foto: www.islamicdesktop.net

Syahdan, ada seorang ibu yang memiliki anak yang sangat jahat, yang hari-harinya dilalui dalam lumuran dosa. Bertolak belakang dengan anaknya, sang  ibu justru perempuan shalehah dan sangat menyadari anaknya seperti itu. Tentu saja, ia menyuruh anaknya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya dan kemudian berbuat kebajikan serta tidak berpindah lagi kepada kebiasaan buruknya tersebut.

Tetapi, anaknya tetap membandel. Ia tidak mau mengubah segenap laku jahatnya. Ia tetap berbuat maksiat hingga ajal pun menghampirinya. Sang ibu berduka sekali melihat anaknya meninggal tanpa sempat bertaubat; dan ia tidak melihat satu sisi pun dari kehidupan anaknya yang bakal menyelamatkannya di hadapan Allah. Sang ibu tampaknya pasrah dengan nasib buruk yang akan dialami sang anak di dalam kubur.

Pada suatu malam, ketika ibu itu tertidur, ia bermimpi anaknya tengah disiksa oleh malaikat penjaga kubur. Maka bertambah dukalah sang ibu. Tetapi, benarkah anaknya disiksa? Ternyata, ketika sang ibu memimpikan anaknya lagi di lain kesempatan, ia melihat anaknya dalam rupa dan kondisi yang sebaliknya. Ia melihat anaknya diperlakukan dengan perlakuan yang sangat elok, tampak senang dan bahagia. Ibunya pun terheran-heran dan bertanya kepada sang anak, “Apa gerangan yang membuatmu bisa diperlakukan seperti ini, padahal dulu semasa hidup engkau penuh lumuran dosa?”

 “Wahai ibunda, suatu ketika, lewat di hadapanku sekelompok orang yang sedang mengusung jenazah yang hendak dikuburkan. Mayat itu kukenal, dan ia semasa hidupnya ternyata lebih jahat daripada diriku. Kemudian aku ikut mengiringi pemakamannya, dan di sana aku sempat menyaksikan makam-makam lainnya. Ketika itulah aku berpikir bahwa laki-laki sial itu sudah pasti ditimpa oleh huru-hara akhirat akibat perbuatan maksiatnya. Secara tidak sadar aku menangis dan membayangkan kalau diriku juga bakal ditimpa peristiwa yang mengerikan yang sama. Pada saat itulah aku menyesali segala kesalahan dan dosa yang telah kuperbuat, dan bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat di hadapan Ilahi. Kemudian, aku membaca al-Qur’an dan shalawat Nabi saw sebanyak sepuluh kali dan membacakan shalawat kesebelas kalinya dimana pahalanya kuhadiahkan kepada ahli kubur yang nahas tersebut, sehingga di situlah Allah swt menunjukkan ke-Maha Pengampunan-Nya. Dia mengampuni dosa-dosaku. Jadi apa yang telah engkau lihat, wahai ibunda, itulah nikmat yang telah diberikan Allah swt atasku. Ketahuilah ibunda, bahwa shalawat atas Nabi saw itu menjadi cahaya di dalam kuburku, menghapuskan dosa-dosaku dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang hidup maupun yang sudah meninggal,” demikianlah jawab sang anak kepada ibundanya sebagaimana dinukil dari buku Hikayat Spiritual Pencerahan Matahati “Nafas Cinta Ilahi”.

Tentu saja, kisah-kisah keajaiban shalawat bukan cuma kisah di atas. Banyak sekali– baik dalam riwayat hadits, kitab-kitab klasik ulama salafushalih, dan lain sebagainya—yang pernah termaktub dalam sejarah. Atau boleh juga Anda pernah mendengarnya dalam konteks kekinian. Ya, shalawat kepada Nabi Muhammad saw sejatinya bukan sekadar puja-puji kepada Rasulullah saw semata. Banyak faedah dan fadhilah yang bisa direguk selama kita mau merutinkan untuk mengamalkanya.

Kenapa Kita Membaca Shalawat [Mendoakan] Nabi?

Kita semua mafhum dan bersepakat bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad saw, adalah manusia pilihan. Ia, kekasih Allah, sang Nabi yang jauh sebelum Nabi Adam lahir ke dunia, nurnya sudah diciptakan Allah. Dan syahdan, mahar kakek moyang kita, Nabi Adam, kepada istrinya, Siti Hawa, adalah dengan membaca shalawat sebanyak 10 kali. Bukankah sangat istimewa Nabi kita itu? Namanya sudah disebut-sebut dalam perjanjian sakral antara Adam dan Hawa dalam lembaga suci bernama: pernikahan.

