Oleh: WahyuMisbach, MA

Dosen STAI PTDI

 

 Pendahuluan

            Pada akhir tahun 2015 ini, ASEAN Community 2105 atau Komunitas ASEAN akan berlaku. Tidak semua orang Indonesia sudah memahami tentang Komunitas ASEAN ini, apalagi jika dikaitkan dengan persoalan agama, terutama tantangan dakwah yang akan dihadapi oleh umat Islam ketika komunitas ASEAN ini berlaku. Sebelum mengulas tentang tentang tantangan dakwah di saat komunitas ASEAN ini berlaku, terlebih dahulu perlu diulas tentang pengertian dakwah dan tantangan dakwah itu sendiri.

 

Pengertian Dakwah

Secara etimologi, kata dakwah berasal dari kata Arab da’wah, merupakan bentuk mashdar dari kata kerja da‘â, yad‘û, da‘wah, yang diartikan kedalam bahasa Indonesia sebagai seruan, ajakan, atau panggilan. Kata dakwah dapat pula diartikan dengan doa (al-du‘â’),[1] yakni harapan, permohonan kepada Allah swt. atau seruan (al-nidâ). Doa atau seruan pada sesuatu berarti dorongan atau ajakan untuk mencapai sesuatu itu (al-du’â ilâ al-syai’ al-hatsts ‘alâ qasdihi).[2]

Di dalam al-Qur’an, kata dakwah ada yang dikaitkan dengan jalan Allah swt., jalan kebaikan atau jalan surga, ada pula yang disandarkan pada jalan setan atau jalan kesesatan, keburukan dan jalan ke api neraka dan bahkan adapula yang yang dipakai untuk kebaikan dan keburukan dalam satu ayat.[3]

Kata dakwahjugamempunyai arti mengajak, mengundang dan menyengaja, menyondongkan sesuatu dengan ucapan dan kata-kata. Kata ini dapat dibaca da`wah, di`wah.[4]

Sedangkan pelaku dakwah dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah dâ`i. Kata ini secara langsung oleh Allahswt. ditunjukkan untuk sebutan orang yang mengajak kepada jalan Allah swt. Allah berfirman;

Artinya:

Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (al-Ahzab/33: 46)

 

Ayat di atas mempunyai arti mengajak untuk bertauhid kepada Allah dan mendekatkan diri kepada Allah.[5] Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui bahwa tugas seorang dai adalah mengajak seseorang untuk mengikuti ajaran Allah swt dan mengikuti pula sunnah Nabi saw. serta ajaran para sahabat Nabi yang menjadi pengikut dan pelestari ajaran Islam.

Makakonsekuensinya, jika seseorang berdakwah dengan tidak berdasarkan pada ajaran Nabi Muhammad saw. dan juga tidak memperjuangkan ajaran Nabi saw maka dakwahnya akan sia-sia danmendapatkan siksa di dunia dan akhirat.

Untuk memperkuat dakwah dan sebagai landasandakwah maka ada lima hal yang harus dijaga demi kemashlahatanseluruhumatmanusia, tidakhanyauntukumatIslam saja. Kelima hal itu ialah; memelihara kemerdekaan beragama, kemerdakaan berakal dan bebas dari pengaruh minuman keras, kebebasan individu untuk berkembang, memelihara harta benda dan memperolehnya, terakhir adalah harus dijaga dari aksident yang dikehendaki oleh masyarakat dan dapat menghancurkan tatanan masyarakat seperti perzinaan dan lain sebagainya.[6]

Kelima hal tersebut harus menjadi bagian utama dalam berdakwah, sehingga dakwahnya akan berhasil dengan baik. Selain lima hal itu, dalam berdakwah ada beberapa subtansi yang harus dikuasai dan dilakukan oleh dai, yaitu akidah, Syariah dan Akhlak.[7] Tiga aspek ini sangat menentukan keberlangsungan dakwah. Sebab ketiga aspek ini merupakan pokok materi dan sekaligus landasan yang penting dalam berdakwah. Berbeda halnya dengan sayyed Quthb yang menyatakan bahwa ada lima aspek yang dapat menjadikan dakwah baik sehingga dapat mengantarkan manusia menjadi manusia sempurna. Kelima aspek tersebut adalah pertama, aqidah tauhid yang dapat membebaskan manusia dari penyembahan kepada selain Allah. Kedua, seruan kepada hukum-hukum Allah dalam arti seruan untuk membangun dan mengatur kehidupan dengan syariah Allah, atau adanya aspek syariah. Ketiga, sistem kemanusiaan atau sistem akhlak. Keempat, adalahkemajuan dan kemulian hidup yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan, dan terakhir adalah jihad di jalan Allah swt.[8]

