Kala itu, dua milinium Sebelum Masehi,

Seorang bapak bermimpi

Menyembelih anak kesayangannya yang Widi

Kedua orang itu tunduk dan pasrah pada Ilahi, begitu juga dengan sang isteri, iblis pun menyertai

Sesungguhnya: doa, perjuangan, hidup dan mati

Hanyalah untuk Allah. Itulah yang diucapkan mereka.

 

Hari berikutnya, mereka menuju ke tempat yang dituju

Menyempurnakan mimpi nan pilu

Duh Gusti, Kuserahkan hamba-Mu!

Seraya bertakbir Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.  Laa Ilaaha illa Allaah.

Sang anak melanjutkan,”Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!”

Malaikat pun menimpali,” Allahu akbar wa Lillaahilhamd.”

 

Tuhan Maha Pengasih,

Domba besar disediakan

Menggantikan kurban manusia.

 

Manusia makhluk mulia

Tidak diperkenankan menjadi

Kurban dan dikurbankan

Apalagi hanya karena nafsu

Keserakahan ekonomi dan politik,

 

Membunuh seorang manusia

sama dengan membunuh spesies ini seluruhnya.

 

Sayang, lima milinium berikutnya

manusia menyembah dirinya sendiri atas nama humanisme.

Tuhan sudah mati, agama tidak berarti kecuali secara pribadi.

 

Apakah ini yang disebut dalam Al-Qur`an “Tuhannya ya hawa nafsunnya?”

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa Lillahlhamd.

 

Bekasi, 23 September 2015

Ahmad Syafi`i Mufid

MUI Provinsi DKI Jakarta