Maka, wajar bila predikat yang melekat pada diri Muhammad adalah sosok ma’shum, terpelihara dari dosa, dan tentu saja garansi surga tak terelakkan untuknya.  Lalu, pertanyaanya, dengan posisi yang super istimewa itu: kenapa Rasulullah mesti kita kirimi shalawat [doa]-kan?  Bukankah sebaliknya, kita yang dosanya begitu banyak  yang selayaknya didoakan?

Secara logika, tentu saja, tanda tanya itu seringkali menyelinap di benak kita.  Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya, kita tengok penjelasan mufassir Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab.  Sebuah kesimpulan yang tidak bisa dinafikan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia pendidik dan perantara utama bagi pengetahuan dan keimanan orang-orang beriman. Dialah manusia yang paling besar jasanya dibanding manusia-manusia lainnya; orang tua,  guru, kyai, dan lain-lainnya. Sekalipun, jasa mereka—katakanlah—besar menuntun secara spiritual, tetapi apa yang mereka ajarkan itu tidak dapat mereka lakukan tanpa kehadiaran Nabi Muhammad saw ke muka bumi. Lebih-lebih apa yang Rasulullah ajarkan itu tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan duniawi, tapi berfaedah bagi kehidupan akhirat berupa limpahan pahala, surga dan keridhaan Allah swt.

Dari sinilah, lanjut Quraish, sangat dipahami firman Allah: “Katakanlah [Nabi Muhammad saw]: ‘Jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, kaum keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” [QS. At-Taubah (9): 24] Juga bisa dimengerti hadits Nabi yang berbunyi. “Tidaklah [sempurna] iman seseorang hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya dan anaknya, bahkan manusia seluruhnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits lain juga disebutkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa sahabat Nabi, Abdullah bin Hisyam ra berkata: “Kami pernah bersama Nabi saw. Ketika itu beliau tengah memegang tangan Umar bin Khaththab ra. Lalu Umar berkata kepada Nabi: ‘Wahai Rasul, sungguh aku mencintaimu melebihi cintaku kepada segala seuatu, kecuali jiwaku yang berada dalam diriku.’ Nabi saw bersabda: ‘Tidak! Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya [tidak sempurna imanmu] sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.’ Umar kemudian berkata [setelah sekian waktu]: ‘Sekarang, demi Allah, Engkau lebih kucintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi saw pun bersabda: ‘Sekarang, wahai Umar [engkau meraih iman sempurna].”

Lebih dari itu, Imam Fakhrurazi dalam tafsirnya berkata: “JIka ada yang bertanya, ‘Apabila Allah dan malaikat-Nya telah bershalawat kepada Rasulullah saw, lalu apa yang beliau butuhkan dari shalawat kita? Jawabannya adalah shalawat yang kita bacakan itu bukan lantaran Rasulullah saw membutuhkannya. Sebab, kalau demikian, tentu Rasulullah saw juga tidak memerlukan shalawat para malaikat, karena Allah swt telah bershalawat kepadanya. Maksud dari shalawat yang kita baca adalah untuk menampakkan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw sebagaimana Allah swt mewajibkan kita untuk berzikir kepada-Nya, padahal Dia tidak membutuhkan zikir tersebut.  Hal itu, tiada lain, untuk menampakkan keagungan Allah dari kita sebagai ungkapan kasih sayang Allah untuk memberikan pahala kepada kita.

Ya, dialah Nabi Muhammad saw,  suluh pertama hingga kita mengerti mana yang baik dan buruk. Dialah pijar iman pertama yang meniti kita ke jalan-Nya yang lurus. Berkat beliaulah, keindahan iman yang syahdu dan damai mengisi kehidupan batin kita. Dan, karena itulah, kita wajib mensyukurinya. Kita wajib berterima kasih kepadanya atas jasa luarbiasanya itu. Dan bershalawat adalah bentuk balas budi kita kepadanya. Dari sinilah dapat dipahami kenapa akhirnya kita diperintahkan bershalawat oleh Allah swt sebagaimana tertulis dalam ayat 56, surat al-Ahzab di atas; sebuah perintah yang tidak datang atas inisiatif pribadi Nabi saw sendiri, melainkan bersumber dari Allah Azza wa Jalla. Unik dan hebatnya lagi, perintah bershalawat itu akhirnya mendatangkan maslahat bagi diri kita sendiri, jauh sebelum Hari Hisab umat manusia berlangsung.  [Muaz/pelbagai sumber]