Dari beberapa arti katadakwah di atas maka dapat diketahui bahwa dakwah adalah penyampaian ajaran Islam yang tujuannya agar orang tersebut melakukan ajaran dengan sepenuh hati.[9] Problema yang muncul adalah untuk saat ini hampir orang di seluruh Indonesia sudah mempunyai agama. Sehingga masih perlu didakwah untuk Islam atau mendakwahkan Islam kepada orang Islam yang Islamnya masih belum mencapai tingkat yang sempurna dalam menjalankan ajaran agama.

 

Dakwah Dan Tantangannya

Menurut Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA, setiap usaha yang dilakukan dalam rangka untuk mencapai setiap tujuan pastilah mendapat hambatan dan tantangan dalam rangka untuk mewujudkannya, apalagi dalam melaksanakan sebuah misi suci berupa dakwah atau seruan demi tegaknya hukum Tuhan di muka bumi. Tantangan-tantangan dalam rangka suksesnya dakwah dalam konteks kekinian dan kedisinian kita saat ini antara lain adalah[10]:

  1. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang begitu pesat saat ini telah melahirkan apa yang disebut dengan era globalisasi, yaitu sebuah era yang menjadikan bumi ini ibarat sebuah desa kecil dimana semua penduduk saling mengetahui apa yang terjadi di desanya. Saat ini semua ummat manusia pada satu belahan bumi mengetahui secara persis apa yang terjadi pada belahan bumi yang lainnya, sebagai dampak positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kemajuan ulmu pengetahuan dan tekhnologi ini berupa tekhnologi informasi dan komunikasi dengan ciri komputerisasi, tekhnologi ruang angkasa dengan ciri penginderaan jarak jauh, tekhnologi hayati dengan ciri utamanya rekayasa genetic. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini selain membawa dampak positif bagi ummat manusia berupa kemudahan dalam melaksanakan semua urusan, ternyata juga menimbulkan permasalahan baru dalam kehidupan ummat manusia seperti rasa keterasingan, kecemasan, kegersangan hidup, terjadinya dekadensi moral, keretakan keluarga dan bahkan menambah jumlah penderitaan gangguan kejiwaan dan saraf. Dampak positif dan negative dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini tentu menjadi tantangan tersediri bagi pelaksanaan dakwah islamiyah.

 

 

  1. Serangan Pemikiran (Ghazwul Fikri)

Kelumpuhan umat Islam saat ini salah satunya adalah disebabkan derasnya intervensi dari luar terhadap keberadaan ummat Islam.Serangan paling deras adalah dilakukan oleh oknum-oknum atau golongan yang tidak menyukai tumbuh dan berkembangnya ummat Islam sebagai salah satu kekuatan dunia.Intervensi itu dilakukan dalam bentuk serangan pemikiran dengan mencopot akar-akar aqidah dari dalam individu dan masayarakat Muslim.Akibatnya ummat Islam lumpuh, dekandensi moral terjadi, dan ummat Islampun tidak lagi menyadari kehebatan dan kedahsyatan ajaran agamanya.

  1. Gerakan Pemurtadan

Gerakan pemurtadan terhadap kaum muslimin Indonesia cukup menghebat, diprogramkan sedemikian rupa, dengan dukungan dana yang cukup besar. Pokoknya ummat Islam Indonesia bukan hanya berhadapan dengan kaum Kristen domestic tetapi juga berhadapan dengan kaum Kristen internasional yang secara sistematis dan concern melakukan pekabaran injil di sini.

 

  1. Imperialisme Budaya Asing

Sebagai salah satu akibat langsung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi melalui informasi dan komunikasi yang sangat dekat dengan setiap individu Muslim Indonesia adalah masuknya budaya asing langsung ke dalam rumah tangga Muslim melalui media Televisi dan lain sebagainya. Akibatnya anak-anak muda generasi masa depan bangsa larut dan mencontoh budaya-budaya asing tersebut, padahal budaya-budaya asing tersebut bertentangan dengan budaya bangsa dan agama.

