Pengamat senior UI Prof Dr. Salim Said menilai ancaman ideologi komunisme seperti yang pernah terjadi sebelum Gestapu sudah tidak ada lagi, namun tantangan yang harus dihadapi negeri ini adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan demokrasi.

“Bahaya komunisme seperti yang kita alami sebelum Gestapu sudah tidak ada, komunisme itu suatu ideologi yang sudah bangkrut, ancaman yang dihadapi Indonesia itu sekarang adalah mampukan kita menjaga dan mengembangkan demokrasi di negeri ini, sebab PKI dulu bisa berkembang karena dilindungi oleh Nasakom dalam suatu pemerintahan yang otoriter, tidak demokratis,” kata Salim Said saat menyampaikan paparannya dalam Halaqah Kebangsaan: Mewaspadai Gejala Kebangkitan Komunisme Gaya Baru di Indonesia di Kantor MUI,Jakarta, Rabu (1/10/2014).

Salim menjelaskan, musuh kita sesungguhnya adalah kemiskinan dan ketidak-merataan pembangunan. Kalau kita tidak bisa mengatasi supaya ketimpangan kaya dan miskin tidak semakin melebar sehingga tidak banyak orang yang merasa tidak mempunyai kesempatan rejeki di dalam sistem politik yang ada.

“ini akan menciptakan orang-orang yang merasa tersisih, merasa tidak bagian dari janji-janji pembangunan,” katanya. Dia menambahkan, kita sudah mengalami itu beberapa kali, misalnya GAM di Aceh, dia mencontohkan bagaimana pesawat terbang pertama milik Indonesia yang diberikan oleh rakyat Aceh. “Kenapa ada GAM, sederhana, pemerintah Indonesia tidak memenuhi janjinya yaitu merdeka dari penjajah Belanda dan berkedaulatan rakyat atau demokrasi,” katanya.

Demokrasi menjadi prasyarat Aceh bergabung dengan Indonesia, menurutnya, kalau tidak ada demokrasi, ada sekelompok tertentu yang menguasai negeri, dengan mengorbankan orang-orang di luar dari kelompok itu, “Terkait dengan UU Pilkada yang selama sepuluh tahun hak rakyat diberikan untuk memilih sendiri Bupati dan Walikota, namun itu ditarik oleh kesepakatan sekelompok tertentu oleh DPR,” Katanya. Ini seperti seorang Gubernur Jenderal De Jong, paparnya, ketika mulai muncul pemikiran Indonesia Merdeka. Dia bilang, kita sudah berada di negeri ini 300 tahun, kita memerlukan 300 tahun lagi sebelum negeri ini siap untuk merdeka. Pada saat yang sama, banyak kaum intelektual menyatakan, rakyat Indonesia masih bodoh. Bagaimana merdeka.”Dalam rangka itu Bung Karno bilang, Kalau mau Kawin menunggu kaya, tidak akan kawin,” katanya.

Menurutnya, sikap DPR yang mencabut hak rakyat untuk memilih sendiri pemimpinnya adalah sikap kolonial anti-demokrasi, kontra-revolusioner, sikap reaksioner, dia tidak percaya pada rakyat, mengatakan banyak money politic, apa tidak lebih banyak dirompok oleh elit Indonesia?, siapa yang lebih banyak yang diurus KPK? “Kalau alasannya money politic, ada dua hal: Pertama ini proses, proses itu harus diperbaiki bukan dibubarkan. Kedua, apa betul duit yang dihabiskan di pusat daripada dicuri di Pusat, apa kita yakin kalau yang memilih DPRD tidak ada money politic?

“Saya lebih percaya lebih banyak menyogok DPRD ketimbang menyogok rakyat,” kata Salim. Dia menmbahkan, tidak ada jaminan keadaan akan lebih baik dengan keputusan seperti itu, dengan rakyat memilih mendidik mereka bertanggung jawab dan ancaman kita yang terbesar bukan komunisme tetapi fikiran yang sebagian membuat PKI berkembang tidak bisa kita atasi, kalau mereka tidak dilibatkan, “RI hanya bisa bertahan kalau demokrasi berkembang,” pungkasnya.

Disadur dari http://mui.or.id/mui/homepage/berita/berita-singkat/salim-said-komunisme-sudah-bangkrut.html