foto: dok.pribadi Muaz

Bismillahirrahmanirrahim

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 12 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 18 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Tata Cara Shalat di Dalam Pesawat, setelah :

Menimbang:

  1. Bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era informasi dan globalisasi dewasa ini telah memungkinkan manusia menempuh perjalanan di udara dengan pesawat terbang selama berpuluh-puluh jam tanpa berhenti di daratan.

 

  1. Bahwa umat Islam yang menempuh perjalanan dengan pesawat terbang selama berpuluh-puluh jam seperti ketika menempuh perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji, dapat dipastikan akan melewati beberapa waktu shalat sehingga tidak mungkin dilaksanakan secara jama’ sesudah mendarat di daratan.

 

  1. Bahwa menghadapi realitas tersebut, umat Islam yang menempuh perjalanan panjang dengan pesawat terbang bertanya-tanya, apakah kewajiban shalat mereka menjadi gugur; atau harus melaksanakan shalat secara qadha’ sesudah mendarat; atau boleh melaksanakan shalat di dalam pesawat dengan segala keterbatasannya baik dalam bersuci maupun dalam tata cara pelaksanaannya dengan keharusan untuk melakukan pengulangan (i’adah) sesudah mendarat; atau tanpa i’adah.

 

  1. Bahwau ntuk memberikan kejelasan kepada umat Islam tentang pelaksanaan shalat di dalam pesawat terbang serta menghilangkan keragu-raguan mereka, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Tata Cara Shalat di Dalam Pesawat.

Mengingat:

  1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
  2. Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
  3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 12 Dzulqa’dah 1420 H, bertepatan dengan tanggal 18 Pebruari 2000 M, yang membahas tentang Tata Cara Shalat di Dalam Pesawat.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

  1. Setiap orang Islam yang tengah baligh dan normal akal pikirannya wajib melaksanakan shalat sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, di mana pun saja mereka berada, termasuk ketika sedang berada di dalam pesawat Dengan demikian, seseorang yang sedang berada di udara (pesawat terbang) tetap berkewajiban melaksanakan shalat dan sama sekali tidak gugur kewajibannya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat an-Nisa’/4 ayat 103 :

 

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (١٠٣)

 

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa’, 4:103)

 

  1. Seseorang yang bepergian jauh dan kepergiannya tidak untuk berbuat maksiat seperti pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, diberikan rukhsah (dispensasi) untuk melaksanakan

Shalat secara jama’ dan qashar.Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa’/4 ayat 101 :

 

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (١٠١)

 

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. An-Nisa’, 4 :101

 

  1. Seseorang yang sedang menempuh perjalanan panjang, dengan pesawat terbang dan kepergiannya bukan untuk maksiat, diperbolehkan melaksanakan shalat jama’ dan qashar di dalam pesawat dengan bertayamum dengan debu yang ada di pesawat – seperti yang menempel pada dinding-dinding pesawat atau jok-joknya – dan dengan tata cara shalat yang bisa dilakukan. Jika memungkinkan harus menghadap kearah kiblat tetapi jika tidak, cukup dengan mengikuti arah perjalanan pesawat tanpa harus memperhatikan arah kiblat; jika memungkinkan, shalat harus dilaksanakan secara sempurna, tetapi jika tidak, cukup dilaksanakan dengan duduk serta dengan ruku’ dan sujud yang tidak sempurna. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil sebagai berikut :

 

  1. Firman Allah SWT dalamsurat al-Maidah/5 ayat 6 :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦)

 

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kau hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (toilet) atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih (suci); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkankamu, tetapi Dia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Maidah, 5:6)

 

Menurut madzhab Maliki dan Hanafi, tayammum boleh dilakukan dengan memakai segala sesuatu yang suci yang berasal dari unsure tanah yang ada di muka bumi, seperti debu, kerikil, batu dan kapur (gamping). Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, tayammum hanya boleh dilakukan hanya dengan memakai debu yang suci yang dapat menempel di tangan.[1] Menurut Ahmad ibn Hambal, debu yang menempel pada pakaian juga dapat dipakai untuk bertayammum.[2]

 

  1. SabdaRasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad dari sahabat Abu Ummah RA :[3]

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ…وَجُعِلَتِ الْأَرْضُ كُلُّهَا لِيْ وَلِأُمَّتِي مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيْنَمَا أَدْرَكْتُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي الصَّلاَةَ فَعِنْدَهُ مَسْجِدَهُ وَعِنْدَهُ طَهُورُهُ(رواه أحمد(

 

“Bumi semuanya dijadikan bagiku dan umatku menjadi masjid dan alat bersuci (tayammum).Oleh karena itu, di mana saja seseorang dari umatku menjumpai waktu shalat, maka di tempat itulah ia mengerjakan shalat danbersuci (bertayammum)”.