 

  1. Kehidupan Yang Permisif

Salah satu bentuk kecenderungan yang permisif ini adalah meningkatnya kasus-kasus pengguguran kandungan di kalangan perempuan dan mahasiswi, maraknya hamil di luar nikah, dan kumpul kebo.Kecenderungan seperti ini adalah merupakan dominasi pengaruh aspek fisik (materi) pada diri mereka yang mengalahkan fithrahnya.Padahal manusia, dalam fithrahnya, memiliki sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsure-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata dan metafisis , antara rasa dan non rasa (materi), antara jiwa dan raga. (Murtadha Muthahari).

 

Profesionalisasi Dakwah

Agar supaya dakwah dalam konteks kekinian dan kedisinian kita dapat berdaya guna dan berhasil guna maka diperlukan para juru dakwah yang professional dengan kemampuan ilmiah, wawasan luas yang bersifat generalis, memiliki kemampuan penguasaan, kecakapan, kekhususan yang tinggi.Orang yang seperti ini adalah orang yang percaya diri, berdisiplin tinggi, tegar dalam berpendirian dan memilik integritas moral keprofesionalan yang tinggi. Mampu bekerja secara perorangan dan secara tim dengan sikap solidaritas atas komitmen dan konsisten yang teruji kokoh.

Untuk menjadi tenaga dakwah yang professional, menurut Prof. Dr. H. Djudju Sudjana (1999), seorang dai harus memiliki tiga kompetensi, yaitu kompetensi akademik, kompetensi pribadi, dan kompetensi sosial.

Selain adanya dai yang professional, diperluykan pula adanya organisasi profesi dakwah yang akan mengayomi, membina, membimbing dan mengembangkan para dai. Salah satu kekurangan pelaksanaan dakwah adalah belum mampu membentuk organisasi-organisasi profesi dakwah.Ketiadaan ini sangat rentan terhadap terjadinya perpecahan, karena kurangnya wahana bagi berlangsungnya Silaturrahim-musyawarah yang dikelola secara professional guna mengatasi perbedaan-perbedaan yang mungkin, hanya disebabkan oleh kesalahpahaman atau kekhilafan.Dan terus terang saja kelemahan ini telah lama dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam.

 

Komunitas ASEAN

ASEAN Community atau Komunitas ASEAN adalah sebuah komunitas yang beranggotakan negara-negara 10 ASEAN ( Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, Laos, Brunei Darussalam, Kamboja dan Vietnam ) yang bertujuan untuk mewujudkan integrasi antara negara-negara di kawasan ASEAN. Sinergi atau integrasi antar negara ASEAN ini diharapkan akan membuka peluang harmonisasi antara negara-negara ASEAN dan juga mewujudkan kerjasama antar negara yang baik dalam bidang sosial, budaya atau militer. Dasar dari pembentukan komunitas ASEAN 2015 ini adalah untuk menghadapi tantangan global yang akan datang kemudian sehingga negara-negara ASEAN siap dalam menjawab atau menghadapi tantangan tersebut. Terdapat tiga pilar dasar yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community.[11]

ASEAN Political Security Community diharapkan dapat menjawab tantangan ASEAN dalam perkembangan politik global yang semakin kompleks dan juga kondisi keamanan negara-negara ASEAN baik secara regional atau internasional.Pilar pertama ini ditujukan untuk mewujudkan kondisi politik antar negara ASEAN yang harmonis. Sehingga kedepannya hubungan antar negara akan lebih baik dan juga untuk menangkal ancaman-ancaman dari luar ASEAN. Selain menghadapi ancaman politik dari luar ASEAN juga untuk menghadapi disharmonisasi dari dalam, potensi konflik diharapkan dapat ditekan sehingga negara–negara dapat menjalankan kehidupan negaranya secara aman dan tentram.

Pilar yang kedua yaitu ASEAN Economic Community bertujuan untuk mewujudkan roda ekonomi dan perdagangan antar negara-negara ASEAN yang dapat bersaing secara sehat dan mencegah monopoli.Dalam hal ini kekuatan yang mengancam di luar ASEAN adalah China yang dimana dapat kita lihat produk-produk China begitu banyaknya membanjiri pasar-pasar perdagangan baik di Asia maupun di dunia. Dengan pilar ini diharapkan negara-negara ASEAN  dapat memperkuat daya saing produk-produknya guna menghadapi perdagangan bebas dunia.

