“Para ulama seyoygyanya merefleksikan Diri…”

 

Inilah salah satu ulama kontemporer Turki yang –mungkin–sering diwawancarai media asing terkait isu-isu Islam, baik dalam konteks nasional (negara Turki) maupun internasional. Hal ini bisa jadi karena posisinya saat ini adalah Ketua Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet İşleri Başkanlığı dalam bahasa Turki dan merupakan lembaga tertinggi keulamaan Pemerintah Turki).

Dalam salah satu kesempatan, sebagaimana dikabarkan www.reuters.com/20/4/2015, Prof. Gormez menegaskan bahwa fobia-Islam di Eropa semestinya dianggap sebagai laku kejahatan atas kemanusiaan selaiknya laku kejahatan  anti-Semitisme.

Bagi profesor yang memiliki tiga anak ini, kekerasan yang akhir-akhir ini dipertontonkan kelompok ISIS, Boko Haram, Al-Shabaab dan Al-Qaeda di sejumlah media hakekatnya  konsekuensi dari faktor kejahilan dan  kemiskinan. Tidak lebih. Karena itulah, para ulama dan tokoh Muslim, tegasnya, sudah seharusnya mencari solusi bagaimana membesarkan dan mendidik generasi-generasi masa depan agar tidak bodoh dan miskin. “Dalam sejarah, Islam adalah agama yang menciptakan peradaban. Ketika mendidik anak-anak Muslim, para ulama seyogyanya merefleksikan diri dengan membandingkan tafsir Al-Quran masa lalu dan masa kini terkait (isu-isu) hasutan kekerasan,” demikian tegasnya.

Lalu, siapa sebetulnya Prof. Gormez? Dalam laman pribadinya, www.mehmetgormez.com, beliau lahir pada 1 Januari 1959 di Nizip, Gaziantep, Turki. Masa studi pendidikan dasarnya ditempuh di desa kelahiran tersebut, Nizip. Sementara pendidikan menengahnya, ia lalui di Gaziantep Imam Hatip High School. Lalu, pada 1983, ia memulai kuliah S1-nya di Universitas Ankara, Fakultas Teologi. Semasa kuliah ini, ia mendedikasikan diri sebagai guru al-Quran di Kirikkale, plus menjadi imam dan penceramah di beberapa daerah di Ankara.

Pada tahun 1987, ia menamatkan studinya di Universitas Ankara dan langsung melanjutkan kajian Ilmu Hadits pada tahun yang sama. Selepas S1, ia pernah menjadi asisten dosen di Ahmet Yesevi University, Kazakhstan. Rupanya, gairah pada belajar terus membebatnya. Karena itulah, pada tahun 1988 hingga 1989, ia menyempatkan studi dan riset di Universitas Kairo selama setahun. Pada tahun  1990, ia mengambil program Ph.D di Universitas Ankara dan lulus tahun 1994 dengan disertasi bertajuk “The Issue of Methodology in Understanding and Interpreting the Sunnah and Hadith”; disertasi ini kemudian (1995) memenangkan Hadiah Pertama dari Turkish Religious Foundation dalam bidang Riset Keislaman.

 

Selepas meraih gelar doktoral, ia mengabdikan diri menjadi pengajar di Univerrsitas Ahmed Yesefi, Fakultas Teologi dari 1995 hingga 1997. Dan pada saat bersamaan di tahun-tahun tersebut, ia bertanggung jawab menyiapkan program sarjana di Fakultas Teologi, Universitas Anadolu.

Kecintaan pada ilmu dan dunia riset keislaman membawa Gormez ke Inggris. Di negeri Ratu Elizabeth tersebut, ia pernah tinggal selama setahun, 1997-1998, untuk menempuh riset yang digelutinya. Tak aneh, bila sejak 1998-1999 ia sudah menjadi Associate Professor.

Keseriusan pria yang fasih berbahasa Kurdi,  Inggris, dan Arab ini pada dunia akademik rupanya tak diragukan.  Pada tahun selanjutnya, 2001-2003, ia memberikan kuliah pada Fakulas Pendidikan di Universitas Hacettepe. Tak aneh, bila    tahun 2006 atau ketika usianya 47 tahun, ia berhasil dikukuhkan menjadi profesor.  Wajar bila 4 tahun kemudian (2010), amanah Ketua Direktorat Urusan Agama di Turki ia emban, jabatan yang membuatnya kian sibuk memberi pengertian seputar Islam yang berperadaban dan mencintai perdamaian di kancah internasional.  (muaz/berbagai sumber)