 

Hadits di atas menjelaskan, bahwa Allah SWT menjadikan bumi seluruhnya sebagai tempat yang sah untuk mengerjakan shalat dan alat untuk bersuci (bertayammum) tanpa membedakan sebagian dengan sebagian lainnya.

 

  1. Sahabat Abu Juhaim menceritakan, suatu ketika Rasulullah SAW dijumpai seorang laki-laki di suatu Kemudian laki-laki itu memberikan ucapan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak segera menjawabnya hingga beliau menghadap ke dinding sumur lantas bertayammum dengan menyapu muka dan keduatangannya. Sesudah itu, barulah beliau menjawab salam laki-laki tersebut.[4] Hal itu menunjukkan, bahwa tayammum boleh dilakukan di mana saja, termasuk di dinding sumur yang tidak jelas ada debu tanahnya. Dengan demikian, tayammum juga boleh dilakukan di dinding-dinding pesawat atau jok-joknya.

 

 

  1. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah/2 ayat 115 :

 

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (١١٥)

 

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah, 2:115)

 

  1. Seseorang yang menjalankan shalat di atas kendaraan –termasuk di dalam pesawat terbang- sungguh pun dengan tata cara yang tidak sempurna, sudah dinilai sah, sehingga tidak diwajibkan mengulang (i’adah) shalatnya lagi sesudah mendarat di daratan. Sebagaimana telah disebutkan oleh Prof. Dr. Wahbahaz-Zuhaili dalam kitabnya, Ali-Fiqh al-Islami Wa-Adilatuhu, sebagai berikut:[5]

تجوز صلاة الفريضية فى السفينة و الطائرة و السيارة قاعدا ولو بلا عذر عند أبي حنيفة و لكن بشرط الركوع و السجود

 

“Menurut Imam Abu Hanifah diperbolehkan (sah) melaksanakan shalat fardlu di dalam perahu, pesawat terbang atau mobil dengan duduk meskipun tanpa ada ‘uzur dengan syarat shalat tersebut dilakukan dengan ruku’ dan sujud”.

 

  1. Menurut Madzhab Hanafi, satu kali tayammum dapat dipergunakan untuk beberapa shalat fardhu dan shalat sunnah sepanjang belum Menurut Madzhab Hambali, satu kali tayammum dapat dipergunakan untuk beberapa shalat fardhu dan shalat sunnah sepanjang belum batal dan masih dalam satu waktu shalat. Dengan demikian, tayammum satu kali dapat dipergunakan untuk shalat jama’ Zhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan ‘Isya. Menuru tMadzhab Syafi’I dan Maliki, satu kali tayammum hanya dapat dipergunakan untuk melaksanakan satu kali shalat fardhu dan beberapa kali shalat sunnah. Dengan demikian, setiap akan melaksanakan shalat fardhu, termasuk shalat yang dijama’ harus bertayammum lagi.[6] Berhubung shalat di dalam pesawat terbang termasuk dalam kondisi darurat, maka Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta memilih pendapat yang paling mudah, yaitu pendapat Madzhab Hanafi atau MadzhabHambali.

 

Jakarta, 12Dzulqa’dah 1420 H.

18Pebruari 2000 M.

 

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

 

Ketua,

 

ttd

 

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,

 

ttd

 

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

 

Ketua Umum,

 

ttd

 

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,

 

ttd

 

Drs. H. Moh. Zainuddin

 

[1]Wahbahaz-Suhaili, Al-Fiqh al-IslamiWaAdilatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), juz ke-1, hal. 433-434.

[2]Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), juz ke-1, hal. 51

[3]Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1978), juz ke-5, hal.248, no. 22190.

[4]Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari SyarhShahihBukhari, (Beirut: Dar al-Makrifat, 1379), juz ke-1, hal. 442.

[5]Wahbahaz-Zuhaili, op.cit.,juz ke-2, hal. 54.

[6]Ibid.,juz ke-1, hal. 413-414.

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of