Pilar yang ketiga ASEAN Socio Kultural Community bertujuan untuk menciptakan harmonisasi hubungan antar negara-negara ASEAN dimana dapat menciptakan kondisi masyarakat yang mengenal kultural tiap-tiap negara ASEAN.Selain itu bertujuan untuk mewujudakan kondisi sosial masyarakat antara negara-negara ASEAN yang bersolidaritas kuat dan persatuan yang kokoh antara masyarakat ASEAN kedepannya sehingga dapat mewujudkan suatu kondisi masyarakatsiap menghadapai globalisasi dunia.

 

Komunitas ASEAN dan Tantangan Dakwah

Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam tulisannya yang berjudul Imagining ASEAN Community 2015[12] menyatakan bahwa di Komunitas ASEANterdapat kesenjangan yang terkait dengan posisi dan hubungan antara agama dan negara. Ada negara yang memiliki agama resmi seperti Malaysia dan Brunei Darussalam sehingga umatnya mendapat perlakuan khusus dari negara dengan mengorbankan pemeluk agama minoritas.Tetapi, juga negara yang tidak memiliki agama resmi, meski mayoritas penduduk masing-masing negara berasal dari umat beragama tertentu seperti Indonesia, Filipina, atau Thailand.Karena itu, di negara seperti Indonesia, umat beragama pada dasarnya independen vis-a-vis negara.

Kesenjangan dalam hal agama ini dapat menjadi masalah serius ketika para warga Komunitas ASEAN 2015 dihadapkan pada problem semacam kebebasan beragama, hubungan mayoritas-minoritas umat beragama; literalisme dan radikalisme keagamaan; penyebaran agama dan seterusnya.Bukan tidak mungkin pula, Komunitas ASEAN mempercepat pertumbuhan paham dan gerakan agama trans-nasional yang belum tentu cocok dengan tradisi keagamaan masing-masing negara ASEAN.

Kekhawatiran berlakunya Komunitas ASEAN akan mempercepat pertumbuhan paham dan gerakan agama trans-nasional bukan tanpa alasan. Kekhawatiran ini bahkan sudah terjadi di Malaysia. Seperti yang ditulis oleh Rakhmad Zailani Kiki dalam kolomnya di Koran Republika, Dialog Jumat, dengan judul Membincangkan Wasatiyyah di Malaysia. Ditulisan tersebut diulas tentang Seminar Internasional (Antarbangsa) “Penghayatan Wasatiyah dalam Kerangka Maqasid Syariah” di Kuala Lumpur, Malaysia yang diselenggarakan oleh Institut Wasatiyyah Malaysia (IWM) dari tanggal 8 s.d 10 April 2014 yang mengungkapkan fakta bahwa Malaysia tengah mengalami tantangan dakwah berupa ghazwul fikri (perang urat syaraf) yang dahsyat yang dimunculkan oleh kelompok-kelompok trans-nasional yang sedang tumbuh berkembang di Malaysia. Di seminar tersebut, narasumber dan peserta yang hadir sebagian besar dari negara-negara ASEAN.

Dari sambutan Perdana Menteri Malaysia, Najib Abdul Razak, di seminar tersebut dan beberapa penyampaian dari pembicara dari Malaysia serta beberapa buku yang dibagikan, salah satunya berjudul Between Moderation and Extremism: Wasatiyah as The Peace Solution karya intelektual Muslim Malaysia, Nasharuddin Mat Isa, disimpulkan bahwa bangsa Malaysia, dalam hal ini umat Islam di Malaysia, kini sedang dilanda perang pemikiran Islam (ghazwul fikr) yang dahsyat antara tiga kelompok, yaitu: kelompok ekstrimis, kelompok liberal, dan kelompok wasatiyah.

 

Menurut Rakhmad Zailani Kiki, peperangan ini bukanlah datang tiba-tiba, melainkan” hasil panen” dari program kerajaan (pemerintah) Malaysia sendiri. Dulu, juga sampai saat ini, dengan anggaran pendidikan 70 persen dari APBN-nya, pemerintah Malaysia tidak kesulitan untuk mengirimkan sebanyak mungkin putra-putri terbaik mereka untuk belajar di Timur Tengah dan di Barat. Harapannya, setelah pulang belajar, putra-putri terbaik Malaysia ini dapat menerapkan ilmunya di segala sektor untuk kejayaan Malaysia. Selain itu, dapat memperkuat paham Islam Ahlussunnah Waljama`ah Asy-Syafi`iyyah, yang termasuk dalam paham Islam Wasatiyyah, dengan pemahaman, metodologi dan teknologi yang lebih modern. Namun, apa yang kemudian terjadi? Sebagian putra-putri terbaik Malaysia tersebut membawa pemikiran Islam yang eskstrim dan Islam yang liberal. Bahkan sebagian mereka kini telah menduduki jabatan-jabatan penting di berbagai kementerian, lembaga kerajaan, kampus, dan lembaga pendidikan lainnya. Mereka bukan hanya menjabat, juga menyebarkan paham dan secara tertutup merekrut sebanyak-banyaknya pengikut dan melakukan kaderisasi.

