Jakarta, Jumat, 10 Oktober 2014. Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Anak MUI DKI Jakarta melangsungkan seminar dengan tema “Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pernikahan Beda Agama”.dengan narasumber Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, MA dan Prof. Dr. Hj. Huzaimah T. Yanggo, MA dengan moderator Hj. Hilda. Seminar ini diselenggarakan di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat.

Di Sesi Pertama,  Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, MA, Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Anak MUI DKI Jakarta,  menjelaskan kepada 75 peserta yg merupakan perwakilan dari ulama perempuan dan ustazah di lima wilayah kota se-DKI Jakarta mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Menurutnya, KDRT banyak terjadi pada perempuan meskipun tidak sedikit terjadi pada laki-laki dan anak. KDRT sendiri terjadi sedikitnya karena 2 hal besar,  yaitu : Pertama, citra diri yang buruk dari pelaku KDRT dan kedua, karena pandangan pelaku terhadap perempuan (korban KDRT) yag stereotipik: perempuan dianggap makhluk yang pasif dan dapat dikendalikan.

Sesi ini mendapat respon yang baik dari para peserta dengan setidaknya ada 4 pertanyaan disampaikan kepada pembicara. Ada pun  penjelasan penutup yang disampaikan oleh pembicara adalah bahwa persoalan KDRT ini sudah diatur dalam UU. Hanya sosialisasinya yang belum mengakar di masyarakat. Acara ini pun dimaksudkan sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya  memahami KDRT dan ruang lingkupnya sehingga korban KDRT tidak lagi takut untuk melaporkan tindakan KDRT ini.

Sesi Kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Huzaimah T. Yanggo, MA, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul Pernikahan Beda Agama. Menurut tokoh yang pernah menjabat di Komisi Fatwa MUI Pusat ini  bahwa pernikahan yang baik adalah dengan pasangan satu aqidah seperti yang sudah tercantum  di dalam UU No. 1 thn 1974 yang menyatakan bahwa “dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam” (KHI Pasal 40C). Masih menurutnya, menikah dengan sesama pemeluk agama Islam dimaksudkan untuk meminimalisir perbedaan,  utamanya dalam hal mendidik anak. *** (Nanda Khairiyah)

 

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of