya baru dijadikan kebijaakan,” kata Prof Dede.

Prof Dede kemudian memaparkan jika dalam sebuah makalah akademik, radikalisme didefinisikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan secara drastis dan menggunakan cara-cara kekerasan.

Sementara menurut Menteri Agama, radikalisme adalah kelompok yang sering mengkafirkan orang lain. Dari kedua definisi ini belum bisa dijadikan definisi yang secara utuh dan menyeluruh untuk mendefiniskan radikal.

Contoh Gerakan 212, kontennya adalah Doa Bersama, namun banyak orang yang akhirnya mempersepsikan sebagai hal yang negatif.

“Contoh lain, ada Ormas yang kemudian meminta Gubernur dan jajarannya untuk menutup Hotel Alexis, apa itu radikal? Tentu tidak, karena dia belum radikal karena belum mendasar, dia di akar belum di cabang,” kata Prof Dede.

Radikalisme di Indonesia sendiri didefinisikan sebagai sebuah gerakan untuk mengubah dasar negara menjadi yang lain karena kekecewaan bahwa mereka termarjinalkan dalam ekonomi, tidak terbawa oleh arus dinamika kemajuan bangsa.

Munculnya Gerakan New Left (Kiri Baru) sebagai Gerakan Pragmatis

Pada masa orde reformasi Kelompok New Left mendapatkan sebuah momentum, karena saat ini dibukakan keran demokrasi dan penghargaan ham hal ini diperkuat dengan berdirinya ISIS pada tahun 1999.

Perkembangan kini, ISIS katanya sudah kalah dan Al Baghdadi (Pemimpin ISIS) sudah terbunuh. Dan Gerakan MMI dan JAD juga sudah tidak kuat lagi.

Sehingga dipersepsikan bahwa orang-orang mantan anggota tersebutlah yang kemudain membuat Gerakan perorangan yang kemudian tidak terorganisir dengan baik dan kemudian muncullah Lone Wolf (Srigala Kesepian) yang tidak memiliki tujuan dan mengerikan.

Masyarakat tidak tenang tidak tentram akibat dari adanya terorisme,dan banyak efek lainnya terutama dalam bidang ekonomi, yaitu investasi menurun, masyarakat menjadi tidak produktif sehingga terjadi ketidakstabilan sosial politik dalam sebuah negara.

Antisipasi Lone Wolf ini adalah Rt/Rw/kiyai atau Ustad tempat yang kemudian hadir dan menjadi garda terdepan dalam pencegahan atau antispasi dan penanggulangannya.

Kemudian pemerintah tidak boleh prejudice dan menyalahkan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah, Pemerintah tidak boleh memojokkan PIAUD. Pemerintah pun tidak boleh prejudice dan suudzon pada Majelis Ta’lim

“Lantas MUI Bagaimana, sebagai Lembaga legitimasi publik, maka bisa menyebarkan Islam Wasthiyah pada masyarakat. MUI itu mempunyai power di dalam masyarakat,” kata Prof Dede.

“MUI dapat mengembangkan multichannel dalam menyebarkan Islam Wasathiyah pada masyarakat. MUI juga diharapkan untuk lebih membawa kesejukkan bagi masayarakat dan meberikan dukungan pada pemerintah tanpa menghingkan kritismenya.