Masih menurut Rakhmad Zailani Kiki, kenyataan tersebut tentu meresahkan para pemimpin dan tokoh agama di Malaysia yang masih setia dan memegang erat paham Islam Ahlussunnah Waljama`ah Asy-Syafi`iyyah – yang untuk kepentingan mengakomodir paham Islam lainnya yang sejalan dan eksistensinya ada di Malaysia- kemudian digunakan istilah Islam Wasatiyyah. Bahkan, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, pada , 28 September 2o13 ketika berpidato di Majelis Umum PBB, di New York, AS, menyatakan agar umat Islam, bersatu melawan ekstremisme, seraya memperingatkan bahwa kekerasan sektarian berisiko memporak-porandakan dunia Islam. Ia menyatakan, “Saya yakin ancaman terbesar bagi umat Islam saat ini tidak berasal dari dunia luar, melainkan dari dalam!”

Najib Razak, benar. Ancaman terbesar bagi umat Islam adalah dari umat Islam itu sendiri, dan Malaysia kini tengah mengalaminya. Berita tentang berangkatnya beberapa muslimah Malaysia untuk bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak, merupakan salah satu bukti nyata eksistensi kelompok ekstrimis ini di Malaysia. Begitu pula kiprah kelompok Sisters of Islam yang telah merasakan muslimah di Malaysia dengan paham liberalnya.

Itulah yang terjadi di Malaysia, lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut Rakhmad Zailani Kiki di dalam tulisannya tersebut, juga tidak ada bedanya. Perang pemikiran Islam di Indonesia, juga terjadi antara tiga kelompok tersebut: esktrimis, liberal dan wasatiyyah. Namun, istilah wasatiyyah di Indonesia tidak begitu populer. Umat Islam di Indonesia lebih mengenalnya dengan istilah Islam moderat atau Islam Rahmatan Lil Alamin. Sedangkan yang membedakan Indonesia dan Malaysia adalah peran pemerintah.

Pemerintah Malaysia sangat peduli dengan persoalan perang pemikiran yang sudah sampai merusak kehidupan umat Islam di sana dengan membentuk lembaga khusus, Institut Wasatiyyah Malaysia (IWM), yang langsung di bawah kendali Perdana Menteri. Pemerintah Malaysia bukan hanya peduli, tetapi juga melakukan keberpihakan dengan tidak mendukung kelompok Islam esktrimis dan juga kelompok Islam liberal dan menyokong penuh upaya-upaya untuk meminimalisir dan membatasi ruang gerak kedua kelompok ini dengan menyediakan dana yang besar , fasilitas dan SDM yang sangat memadai.

 

Penutup

Indonesia, tentu saja berbeda dengan Malaysia. Indonesia bukanlah kerajaan, dan bukan pula negara Islam. Di Malaysia, segala urusan keagamaan ditangani oleh pemerintah, baik di tingkat pusat atau di negara bagian. Sedangkan di Indonesia, urusan keagamaan hanya sebagian saja yang diurusi pemerintah, sebagian lagi diurus oleh masyarakat (ormas dan lembaga Islam). Tentu, tidaklah bisa jika umat Islam di Indonesia menuntut peran yang sama dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Namun, sesuai undang-undang dan peraturan yang ada, umat Islam di Indonesia berhak menuntut perlindungan dari negara dari upaya penodaan dan penistaan ajaran Islam oleh kelompok Islam ekstrimis maupun Islam liberal. Bahkan, berhak untuk meminta pemerintah agar berpihak dan memperkuat keberpihakannya kepada mayoritas umat Islam yang berpaham Islam Wasatiyyah, Islam moderat, Islam Rahmatan Lil Alamin.
Di era Komunitas ASEAN nanti, ghazwul fikri yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok garis keras yang merupakan gerakan trans nasional tentu bisa lebih dahsyat lagi, Ini menjadi tantangan dakwah yang berat bagi para dai dan lembaga-lembaga dakwah di Indonesia. Langkah-langkah dakwah yang dilakukan oleh Malaysia seperti yang dijelaskan di atas sangat bisa ditiru, mengingat kesamaan paham agama dari kedua bangsa serumpun ini (Malaysia dan Indonesia). ***

 

 

 

 

[1]Dakwah dalam arti doa sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama RI surat al-Baqarah/2: 186.

