Sang Makhluk Cahaya
Abdul Ar-Razaq telah meriwayatkan sebuah hadits yang sanadnya diperoleh dari sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshori ra beliau berkata: “ Aku bertanya : “ Wahai Rasulullah, sumpah demi ayah dan ibuku, kabarkanlah kepadaku tentang makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah swt sebelum semua makhluk diciptakan-Nya.” Beliau bersabda : “Allah swt menciptakan makhluk sebelum semua makhluk diciptakan adalah nur nabimu Muhammad saw dari nur-Nya.” (H.R. Abdul Ar-Razaq). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas ra, dia mendengar dari Rasulullah saw, sesungguhnya beliau bersabda : “Sesungguhnya orang Quraisy (nabi Muhammad saw) ketika masih berbentuk nur diharibaan Allah Azza wa Jalla, kira-kira dua ribu tahun sebelum diciptakannya nabi Adam as. Nur itu bertasbih kepada Allah dan para malaikat juga bertasbih dengan tasbih yang diucapkannya (nur). Dan ketika Allah menciptakan Adam, maka Allah menitipkan nur tersebut pada tanah yang menjadi cikal bakal Adam. Nabi Muhammad saw bersabda : “Kemudian Allah menurunkanku dibumi pada tulang belakang nabi Adam. Kemudian aku diikut sertakan dalam kapal nabi Nuh, pada saat itu aku berada dalam tulang rusuknya (sulbi) nabi Nuh. Setelah itu aku dipindah kedalam tulang rusuknya nabi Ibrahim, ketika beliau dibuang kedalam api. Allah swt senantiasa memindahkan aku dari tulang rusuk-tulang rusuk yang suci ke rahim-rahim yang bersih lagi megah, sehingga Allah swt melahirkanku dari bapak dan ibuku yang keduanya tidak pernah melakukan perzinahan sama sekali.
Siti Aminah menceritakan pada waktu melahirkan, dia merasakan di sekelilingnya ada cahaya gemerlap bagaikan bintang berjatuhan. Pada waktu itu kakek Nabi Muhammad sw, Abdul Muthalib sedang berada di Ka’bah, mendengar cucunya lahir Abdul Muthalib pulang dan merasa bangga serta gembira karena cucu yang dinantikan sudah lahir. Kemudian Abdul Muthalib memberi nama Muhammad artinya “orang yang terpuji”.
Karena ruh Rasulullah, Muhammad saw., adalah ruh yang pertama kali diciptakan, maka ketika ruh tersebut terkurung di dalam jasad, tetap saja jasad Muhammad saw. Tidak dapat menghalangi terangnya cahaya Muhammad saw. Dengan kata lain, jati diri ruh lebih menonjol daripada jati diri jasad. Diriwayatkan dari Hindi bin Abi Halah, “Rasulullah itu berhidung mancung dan bercahaya. Orang yang tidak mengetahuinya menganggap tulang hidung beliau panjang sampai ujung hidung.” (HR. A th-Thabarani Ibnu Katsir). Hadits dari Al-Hasan, dari pamannya yaitu Hindi, ia bercerita, “Rasulullah adalah seorang manusia yang agung. Wajahnya bercahaya bagaikan sinar rembulan di malam purnama.” (HR. Ath-Thabarani) Hadits dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, “Rasulullah itu badannya bercahaya, bulu-bulunya lembut dan menyambung dari bagian atas dada sampai pusar_ Bulu-bulu itu merangkai bagaikan benang. Sedangkan di bagian putting susu dan perutnya, bulu-bulu itu tidak tumbuh. Adapun di bagian lengan, pundak, dan bagian atas dada, bulu-bulu tersebut tampak banyak.” (HR. Al-Haitsamy dalam Majma’ Az-Zawa’id). Hadits dari Abu Hurairah menceritakan, “Saya belum pemah melihat paras wajah setampan paras Rasulullah. Seolah-olah cahaya mentari berjalan menyelusuri wajahnya.” (HR. Ibnu Hibban). Hadits dari Siti Aisyah r.a. menyebutkan, “Rasulullah saw adalah orang yang wajahnya paling tampan dan kulitnya paling bercahaya di antara yang lain.” (HR. AlBaihaqi). Riwayat dari Muhammad bin Ammar berkata kepada Ar-Rabi’ binti Mu’awwidz, “Mohon jelaskan sifat fisik Rasulullh kepada saya!” Ar-Rabi’ menjawab, “Anakku, seandainya kamu melihat beliau, maka itu berarti kamu sedang melihat matahari terbit.” (HR. Ad-Darimi, Al-Haitsami, dan Al-Baihaqi). Bahkan cahaya dari ruh beliau lebih terang daripada matahari. Dikisahkan: Ibnu Abbas menuturkan, “Sosok Rasulullah belum pernah ada bayangannya. Jika beliau berdiri sedangkan matahari bersinar, maka sinar yang terpancang dari beliau mengalahkan sinarnya matahari. Begitu pula jika beliau berdiri di tengah cahaya lampu, maka cahaya beliau lebih terang daripada cahayanya lampu.” (HR. As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir). Selain Ibnu Abbas, redaksi hadits ini diriwayatkan pula oleh Jabir bin Samurah). Terakhir hadits yang menyatakan bahwa pernah suatu kali Nabi Muhammad saw. masuk ke rumah Siti Aisyah r.a. di waktu tengah malam. Tatkala itu Siti Aisyah sedang menjahit bajunya Nabi Muhammad saw. Tatkala Siti Aisyah sedang asyik menjahit baju Nabi Muhammad saw, tiba-tiba jarum yang dipakai Siti Aisyah untuk menjahit baju Nabi Muhammad saw. terjatuh dan lampu yang digunakan untuk menjahit itu juga terjatuh sehingga padamlah lampu itu. Tatkala Siti Aisyah sedang mencari-cari jarum yang terjatuh itu, karena gelap tidak terlihat, tiba-tiba muncullah Nabi Muhammad saw. maka ruangan yang ada di situ menjadi terang benderang dengan cahaya wajahnya Nabi Muhammad saw. sehingga Siti Aisyah dengan mudah mengambil jarum yang terjatuh itu. Tatkala itu Siti Aisyah mengambil jarum sambil melihat wajah Nabi Muhammad saw. sambil berkata, “Alangkah terang wajahmu Ya Nabi.” Maka berkatalah Nabi, “Celakalah orang yang tidak melihat wajahku di hari kiamat, wahai Aisyah.” Maka Siti Aisyah bertanya kepada Nabi , “Siapa orang yang tidak dapat melihatmu nanti di hari kiamat, Ya Rasulullah?”. “Orang yang disebutkan namaku dihadapannya tapi tidak mau bershalawat kepadaku,” kata Nabi Muhammad saw. (Bersambung)

(Rakhmad Zailani Kiki. Sumber: http://penaintelegensia.blogspot.co.id)