Jelang remaja, ketika usianya 13 tahun, sebuah pertanyaan menggedor-gedor  batinya: “Apakah hati bersujud di hadapan Allah?”

gambar sekadar ilustrasi. Sumber foto:http://www.hdwallpapersfull.com Sejak bau kencur, ia sudah merapat ke jalan yang sunyi dan asketik. Ia seringkali  mengintai  pamannya, Muhammad bin Sawwar, tengah asyik masyuk dalam khalwatnya: bersujud dan berzikir sebelum Shubuh merekah. Usianya, kala itu,  7 tahun dan ia berusaha terjaga saat  sang paman “bercinta” dengan-Nya.  Tentu, si  paman tahu laku keponakanya itu. Ia membiarkanya.

Hingga, suatu hari, bocah ingusan yang dahaga spiritualnya serupa bom mau meledak itu beringsut-ingsut menghadap pamanya, meminta dikenakan jubah lusuh dan penuh tambalan di sana sini; simbol “inisiasi” [pengesahan] bagi seseorang yang siap menempuh suluk.  Sawwar mafhum. Keponakan yang satu ini sudah memilih Cinta Sejati begitu dini, dan itu Kehendak-Nya, dan ia tidak bisa menampiknya.  Lalu, ia bergegas memakaikanya ke tubuh mungil itu. Sebuah “ritual” transmisi ilmu terjadi,  riyadhah pun dimulai.

Lelaki mungil itu kemudian diajarkan  merapal zikir: “Allahu ma’i, Allahu nazhirii, Allahu syaahidii…(Allah bersamaku, Allah mengawasiku, Allah menyaksikanku) setiap malam, tanpa jemu dan letih. Awalnya, ia dianjurkan membaca  sebanyak tiga kali. Namun, karena pria cilik itu tidak kesulitan, Sawwar kemudian menyuruhnya membaca  tujuh kali. Begitu seterusnya hingga ia terbiasa melakoninya. Demikianlah lelaki cilik itu menempa dirinya.

 

Selama 2 tahun mempraktekanya, bocah luarbiasa itu merasakan hatinya begitu manis. Halawatuliman [manisnya iman] menyelimuti jiwanya. Tentu saja, sebagai paman, Sawwar takjub dan bungah. Ia kemudian membekali keponakannya itu dengan ilmu al-Qur’an dan hadits.  Sejarah mengabadikan: Sawwar-lah sosok penting yang memengaruhi dirinya kemudian.

Jelang remaja, ketika usianya 13 tahun, sebuah pertanyaan menggedor-gedor  batinya: “Apakah hati bersujud di hadapan Allah?” Ia merasa ulama dan kaum cerdik pandai di daerahnya tidak mampu menjawabnya.  Satu pertanyaan, sebuah pengembaraan; fisik dan jiwa. Ia lalu  meninggalkan kampung halamanya di Tustar dan  merantau ke Basra, Irak. Sayang, di negeri seribu satu malam itu, belum ada jawaban yang menenangkannya. Ia pun hijrah lagi. Kali ini menuju Abaddan, satu wilayah di selatan barat Iran.

Di sana, ia bertemu seorang guru sufi bernama Abu Habib Hamza bin  Abdillah al-Abbadani. Abu Habiblah yang kemudian mengajarkan dirinya segenap adab dalam dunia sufi. Kepadanyalah, ia menyerap ilmu yang mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik.

Dan satu malam, saat ia masih berguru kepada Abu Habib, peristiwa menakjubkan menjamahnya. Di petala langit yang gulita, ia lihat sebaris kalam Ilahi berwarna hijau  membentang dari Timur hingga Barat.  Kalimat suci itu pembuka dalam ayat Kursi surat al-Baqarah: 255 yang berbunyi: “Allahu Laa ilaha illa Huwa al-Hayyu al-Qayyum..” [Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] kecuali Dia Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus [mahluk-Nya]…”

 

Sejarah mencatat: lelaki kecil itu kelak menjadi salah satu wali Allah. Sahl al-Tustari namanya. Lengkapnya: Abu Muhammad Sahl bin Abdullah bin Yunus bin Isa bin Abdullah At-Tustari. Beliau dilahirkan di Tustar pada tahun 200 H [201 H]. Semasa hidupnya, beberapa karamahnya sempat diabadikan sejumlah muridnya. Misalnya: Syeikh Tustari mampu menjinakkan hewan-hewan buas, berjalan di atas air, tidak kepanasan dalam kobaran api, berbicara dengan mahluk-mahluk gaib dan lain-lainnya. Tentu saja, cerita-cerita itu lumrah di telinga kita. Yang tidak lumrah adalah Tustari menganggap berkah karamah tersebut bukanlah yang terpenting.  Hal utama saat menekuni jalan Ilahi adalah ketika seseorang berani meninggalkan dunia meski ia hidup di dunia; bahwa ia mesti memiliki hati yang bersih dan iman yang tulus untuk senantiasa terus mencintai-Nya.   [Muaz/Sumber rujukan: Sahl Tustari, Tafsir al-Tustari, Great Commentaries on The Holy Qur’an, Translated by Annabel Keeler dan Ali Keeler (Royal Aal Bayt, Institute For Islamic Thought, Louise Ville, KY: 2011.]

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of