 

[2] Ahmad al-Fayûmî, al-Mishbâh al-Munîr, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.t.), h. 194

 

[3]Untuk ayat-ayat yang berkaitan dengan dakwah di jalan Allah antara lain surat al-A`raf/7: 24, 192, 198, surat Yusuf/12: 108, al-Ra’d/13: 14, 36, al-Kahfi/18: 57 sedangkan untuk ayat yang berkaitan dengan jalan yang sesat antara lain surat al-Thur/52: 13, Yusuf/12: 33, surat al-Qamar/54: 6dan surat Luqman/31: 21dan ayat yang menyatakan baik dan buruk dalam satu ayat adalah surat al-Baqarah/2: 221

 

 

[4]Artididasarkan pada beberapapengertiandari kata tersebut, untukketeranganmengenaiartiiniada pada misalnya, `Ali al-Jurjani, Kitab al-Ta`rifat, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), h. 104, Abu Hasan Ahmad IbnFarisibnZakariyya, Mu`jam al-Maqâyis fi al-Lughah, Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 356-357, AliMahfuzh, Hidayah al-Mursyidîn (Beirut: Dar al-Ma`rifah, tt), h. 17, al-Raghib al-Ashfahâni, MufradâtAlfâzh al-Qur’an (Damaskus, Dar al-Qalam, 2002), h. 315, Abû al-Baqâ’ Ayyûbibn Musa al-Husaini al-Kafawi, alKulliyât, Beirut: al-Risâlah, 1998), h. 446

 

[5]Dalam ayat itu dinyatakan bahwa hal itu adalah sifat Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, sebagai seorang muslim hendaknya juga mengikuti ajaran Nabi mengajak kepada jalan Allah swt. Untuk keterangan mengenai tafsir, ada pada misalnya, `Abd Allah ibn Ahmad ibn Mahmud al-Nasafi, Tafsir al-Nasafi, (Beirut: Dar al-Ma`rifat, 2000), h. 944

 

 

[6]Kelima hal itu menjadi landasan dalam fiqh. Untuk keterangan secara ringkas ada pada `Abd al-Wahhâb al-Khallâf, `Ilm Ushul al-Fiqh, (Kairo: al-Dar al-Kuwaitiyyah, 1968), h. 103. Sedangkandalamda`wahbiasadikenaldenganahdaf al-da`wah, Ahmad AhmadGhalwusy, al-Da`wah al-Islamiyyah (Kairo: Dar al-Kitâb al-Mishri, 1987), h. 35-73

 

[7]TigaaspekinidikenaldalamdisplindakwahdenganArkân al

Da`wah,untukketeranganlebihterperinciada pada, Ahmad AhmadGhalwusy, al-Da`wah al-Islamiyyah, h. 14-28,Ali Abdul HalimMahmud, Fiqh al-Da`wahilaAllah (Beirut: Dar al-Fikr, 1982), jilid 1., h. 125-135

 

[8]SayyedQuthb, FîZhilâl al-Qur’an (Beirut: Dar al-Syuruq, 1982), jilid 3., h. 1493

 

[9]Berdasarkandefinisitersebutmakaditemukanimplikasibahwadalamdakwahharuslahmenggunakanajakan yang baikataulebihbaiksehinggaorangtertarik, keduadakwahharusdidasarkan pada ajaran Islam, ketiga, dakwahdianggapberhasil apabila orang yang diajaksudahdapatmenjalankan agama denganbaik dan benar.

[10]Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA, Kajian, Telaah dan Tantangan Dakwah, http://riau1.kemenag.go.id

 

[11]http://voi.rri.co.id/voi/post/berita/76152/berita_hari_ini/tiga_pilar_asean_community_2015.html

[12]Azyumardi Azra, Imagining ASEAN Community 2015,

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/10/18/mutt2m-imagining-asean-community-2015