Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji`uun. Telah berpulang kehadirat Ilahi Rabbi, ulama terkemuka Indonesia, salah seorang pakar hadits,  mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A, di RS Hermina sekitar pukul 06.00 WIB, Kamis (28/4/2016).

Umat Islam di Indonesia tentu sangat kehilangan beliau. Sosok ulama yang terus-menerus berjuang untuk perdamaian melalui pemikirannya, yang menentang keras kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menegakan syariat Islam.  Salah satu bukunya yang membahas tentang perdamaian berjudul Islam Between War and Peace yang diterbitkan oleh Pustaka Darus-Sunnah tahun 2009. Buku ini menjadi salah satu referensi penting bagi kalangan akademisi dan penggiat perdamaian untuk dapat memahami dengan utuh tentang ajaran Islam yang sejatinya penuh dengan cinta dan perdamaian.

Salah satu momen penting penyampaian pemikirannya tentang Islam dan perdamaian,  khusususnya kepada pengurus MUI Provinsi DKI Jakarta, adalah ketika beliau menjadi penceramah pada acara Peringatan Tahun Baru Hijriah di Balaikota antara Ulama dan Umaro (Rabu, 29/10/2014) dengan tema “Tahun Baru Hijriah Merupakan Momentum Perubahan untuk Mewujudkan Kota Jakarta yang Aman Nyaman dan Religius” yang diselenggarakan oleh Biro Pendidikan dan Mental Spiritual Setda Provinsi DKI Jakarta dan dihadiri kurang lebih 150-an orang.

Beliau menjelaskan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ada pula yang disebabkan karena dibuat oleh pihak di luar Islam, seperti kekerasan yang dilakukan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria/Sham). Menurutnya jika pernyataan dari Snowden (mantan agen rahasia AS yang kini tinggal di Rusia) dan Hillary Clinton, mantan menlu AS, di dalam bukunya “Hard Choice” bahwa ISIS merupakan bentukan AS untuk memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak, maka ISIS adalah contoh dari kekerasan jenis ini.

Adapun kekerasan yang terjadi karena tafsir yang keliru dari sebagian umat Islam, maka ini merupakan wilayah ulama untuk meluruskannya. Tafsir yang keliru ini terjadi karena sebagian umat Islam menerapkan ayat-ayat perang di situasi dan kondisi yang damai. Memang ajaran-ajaran Islam diturunkan ke dunia untuk menjawab dua kondisi yang kerap terjadi, yaitu kondisi perang dan kondisi damai.  Apalagi jika ada ormas Islam yang merasa memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan kekerasan dengan alasan amar ma`ruf nahi munkar, padahal Imam Al-Ghazali sudah memberikan penjelasan bahwa jika ada umaro, maka tindakan kekerasan untuk amar ma`ruf nahi munkar dilakukan oleh Umaro, sedangkan ulama hanya sebatas memberikan peringatan dan nasehat saja.  Sebab pengertian ulil amri menurut tafsir gurunya, Syekh Abdullah bin Baz, adalah ulama dan umaro yang wajib ditaati selama tidak melakukan maksiat kepada Allah SWT.

Beliau  juga memberikan penjelasan tentang ajaran kebersihan dalam Islam yang kerap diabaikan oleh sebagian umat Islam di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama/Ahok, yang dalam sambutannya juga menyampaikan tentang anjuran menjaga kebersihan dari Islam,  Sekda, Askesmas, Ketua Umum MUI DKI, ketua-ketua lembaga Islam,  pengurus MUI DKI dan lima wilayah kota, alim ulama dan aparat pemerintah.

Selamat jalan Sang Ulama Pejuang Perdamaian, Prof Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A, Allah SWT sangat sayang kepadamu, dan kami selalu merindukanmu.***   (Rakhmad Zailani Kiki)